Thursday, January 16, 2014

Prag

Saya hampir tertidur ketika seseorang mengetuk dan masuk secara canggung kedalam kamar hostel tempat saya menginap. Kamar hostel ini di setting dengan 4 tempat tidur, baru terisi saya dan traveler dari Korea. Dia masuk dan bertukar sapa, meletakkan barangnya. Dalam 15 menit basa-basi, saya terhenti pada pola, kami memiliki banyak persamaan.

Mungkin karena dia terdidik sebagai jurnalis, maka dia tidak bisa berhenti bertanya dan mengomentari. Dia menyukai film-film Woody Allen yang mengantarkan saya pada pengalaman, "Midnight in Prag". mengeja setiap sudut Old Town Square, merasakan tenggorakan yang disentuh beer khas Prague, menyebrangi Charles Brigde diantara malam dan patung-patung masa lalu.

Pada malam itu, hingga pada saat ini, pertemuan saya dengan dia membuat saya tahu, pada kerapuhan saya dan pada betapa apa yang selama ini saya cari, saya kejar, saya impikan, ada dihadapan saya, bersampingan dengan saya, sangat dekat.

Tetapi, saya tidak bisa.

Ada ribuan kata yang saya ucapkan, tak ada satu kata yang dapat meraihnya. it's written. Itu sudah tertuliskan.

Selengkapnya...

Wednesday, January 15, 2014

Amsterdam, Amsterdam

Sore setelah jam kantor selesai. Saya sudah mengingat ini dari beberapa bulan, beberapa minggu, beberapa hari yang lalu.

Saya teringat ketika saya hampir putus asa di Amsterdam, saya menyemangati diri saya untuk berjalan lurus selesai check-out dari tempat saya menginap, saya menyemangati diri saya, bahwa Amsterdam akan berakhir hari ini, saya akan memiliki hari baru di Jerman.

Metro Bus yang saya tumpangi yang saya tumpangi menuju Amsterdam Central Station melewati Anna Frank house, saya tersenyum lemah, mengingat antrian panjang dihari bergerimis sebelumnya. maybe next time Anna. Mata saya terus mengarah keluar jendela, mengamati setiap jengkal jalan-jalan Amsterdam yang saya lewati.

Tanpa mengetahui apa sebab-nya, tenggorokan saya terasa tercekik, ada perasaan yang tidak menyenangkan dalam rongga dada saya, kepala saya dibayangi masa-masa tidak menyenangkan. Saya melepaskan mata saya dari arah jendela ke arah depan bus. Mata lelah saya bertemu dengan sosok yang berdiri canggung di sudut berlawanan dengan tempat duduk saya. Sesaat saya tidak tahu, apakah saya ingin menahan padangan mata saya, atau mengalihkannya. saya seperti terperangkap.

Mata rapuh itu menatap lurus ke arah saya dengan mata yang sedih tanpa harapan, melihat tatapan matanya, saya seperti diputarkan film tentang kehidupan saya dan dia secara bersamaan, di bagian tergelap dan terberat. tenggorokan saya semakin kering, saya melemparkan pandangan saya kearah jendela, merapatkan earphones, berusaha merubah lagu penuh drama "Make You Feel My Love"

Tapi pandangan mata dia terus mengejek isi kepala saya, mengantarkan tatapan saya kearah dia lagi, kedua kalinya. saya tertunduk dan meneteskan air mata.

Selengkapnya...