Sunday, November 25, 2012

The New Life

Mungkin asyik kali ya kalau kita punya kehidupan baru, ditempat yang baru dan memulai segalanya yang serba baru. punya kenalan baru, teman-teman baru, gaya hidup baru, punya sifat baru, dunia baru. terkesan kesepian kali ya, tapi kalau ditempat baru ini kita bisa hidup lebih jujur, mungkin itu worth it lah untuk diperjuangkan. tapi tentu saja, tidak mudah mendapatkan kehidupan baru, tidak gampang untuk melompat, tidak gampang untuk meninggalkan comfort zone, tidak gampang memulai sesuatu yang baru, terutama diusia yang sudah tidak terlalu baru. saya kira seperti itu.

Woww, kalau dipikir-pikir, ada banyak sekali ironi dalam hidup ini. ada banyak drama, dan saya lupa kapan terakhir kali saya menulis drama dalam journal saya.

Saya memikirkan "Seribu Kunang-kunang Di Manhattan" karakter si tokoh utama menempel dikepala saya, saya tidak bisa berhenti berpikir, mengira-ngira, ending seperti apa yang akan dia dapatkan, karena Umar Kayam hanya memberi sepotong kisah drama yang tidak dia akhiri dengan pasti (karena dia sendiri saya yakin, tidak benar-benar tahu akhirnya akan seperti apa)

Mungkin percakapan Marno dan Jane, terlalu dramatis dan tidak realistis dalam cerita itu, tetap apa yang dirasakan Marno itu real. Saya kira, saya benar-benar memahami kehidupan Marno, antara kunang-kunang yang dia lihat maupun Scotch yang dia teguk. Dia tidak akan pernah bisa merasa utuh karena dia hidup dalam dua dunia, dalam dua sisi kehidupan. Saat dia di salah satu sisi hidupnya, dia akan merindukan sisi yang lain. dan selamanya, Marno akan hidup dengan membawa salah satu ruang kosong.

(Kadang saya pikir, hidup akan jauh lebih sederhana, simple, jika hanya mengenal satu model kehidupan yang bulat dan utuh, lahir di pola tersebut, besar dipola tersebut dan mati di pola tersebut)

Saat saya membaca Seribu Kunang-kunang Di Manhattan, sang penulis Umar Kayam sudah almarhum. itu ditahun 2004 saya membaca cerita ini, dan sampai saat ini, saya tidak terlalu mengenal sejarah Umar Kayam, yg dulunya dosen di UGM. saya tidak terlalu berpikir pada saat itu, kenapa dia bisa sampai dicerita dan ditokoh Marno?

Saya 16 tahun pada saat mengenal Marno, ketika pada bagian akhir Marno membuka hidupnya yang lain, hati saya bilang, "Tinggalkan seribu kunang-kunang di Manhattan-mu" tapi anehnya, pada saat itu saya merasa saya begitu familiar dengan Marno, begitu mengenal dia, tanpa menyalahkan dia sama sekali, dan saya duduk di bangku Marno menatap luar jendela, mengetahui bahwa dia tidak akan beranjak.

Marno tetap akan berada disana, memandangi kunang-kunang di Manhattan.

Saat saya memikirkan kehidupan yang baru, apakah itu pilihan atau pun ketentuan, atau saat saya membagi-bagi kehidupan dan cerita-cerita saya

Saya selalu di hantui Marno



25/11/2012
Selengkapnya...