Tuesday, May 3, 2011

BERTAUT

Phase 525
May 3rd, 2011. 11.28 PM

BERTAUT
Ketika kita melihat ‘tentang kita’ dibelakang, kita kadang menemukan pribadi yang berbeda, kadang, bisa juga masih tetap sama. Ada yang berubah begitu cepat, ada yang berubah lambat dan ya, ada yang kadang tidak berubah sama sekali.

Dulu sekali, saya terbiasa, diwaktu luang saya, menulisi jurnal, tentang saya, saya dan saya. Saya melihat, kadang semua tulisan itu, setiap phase, panjang atau pun pendek, terselesaikan. Dulu sekali, sewaktu saya masih di Jogja, suasana Jogja membuat saya banyak menulis hal-hal dramatic, kadang berisi kejujuran, kadang hanya berisi pengakuan yang tanpa komitmen apa-apa. Saya hanya berkata-kata. Kehidupan saya begitu ramai saya tuliskan. Terkait dengan kebiasaan saya dari SMP, seperti menulis puisi, berlangsung hingga SMA. Memang, saya tidak bisa memahami sebuah puisi dengan sangat mendalam. Saya hanya membaca saja dan saya hanya tertarik dengan kata-kata, seperti untaikan kata Djoko Damono yang apa-adanya, seperti Khairil Anwar yang kata-katanya berteriak menjerit, seperti Gibran yang kata-katanya setengah berbisik. Itulah pemikiran saya.

Dan kata-kata yg saya tuliskan, yang belajar untuk bercerita.


Ketika saya melihat diri saya melalui tulisan yang saya buat sekitar 8, 7 dan 6 tahun yang lalu. Dan bahkan ada yang 10 tahun yang lalu, disana saya seperti melihat seseorang yang memiliki mimpi dan tidak benar-benar mengenali sedang berpijak dimana. Seperti sebuah patung, yang hanya bisa menatap satu arah, melihat satu arah, karena dengan hanya satu arah tersebut dia terlihat kokoh dan berbeda.

Dan mungkin juga, hanya seperti kalong senja, menuju merah cahaya matahari, bertahan menyebrangi siang juga malam. Seperti terbang dalam satu nafas, tanpa ada perhitungan sekali, bahwa bisa jadi ada penembak yang membuatnya terjatuh tanpa kata-kata.

Jika dulu, saya memiliki banyak kata-kata tentang apa yang ingin saya perjuangkan dan dapatkan, sekarang saya bermain dalam kata pengorbanan. Saya berpura-pura tidak perduli tentang pengorbanan, bahwa hanya aka nada saya dan saya, bukan orang lain. Saya tidak pernah benar-benar berkorban sesuatu karena saya piker tidak ada yg benar-benar berkorban untuk saya. Tetapi, sekarang saya melihat, bahwa saya tidak lebih hanya sebuah tumpukan omong kosong, yang berjalan dengan dagu terangkat, seperti seorang yg terhormat, tanpa sebuah kepantasan.

Saya mulai mempertanyakan kebanggaan saya sudah saya letakkan dimana? Atau kah saya sudah tidak memilikinya sama sekali? Jika ya, maka saya sama sekali tidak berharga.

Benar saya terlalu tua untuk memperdebatkan sebuah penyangkalan atau penerimaan, ataukah keduanya. Saya mengenali proses dan pertempuran saya, saya tahu jangka waktu dalam semua permainan yang ada. Saya hanya perlu mendapatkan kartu yang hilang, bukan kartu keberuntungan, tapi kartu yang bertuliskan “minat & keseriusan”. Jika ya, saya sudah dapatkan, saya hanya perlu mengambil waktu saya, belajar dan bekerja keras. Tidak perduli berapa ribu hal yang mengikat kaki dan tangan saya, entah dari masa lalu atau bekas luka yang pernah ada, ketika saya bertemu minat dan keseriuasan, saya akan menemukan keteguhan hati saya, saya akan belajar dan bekerja keras. Dan pada akhirnya saya akan mendapatkan kartu “happy ending”. Itu jika saya bisa menemukan kartu yang hilang.

Related Post



No comments:

Post a Comment