Saturday, January 7, 2012

CRAZIER


Memikirkan test beasiswa bulan depan membuat kepala hampir meledak-ledak, dengan isi beruntaian (itu pun kalau kepala saya ada isinya). sepertinya sepanjang karir pendidikan saya akan dihantui soal test-test beasiswa. Lulus SMA tahun 2005 dulu, tak ada yang lebih bikin jantung hampir jatuh, bulan Juli jadi berasa panjanggg sekali, situasi waktu itu cukup terkendali dengan sikap pede dan optimis saya yg tingkat tinggi bakal lulus, ya ya ya, waktu itu soal yg dites kan memang bisa saya selesaikan dengan baik, dan waktu keluar pengumuman saya keterima beasiswa, rasanya saya mampu melompat melebihi bos kangoroo

Nah, kemudian ketika ikut tes beasiswa ke-2 untuk melanjutkan kuliah lagi ke Bandung, waktu itu tidak lebih hanya seperti pertandingan yang sangat tidak berimbang, God knew what happened that day. siapa saja yang duduk dikursi panas, alhasil, ketika diurutkan dipapan billing internet, nama saya terlembar jauh dibawah

Tapi, internet yg memajang pengumuman itu hanya lah sebuah tools, Tuhan yang memegang kendali, Dia melemparkan keberuntungan kepada saya, Bang Bang Bang, saya mendapatkan sponsor yang benefitnya jauh lebih tinggi dari penerima beasiswa lainnya. absurd bukan? tapi itu lah yang terjadi



Hidup saya akan menjadi sangat mudah, sederhana sebenarnya. tidak akan ada yg ribet atau bahasa bencongnya rempong lah. jika seseorang yg besar menginginkan sesuatu yg besar, of course itu bukan suatu masalah besar, tetapi bagi seseorang yang seperti saya menginginkan sesuatu yang besar dan membuat perbedaan, disini lah saya, dengan benturan masalah. dilema klasik :

Antara impian dan kenyataan

Kalau membicarakan suatu impian, kok rasanya omong kosong ya, kayak seperti angan-angan kosong, atau hanya kayak pujangga yg memiliki ribuan puisi indah tapi pada kenyataannya kisah cintanya tidak pernah bisa bersatu atau happy ending (tahukah anda kalau saya sedang menyinggung penyair besar yg dinamai Khalil Gibran, wkwkwkwkwk) tapi, tentu Khalil Gibran tidak akan menjadi penyair besar klo dia memiliki kisah yg sempurna atau happy ending, kenapa? dari ekplorasi luka dia lah menghasilkan jutaan kata indah yg penuh makna.

Kembali soal masalah saya, Nah, saya jatuh cinta dengan apa yang ada dalam kepala saya ini semenjak saya kelas 1 SMA sampai jadi tua bangka seperti sekarang ini, saya tidak bisa melupakannya. sekitar dua tahun yg lalu, ada lah percobaan saya yg pertama, tapi gagal, hasilnya, saya mengerti prosedurnya. nah, bulan depan nanti, saya yg menganggap diri saya sudah mengerti prosedur, sekarang mau kembali mencoba.

Sejujurnya, jika hanya mengandalkan diri saya saja, kondisi otak saya yg pas-pasan (untung saja kondisi hati saya ngak pas-pasan, hati saya itu tidak rapuh coy untuk ukuran makluk pribumi Indonesia) peluang saya untuk lolos seleksi suangat kecil.

Mengingat peluang saya yang sangat kecil, saya pun berteriak2 seperti pasien rumah sakit jiwa, bolak-balik melihat phonebook di hp berharap menemukan nama teman pas buat ditelpon untuk sekedar curhat melampiaskan segala kegundahan hati dan kelebaian yg tersisa, dan sayangnya tidak ada karena saya pikir tidak akan ada yg enjoy mendengar lelaki tua bangka berkeluh kesah. yah, face it sendiri saja lah.

Anehnya, saya tidak bisa mundur, Test beasiswa ke Bandung bertahun2 lalu mengingatkan saya, kalau saya tidak boleh mundur. test bulan depan ini hanya memperjuangkan selembar kertas yg nantinya bisa merubah puluhan tahun hidup saya kedepannya (jika saya berubur panjang)

Yang mengisi kertas tersebut adalah manusia, manusia adalah ciptaan Tuhan, jika Tuhan diatas sana mau, Dia bisa melemparkan sejuta rejeki keberuntungan, hasil keteguhan hati saya untuk tetap bertahan

Yang bisa membuat saya lolos, yang membuat saya mampu melangkahi benua dan samudra dengan tinggi badan saya yg hanya 165 Cm yang artinya langkah lebar kaki saya ngak bakal lebih dari 1 meter.










---------------------

Related Post



No comments:

Post a Comment