Monday, May 5, 2014

Deru

Ketika kita mendengar kabar buruk, ada dua kemungkinan, kita bersikap denial tidak perduli atau eksplosif. Saya mendengar kabar buruk, saya mengatakan kediri saya sendiri kalau saya tidak peduli. Saya tidak mau tahu, saya sudah cukup selama ini, dan kali ini saya tidak mau tahu. Saya marah. Saya menyalahkan Ibu, kenapa Ibu selalu sakit? Lagi dan lagi. Kenapa Ibu tidak menerapkan pola hidup sehat? Kenapa Ibu tidak belajar untuk menghargai diri sendiri dan mengesampingkan segala omong kosong dirumah tempat Ibu tinggal? Saya marah. Saya tidak peduli. Ada banyak saudara saya yang bisa mengurusnya. Kabar itu datang dimalam hari. Setelah saya mengirimkan pesan singkat ke saudara lelaki saya, saya mematikan handphone saya. Saya tidur.

Menjelang pagi, saya mendapat pesan singkat, Ibu saya dilarikan kerumah sakit. Saya kembali telpon Kakak saya, suara dia terdengar lelah tapi dia memberi kabar Ibu sudah mulai membaik. Saya tidak terlalu mendengarkan, saya mengikuti acara ceremonial kantor. Saya tertawa, saya tersenyum, saya bergaya, saya makan siang dengan teman saya. Hari saya normal dan biasa. Tidak ada apa-apa.

Pulang ke kantor, saya bercanda dengan teman-teman kerja saya. Saya tertawa, saya tersenyum, saya membicarakan rencana-rencana dan program. Bos saya mengingatkan kalau saya harus membuar Workplan Q2. Deadline-nya sore hari. Oke kata saya. Saya membuka matrikulasi workplan. Saya mengetik kalimat-kalimat, rangkaian program yang akan saya kerjakan dibulan-bulan berikutnya. Saya merasa haus, saya ke pantry, saya berulang-ulang kali membuat kopi. Dada saya terasa berat.

Saya tidak bisa melanjutkan apa yang saya ketik di komputer saya, saya tidak tahu rangkaian apa yang ingin saya tuliskan di workplan saya. Saya keluar ruangan, menelpon Kakak saya lagi, bertanya siapa yang dirumah sakit. Dia bilang kakak perempuan saya sedang bersama Ibu. Saya bertanya kemungkinan dia keluar dari rumah sakit, besok kata kakak saya. Saya teringat rencana liburan mama dengan saudara-saudari saya 4 hari dari sekarang. Saya bingung tentang tiket yang sudah saya beli. Dada saya terasa berat. Saya menanyakan ruangan tempat Ibu dirawat inap, Ruang Dahlia kata kakak saya.

Saya mencari nomor telp di kontak HP saya, saya menelpon teman saya, berharap dia lagi bertugas dirumah sakit tempat Ibu saya dirawat. Hampir setahun saya tidak menghubungi dia, kami sejarah panjang. Saya mengatakan saya butuh pertolongan dia untuk dapat menge-check kondisi Ibu saya. Saya selalu percaya padanya. Dia berkata dia sedang off tidak bertugas, dia akan masuk esok hari. Dia menanyakan nama Ibu saya. Kemudian beberapa menit kemudian, dia mengirimi saya pesan singkat mengenai penyakit Ibu saya yang ada gangguan lambung sehingga sel darah putih dia meningkat dan gula darahnya agak tinggi. Gangguan lambung katanya, penyebabnya diantaranya pola makan, infeksi virus, bisa juga tumor dilambung katanya. Mengingat usia Ibu kamu, katanya, juga perlu waspada ada penyakit jantung yang bermanifestasi dengan gangguan lambung. Pastinya, butuh pemeriksanaan lebih lanjut dan menyeluruh.

Tahap ini, ada yang terasa berat dan kosong dalam rongga dada saya. Saya tidak tahu, saya ingin menangis. Saya tidak tahu, saya merasa tidak memiliki tenaga apa-apa. Berulang-ulang saya katakan, bahwa saya tidak mau mengingatnya.

Berulang-ulang saya katakan, hari saya normal. Berulang-ulang saya katakan, bahwa saya tidak peduli. Dan saya tidak ingin kerumah sakit, bahwa saya tidak berani. Saya takut, saya tidak berani.

Memiliki 5 saudara laki-laki dan saya adalah yang terakhir, bungsu. Dulu saya beranggapan bahwa saya lah yang paling kuat, tough diantara semua semua saudara-saudara lelaki saya. Tetapi, saya hanyalah bungsu manja yang tidak tahu apa-apa. Saya selalu lari dan menghindar ketika harus berhadapan dengan hal keluarga. Saya penakut dan selalu bersembunyi. Saya tahu, keluargalah yang paling gampang mematahkan hati saya.

Saya sudah cukup tua, saya tahu kepedihan hidup, saya tahu bagaimana belajar untuk tegar dan menerima. Tetapi saya sangat tidak pintar dalam melepaskan sesuatu. Ibu saya adalah langit yang menaungi saya, bumi tempat saya berpijak. Jika terjadi apa-apa pada Ibu, saya takut saya belum siap, saya akan dihantui kehampaan yang mengambang.

Saya ingin bercerita banyak, saya ingin jujur.

Related Post



1 comment: