Wednesday, November 30, 2011

Kisah Cinta yg Kita Khianati


ehm

(katakan lah pengaruh hujan, saya menulis ini dengan tangan sedikit bergetar, bukan kenapa-kenapa, saya terlalu banyak minum kopi yang berkafein kuat)

lihat lah, kita bener-benar tumbuh menua sekarang. kadang saya sedikit bertanya-tanya, apakah saya menjadi seorang yg sudah cukup baik? apakah saya bagus dalam pekerjaan saya? apakah keluarga saya sudah merasa bangga tentang saya? dan lihat lah kamu di sebrang sana. dimata saya, kamu telah memiliki segalanya.



Pernah saya menulis surat panjang yang tidak pernah saya kirimkan bertahun-tahun lalu. pernah saya memikirkan kamu dengan begitu banyak kemungkinan, pernah terpikirkan untuk saya, bahwa kita akan memiliki akhir yang baik, dalam segala episode, dalam segala musim, dalam segala hari

Tapi kemudian, waktu tidak bisa menunggu. dan buruknya lagi, rasa hati tidak bisa menipis. terlalu dini jika saya mengatakan, bahwa kamu lah hal yang terbaik yang pernah datang dalam hidup saya. hanya saja, kamu juga lah yang menjadi kisah renta menua dalam ego. yang kemudian berhenti dalam musim, bulan, hari dan jam yang tak bisa saya hadiri

KITA, menjadi kata yang jauh, sekarang hanya ada SAYA. Kamu sudah diujung sana, memunggungi, tak ada waktu lagi yang bisa membuat saya memintamu kembali, dan saya hanya bisa menangkapmu dalam sudut mata saya, menciptakan bayang-bayang disetiap sudut hidup saya

Saya bisa menerima sebuah akhir, ketika saya menulis sebuah memorial, saya hanya menghentakkan bagian dari diri saya untuk mengingat, tanpa ada penyesalan sama sekali. semua hanya lah seperti episode drama yang pernah saya tonton. saya disajikan sebuah akhir, yang tidak bisa saya lupakan. saya ingat, dan mengalir dalam darah, menjadi bagian kisah hidup saya

Kamu, saya, pantas untuk bahagia, sekalipun kita tidak ada jalan untuk bisa bersama. karena Kamu, saya hidup dengan sepenuh hati, belajar mengenali, belajar mencari, belajar menyembuhkan luka hati, belajar mengkhianati dan meluruskan kembali.

Saya akan selalu ingat, ketika saya bertemu kata "Canyon" yang membelah Colorado

Related Post



2 comments:

  1. Knock-knock....hai mas...numpang baca kisah-kisah yg di blognya mas...ya...aku suka gaya bahasa kamu...ya...walaupun kadang-kadang terlalu mellow untuk ukuran seorang lelaki...dan kesannya sptnya terlalu complicated banget ya.....salam kenal ^^

    ReplyDelete
  2. i envy whomever you wrote this for
    for i know it won't be me

    ReplyDelete