Sunday, January 3, 2016

Telling the Truth

Aku duduk lama di Main Square Aguas Calientes, memandangi orang-orang yang lalu lalang. Mereka duduk menunggu, mereka mengobrol dan mereka berfoto dengan berbagai macam gaya. Agak sedikit kelelahan saat ini. Katanya, saat orang lelah, pada saat itu lah mereka berkata jujur

Di setiap foto-foto yang diambil oleh para tourist, traveller, backpacker etc, punya cerita dibaliknya. Di balik foto yang saya ambil, memiliki cerita. Foto hanyalah 5% dari kisah dalam perjalanan saya. Sebagian kecil kisah mempertontonkan indahnya, bagusnya destinasi yang sudah saya lalui Dan bagaimana dengan 95% nya? bagian besar dari kisahnya. Sangat brutal kawan. Kisah yang brutal ini lah yang akan saya bawa dalam kisah hidup saya. saya ingin menuliskan secara detail. tetapi, setiap orang, butuh waktu untuk menceritakan kejujuran kan? Mungkin, saat saya sudah tidak babak belur lagi gara-gara kisah perjalanan yang saya tempuh, mungkin jika memarnya sudah hilang, saya akan menulis cerita panjang. Tentang ribuan mil, jutaan langkah yang telah saya lalui dalam kesendirian perjalanan. Tanpa drama, tanpa kiasan, hanya kebenaran. Saat ini saya merasa malu bercerita tentang air mata dan kesepian juga penolakan, mengingat saya pernah bertemu lelaki tangguh ditengah malam di Goreme Turkey. Lelaki yang terlihat cacat, berjalan mengangkat kepala, menembus malam, sendirian.
Selengkapnya...

The Snows in Kilimanjaro

Hola, I write this blog From Aguas Calientes, Peru. Do you want to know how does it feel? being alone, somewhere in South America. Being alone in Machu Picchu?

No one should be alone. Everyone should have someone to go with, to laugh together, to cry together, to travel together. It is rough journey. Di akhir 2015 dan diawal 2016, Aku menghadapi apa yang disebut menua dan realita hidup yang sebenarnya. Bocah belasan tahun sudah jauh disana, lelaki muda 20 tahun telah tertinggal dibelakang. Apa yang dulu aku besar-besarkan dalam kata-kata, hanyalah sekedar 'kata-kata' Aku mulai melihat banyak hal yang terlewatkan sebelumnya, mulai dari keluarga. Memikirkan betapa naive, betapa kekanak-kanakannya pemikiran tentang keluarga yang sempurna. 2016 adalah tahun aku ingin belajar memaafkan, belajar menerima dan belajar hidup yang lebih dewasa dan bijaksana, belajar untuk bahagia.
Selengkapnya...