Wednesday, November 24, 2010

The Duo

A friendship can weather most things and thrive in thin soil; but it needs a little mulch of letters and phone calls and small, silly presents every so often - just to save it from drying out completely.
- Pam Brown

"Mas..Mas...tadi mas, teman ku, itu loh tetangga kamar ini, datang ke sini, nanya, mas itu pacar ku atau bukan? kita dikira pasangan gay mas. hi hi hi !" ini si songong ngikik, "iyo toh le?" saya merasa mules pengen ketawa, akhirnya saya pun ikut tertawa nyaring, kelikikan kami berdua.

Nah, tidak sampai disitu, sehubungan sudah dikira pasangan lekong aka gay, malemnya, karena kami sekamar, bakat ndablek kami kumat, kami bikin sounds yang aneh-aneh, "akh akh akh" gitu lah, kan kami tidur lampu di matikan. au ah ape kate tetangga. yang jelas, kami kelikikan sendiri.

Tidak salah mungkin kami dikira pasangan gay, saya dan teman saya ini. kami berdua chemistry-nya dapet. untuk masalah pertemanan kami memahami sifat satu sama lain. sering jalan bareng, tidur bareng, makan bareng, cerita2 bareng, bingung bareng, berbagi bareng (tapi tidak pernah mandi bareng).

tapi setahu saya, kami tidak 24 jam bersama loh. saya pernah berbulan-bulan tinggal sekamar saya dia, bertahun-tahun bertetangga kamar dengan nih anak, tetapi kami punya hobby yang berbeda, punya kesibukan yang berbeda. dia sangat sibuk dengan game, film anime, dan ngasdos di Fak. Tambang, karena memang dia notabane-nya mhs Tambang. saya sendiri sibuk dengan kegiatan saya, nonton film serial barat, baca buku yang berat-berat dan kerja part time.

dan, jangan kira kami mirip. bisa di bilang, salah satu kebaikan Tuhan kepada saya, adalah menjadikan anak ini sebagai teman saya, mengisi hidup saya di rantau orang. Dia anak pertama, anak manja, anak mami. contohnya, kalau ibunya menelpon,

"Hallo Pangeranku!"
dan biasanya kalau saya mendengar suara panggilan kayak gitu di telpon, saya masem-masem doank, bisanya di jawab sang anak, "kenapa mah?" bedanya dengan saya, Ibu saya ngak pernah nelpon sendiri, biasanya Abang atau Mbak saya yang telpon kan, dan biasanya Ibu ngak ngomong apa-apa, paling nangis. nah loh?

Nah, kan waktu itu saya kuliahnya di Jogja, anak ini, teman saya ini dari Temanggung. kalau dia pulang kampung atau Ibunya datang berkunjung, maka semua Isi dapur diangkut ke kamar kos teman saya ini. Teman saya ini sangat suka memasak, dan dia lelaki (Orkkkk, mungkin ini tambah meyakinkan orang kami pasangan penyuka sesama jenis). Orang tuanya sangat perhatian. stok Vitaman ndak pernah kurang, stock obat, snack dll. kalau dah gitu, ya saya yang senang, klasik yo!.

Kami stuck berdua. kadang berselisih pendapat. tetapi, sekali pun dia selalu saya anggap anak kecil, saya selalu memanggil dia "le" dalam bhs jawa yang berarti "nak!" itu panggilan akrab saya sama dia, anak ini, punya kelapangan hati yang tidak saya punya. dia selalu mengalah dan melunakkan hati saya walau sebenarnya kadang saya lah yang seharusnya melunak.

Teman saya ini, tipe manusia yang punya banyak kemudahan dalam hidupnya dan dia selalu berusaha menempuh jalan yang susah untuk menemukan pengalaman baru yang mungkin dia pikir dapat mendewasakan dia. sedangkan saya, saya punya background hidup yang tidak bisa di bilang mudah, dan saya selalu mati-matian mencari jalan yang mudah walau pada akhirnya tetap harus di jalan yang susah karena memang udah dari sono nya kali ya.

