Monday, July 25, 2011

LEGACY


We all have our time machines, don't we. Those that take us back are memories... And those that carry us forward, are dreams. (Uber-Morlock : The Time Machine)

For many years, I have been intending to write something related to small stories of life. Last afternoon, I went to Library and borrowed books. Salah satu buku yang menarik perhatian saya adalah Legacy of Ashes: The History of the CIA written by Tim Weiner (He won the 1988 Pulitzer Prize for National Reporting as an investigative reporter at the Philadelphia Inquirer). Buku tersebut, di alih bahasakan secara menggebu-gebu, berapi-api oleh Agustinus Purwanta, jadilah buku terbitan Gramedia tersebut berjudul “MEMBONGKAR KEGAGALAN CIA, SPIONASE AMATIRAN Sebuah Negara Adidaya”. Tak ketinggalan diberi taqline pada cover, “Buku yang Akan Mengubah Pandangan Anda Terhadap CIA”. Jadilah acak kadut seperti iklan jamu yang diberi bumbu politik khas Indonesia. Kenapa tidak diberi aslinya aja sih? Jadilah buku 832 pages itu berkesan fiksi karena terlalu diberi judul WAH oleh Indonesia Version. Legacy of Ashes: The History of the CIA (Warisan Abu : Sejarah CIA), saya rasa itu judul yg kuat mengingat buku ini dipenuhi oleh literatur yang memadai.



Oke, Books, ah, I almost forget about The Books. When I was young I read everything that I found it. Pernah dulu saya sampai menyurati seorang teman yg di Jakarta untuk memberi saya copy atas buku yg dia menangkan dalam lomba menulis review, dan teman yang baik hati ini mengirimkan saya copy bukunya, “PADANG KARAMUNTING DI BUKIT KECIL Seri 1” Karangan Tartila Tartulisi. Ya, saya pernah besar di Padang Karamunting, pohon berdahan kecil, berkulit cokelat tua, dengan bunga berwarna ungu cerah. Dan mungkin karena saya juga sewaktu kecil sering berlari dipadang Ilalang, saya menyukai buku Nh. Dini “Padang Ilalang Di Belakang Rumah”

Cerita pendek “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” mengalahkan semua syair manis yg ditulis Gibran. Cerita pendek itu nempel dikepala saya, saya hafal semua kekosongan dan kegelisahan di bagian akhir cerita tersebut. Itu lah masa SMA saya, saya menyukai kemewahan kata-kata yang dirangkai dengan imajinasi dan kecerdasan. Saya bahkan berkutat di syair Rumi tanpa paham sama sekali isinya. Saya menyukai pola pikir si orang Jerman, Friedrich Nietzsche “Be careful when you fight the monsters, lest you become one.” Atau yg bikin saya ngakak sendiri, dia bilang, “In truth, there was only one Christian, and he died on the cross”, Mengingat dia pernah Campaign against Morality.

Buku filsafat terkuat yang mempengaruhi saya dimasa SMA itu, Thick Face, Black Heart: The Warrior Philosophy by Chin Ning Chu. Novel teromantis yg pernah saya baca Nicholas Spark – A Walk To Remember. Epic imajinasi terkaya yg tidak bisa saya lupakan itu Epic Harry Potter dan ya, Wiro Sableng by Bastian Tito (saya sempat kehilangan arah ketika mengetahui Bastian Tito sudah R.I.P tanpa menamatkan sang Pendekar 212). Ernest Hemingway pernah menjadi nama besar dalam kepala saya, kenapa dia bisa bunuh diri setelah dia menulis buku yg memenangkan nobel sastra, The old man and the sea, buku itu terlalu bijaksana untuk bisa ditulis oleh seorang yg akan bunuh diri nantinya. Sampai kemudian saya mengenal literature dari Wikipedia baru saya bisa memahaminya.

Saya menyukai Tree of life, karena itu saya menyukai buku dan film. Ketika seorang pernah bertanya, “Siapakah tokoh yang mempengaruhi hidup saya, pola pikir saya?” saya tidak tahu. Saya mencantumkan “Shinawarta” tapi sebenarnya saya tidak telalu menginginkan hal besar. Saya menikmati hal-hal kecil, saya kira saya orangnya sederhana. Saya suka mempelajari kehidupan, belajar tentang ranting-ranting kehidupan, karena itu buku dan film menjadi bagian dari pertualangan proses belajar saya.

Related Post



No comments:

Post a Comment