Monday, December 5, 2011

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan


"Bulan itu ungu, Marno."
"Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?"
"Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?"
"Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?"
"Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-ng-u! U-ng-u! Ayolah, bilang, ungu!" (Seribu Kunang-Kunang di Manhattan)

Pernah membaca cerpen Umar Khyam, "Seribu Kunang-Kunang di Manhattan"? kelas 2 SMA saya membaca cerpen itu, cerpen pertama buatan orang Indonesia yang menyisakan ruang kosong dihati saya hingga saat ini.



"Marno, Manisku."
"Ya, Jane."
"Bukankah di Alaska, ya, ada dapat menyuguhkan istri kepada tamu?"
"Ya, aku pernah mendengar orang Eskimo dahulu punya adat-istiadat begitu. Tapi aku tidak tahu pasti apakah itu betul atau karangan guru antropologi saja."
"Aku harap itu betul. Sungguh, Darling, aku serius. Aku harap itu betul."
"Kenapa?"
"Sebab, seee-bab aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan di Alaska. Aku tidak maaau."

Lelaki dalam cerita itu terasa dekat dengan saya, begitu juga wanitanya, seperti pernah berjalan dan bercerita diwarung kopi, diketeduhan bawah pohon dengan saya. mereka berdua seperti pernah memiliki kisah yang dapat mematahkan hati saya, yang membuat malam saya terasa panjang dan dingin, memiliki sudut-sudut runcing yang tajam.

Sepanjang kisah dicerita ini, ada rongga-rongga menganga, rasa cinta yang jauh, kehampaan yang tidak berdasar sama sekali. juga kerinduan yang tidak akan bisa dijumpai sama sekali, tidak dapat dipertemukan. Inilah kenapa cerita ini begitu istimewa, karena ini fiksi dewasa yang pertama kali saya temukan, ketika saya membacanya, saya seperti dipaksa, diseret kedalam kehidupan dewasa yang rumit dan penuh ketidakpastian. waktu itu saya terlalu muda untuk dapat memahaminya, tetapi saya tahu, saya tidak akan pernah lepas dari kisah, "Seribu Kunang-Kunang di Manhattan"

Menjadi cerita bayangan, disepanjang hidup saya
........

"Aku sedang enak di jendela sini, Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana."
"Kunang-kunang?"
"Ya."
"Bagaimana rupa kunang-kunang itu? Aku belum pernah lihat."
"Mereka adalah lampu suar kecil-kecil sebesar noktah."
"Begitu kecil?"
........





"Pernahkah kau punya keinginan, lebih-lebih dalam musim panas begini, untuk telanjang lalu membiarkan badanmu tenggelam dalaaammm sekali di dasar laut yang teduh itu, tetapi tidak mati dan kau bisa memandang badanmu yang tergeletak itu dari dalam sebuah sampan?"

Related Post



No comments:

Post a Comment