Sunday, January 23, 2011

Hello, Goodbye

"when i was younger i saw
my daddy cry
and curse at the wind
he broke his own heart
and I watched
as he tried to reassemble it
and my momma swore
that she would
never let herself forget
and that was the day that I promised
I'd never sing of love
if it does not exist"

-The Only Exception

Ketika saya mulai mempertanyakan kehidupan saya? Kejujuran dan kebohongan saya, masa depan dan semua cita-cita saya, saya berada dalam bola bulat yang menggelinding, saya merasa pusing dan hampir muntah.

Saya tahu saya termasuk orang phobia jalan darat, sebab suka mabukan.

Hal yang membuat saya merasa berat adalah ketika di interview kerja, si penilai memberi pertanyaan mengenai masa depan saya di perusahaan mereka,
“Disini tersedia seat full-time permanent, kamu bisa dapat jaminan hari tua, pensiun. Apa kamu menginginkannya?” ini termasuk kayak pertanyaan jebakan, apakah saya bener-benar serius di perusahaan mereka. Ya, saya terdiam lama, bertahan dengan senyum palsu di wajah saya.



“Bagaimana? Dalam semua pertanyaan sebelumnya, kamu memberikan keyakinan dan mantap, penuh confident, tapi dengan offer seperti ini, kenapa diam? Kehabisan kata-kata?” judgement keluar, saya sudah 3 kali pernah menghadapi interview semacam ini, dengan penilaian seperti ini.

Saya bisa saja berbohong, hanya untuk memenangkan interview ini, tidak sulit bagi saya untuk berbohong, saya tumbuh dilingkungan yang penuh kebohongan. Tapi, dalam kasus yang semestinya saya bisa membuka mulut saya, mengatakan bagaimana Tom Cruise si Jerry Maguire, dengan confidentnya bilang, “show me the money” saya tidak bisa mengeluarkan argument yang ingin si peng-interview ingin dengarkan, walau pun saya tahu, apa yang ingin dia dengar.

Dulu, yang paling saya ingat adalah, jawaban saya di sebuah interview akhir di kontraktor tambang terbesar ditempat saya tinggal, saya meningatkan dengan jelas apa yang saya katakan, “Beri saya waktu satu tahun untuk berkerja di perusahaan anda, sisanya saya tidak terlalu menginginkannya”

Saya tahu saya bakal gagal, kalah di interview ini, sekedar menghibur saya, mereka berkata manis, “Saya berkarir dibidang HRD, recruitment dalam waktu yg lama, saya sudah meng-interview ratusan orang, bahkan ribuan mungkin. Saya tahu, ada pribadi-pribadi yang sulit dicari penggantinya di sebuah perusahaan. Saya tahu, kamu akan serius bekerja di perusahaan ini, tapi 1 tahun? Saya tidak ingin repot untuk mencari pengganti mu nantinya, dan saya tahun, itu akan jadi tugas saya, saya permanent disini, dan belum pensiun sampe 7 tahun mendatang”

Begitu juga dalam sebuah relationship, sebuah hubungan, ketika level naik dan berisi pembicaraan tentang masa depan, jawaban saya yang paling standar adalah, “bisakah kita jalani aja dulu, saya belum siap” alhasil, sampe sekarang, umur setua ini, saya masih sendirian.

Latar belakang saya, Ayah saya punya pekerjaan yang selalu membuat kami berpindah-pindah, selain itu, dia tidak bisa bertahan disebuah lingkungan dalam waktu yang lama. Waktu saya kecil, hampir setiap 3 tahun kami pindah. Ketika saya mulai beradaptasi, saya mulai menyukai suatu tempat, ayah saya akan memboyong kami satu keluarga pindah. Sementara saat itu saya sangat rapuh dengan perubahanan, kecilnya saya berjiwa melankolis yang menyukai hal konstan.

Sengaja atau tidak, itu seperti menjadi sebuah pola didik Ayah saya secara tidak langsung ke saya. Besarnya sekarang ini, saya membenci menetap. Saya ingin berpindah, saya menjadi cepat bosan dengan sesuatu. Tidak ada hal yang benar-benar menghibur hati saya untuk tinggal, saya menyukai perjalanan. Saya seperti mahluk purba dengan pola hidup nomaden-nya.

Saya tidak menyukai keterikatan dan ketergantungan, makanya saya membenci keterikatan saya dengan kehendak keluarga yang membuat saya harus tetap tinggal, sebab jika bukan karna mereka, mungkin saya sudah mati dilautan dengan semua kebegoan saya, tapi setidaknya itu yg saya inginkan. Saya menginginkan pertualangan, saya tidak menginginkan hal yang besar, seperti halnya Amelia Earhart yang menjadi pilot wanita pertama yang menyebrangi benua. Saya cuman ingin sesuatu yang tidak konstan, saya ingin pertualangan, saya menginginkan perjalanan. Orentasi hidup saya bukan materi, saya haus ilmu, saya haus pencarian. Saya sangat tidak menyukai proses imitasi yang dijalani masyarakat secara umum. Saya tidak pernah bisa bertahan dengan pola hidup seperti itu.

Sudah banyak yang saya korbankan, saya melepas semua ketergantungan perasaan. Saya melupakan persahabatan yang pernah saya bangun selama lebih dari 7 tahun, saya membiarkan gadis yg mungkin bisa memperbaiki dan mengisi kehidupan saya dimasa mendatang menikah dengan orang yg saya tahu, hanya akan dia cintai dalam waktu yang tidak akan lama. Dan satu persatu saya menghancurkan harapan saudara saya, saya mengatakan pada mereka, bahwa masa depan yang mereka inginkan tentang saya, adalah hal yang tidak ada sedikitpun saya inginkan sekarang ini. saya mendebat tentang keinginan dan cara hidup saya yang di cap tolol oleh mereka.

Tidak ada hal yang saya inginkan, untuk bisa menghalangi langkah saya, ketika saya menarik jangkar kapal saya, tidak untuk merubah atau mengatur angin, melainkan mengatur posisi layar, mengarah ke kehidupan saya sendiri.

Saya tahu saya tolol, saya tahu saya bego dan tidak pintar. Saya tahu kadang gampang sekali saya bilang, “Aku cinta padamu” dan saya tahu, saya tidak akan bertahan dengan kata itu, karena pada satu sisi lain, yang tajam dan keras, saya menyukai kata “Good Bye”, saya selalu menyukai akhir, karena itu membuat saya berhasrat untuk bertemu hal-hal yang baru dalam hidup saya.

Saya manusia biasa, yang punya hati rapuh, dengan pola pikir yang mati-matian saya pertahankan. Ya, selayaknya manusia biasa, saya merasa kesepian kadang, kadang-kadang saya ingin membicarakan, tentang langit, tentang laut, tentang hidup 48 jam nonstop sampai suara saya hilang dengen seseorang yang duduk atau berbaring sambil tersenyum dengan saya. Tapi saya tahu, saya tidak pernah bisa bertahan dengan perasaan, saya hanya mampu bertahan dalam pemikian real. Karena pada akhirnya saya akan mengabaikan hati saya, mengingatkan kembali diri saya tentang apa yang benar-benar saya inginkan. Tidak perduli bisa saya dapatkan atau tidak, tapi kita semua tahu, ABBA sudah memiliki lagu I Have A Dream, yang mengatakan, bahwa mimpi dapat menolong kita, melewati kenyataan. Sebuah kenyataan yang keras dan pahit kadang.

Related Post



No comments:

Post a Comment