Thursday, October 9, 2014

Rest

Malam sebelumnya, melalui media sosial online, saya memandangi foto kamu. lama sekali. antara kangen, merasa kalah dan menyerah. Mengingat kembali hari-hari dimana saya pikir, saya bisa memenangkanmu seutuhnya. Mengingat berapa banyak pintu tertutup karena kesalahan saya dalam menanggapi beberapa hal. dan malam sebelumnya, sambil memandangi wajah kamu di foto yang penuh senyuman. saya ikut tersenyum.

Malam ini, empat meter jaraknya, saya melihat kamu, saya menundukkan kepala, dan saya kita bertemu mata, saya tidak terlalu mendengar kamu mengatakan apa, saya hanya bisa bersapa pendek, "ah, halo" sambil berlalu.

Malam ini adalah malam, dimana saya menunggu kesempatan bertemu dengan kamu, merancang banyak drama, ketika bertemu, saya akan memandangimu dengan tatapan penuh makna, memberi senyuman terbaik yang menyampaikan cerita bahwa kamu masih selalu disana, selalu dihati saya, saya akan selalu jadi lelaki milikmu, pria yang selalu merindukanmu.

"Ah, halo"

Dalam email-email saya, ketika saya sulit menggapai kamu, penuh berisikan kata pengharapan, kata yang masih ingin dan selalu mempertahankan kamu.

Saya banyak membaca buku-buku romantis, menonton film-film drama romantis, tapi saya tidak dibesarkan dan menjadi tua dengan kata-kata romantis. Sesaat saya melihat kamu, saya teringat apa yang kamu inginkan, apa yang kamu sampaikan, semua hal rumit yang ada dalam kepala saya menjadi uraikan logis, dan hati melepaskan kepahitan, sehingga terasa lapang.

Di titik ini, saya tidak ada mengatakan apa-apa lagi, karena saya tidak ingin ada pembicaraan yang akan berakhir pada pengharapan dan penolakan. Kamu sudah memilih, saya sudah memilih untuk tidak memperlihatkan lagi permohonan dan pengharapan.

Mari kita berjuang untuk bisa bahagia dijalan kita masing-masing.

Tuhan yang baik, mengirimkan penggantimu berupa mimpi yang lain, mimpi yang lugu, yang selalu saya cita-citakan.

Related Post



No comments:

Post a Comment