Ketika saya di ajak kerumahnya dia untuk pertama kalinya. saya masuk dalam keluarga yang hangat, sederhana, manis dan punya etika yang tinggi. dan kadang, saya jengkel dengan teman saya ini, kalau sudah dia pamer dalam menyetir mobil. harus saya akui, dia memang jago membawa mobil. dan saya kadang bingung, setiap kali dia bersemangat mau menyusul saya ke kaltim (saya yakin dia bisa ke kaltim), saya kadang khawatir dia masuk kedalam kehidupan keluarga saya. yah, saya sangat pelit dengan kehidupan keluarga saya yang sebenarnya. sebab disana tidak ada apa-apa, tidak ada harapan, kosong, dingin dan hitam.

Yang saya tahu, saya jarang stuck lama dengan orang-orang. saya jarang punya teman dekat atau sahabat, karena memang jarang ada yang bisa bertahan dengan sikap dan pola pikir saya. dan ditambah lagi sikap saya yang sangat gampang bosan juga sangat tidak suka kalau direpotkan dengan urusan yang tidak ada hubungannya dengan saya. ini lah yang membuat ciri khas saya, suka sendirian, saya tidak suka kawanan layaknya Zebra atau Rusa atau pun srigala. saya lebih kayak elang, berburu sendirian, terbang sendirian, mati sendirian. saya memang tidak pandai dalam membangun sebuah hubungan dan saya tidak pernah benar-benar siap dalam menjalin hubungan (itu lah sebabnya saya belum ada sama sekali rencana untuk menikah). nah, teman saya ini memang sebuah pengecualian. saya banyak belajar bagaimana menghargai teman baru ketika saya berteman dengant teman saya ini. saya jujur, berusaha tidak bersikap culas dan apa adanya.

karena teman saya yang ndablek ini, tanpa teori mengajari saya bagaimana berbagi. dia selalu bersedia membagi apa yang dia punya dengan saya, baik dimasa sulit mau pun senang. dalam kebersamaan kami yang hampir 4 tahun.

Itu lah hidup. kadang seburuk apapun sikap kita, pribadi kita, atau fisik kita, selalu saja ada yang tetap menerima kita apa adanya. yang kita perlukan hanya lah untuk bisa belajar memahami dan merubah apa yang seharusnya bisa kita ubah. untuk bisa menjadi dewasa.

Selengkapnya...

Saturday, November 20, 2010

Mixed

"It doesn't really matter; the judgement of other men... I know what I've done." Robert Hanssen/Breach

dulu sekali, saya pernah membaca buku "Padang Karamunting di Bukit Kecil" karangan Tartila Tartusi. saya sama sekali tidak tahu, tanpa membaca buku itu pun, judulnya sudah berefek kuat dalam ingatan saya. saya mencari buku itu, karena tidak menemukannya saya bahkan menyurati sang pemenang yang menang dalam lomba membuat resensi buku yang diadakan majalah anak-anak pada masa itu. sang pemenang yang baik hati itu pun, mengirim copy-an buku tersebut kepada saya. pristiwa itu terjadi sekitar 11 tahun yang lalu.

saya punya kebiasaan sulit tidur, dari saya kecil, saya kesulitan untuk tidur. bahkan saat saya remaja, untuk bisa tidur saya dibantu obat tidur yang berdosis ringan. trapi saya untuk tidur saat itu adalah membayangkan saya dapat terbang diatas padang Karamunting yang bunga-bunganya yang berwarna ungu cerah.

memang dulu ada padang karamunting yang luas di sebrang sungai kecil di samping rumah saya. saya tidak hanya menyukai pohon dan bunga karamunting, saya juga menyukai buahnya yang manis, yang bisa meninggalkan warna ungu gelap di lidah setiap kali saya memakannya.

Tidak hanya Pohon Karamunting, saya juga menyukai Ilalang. saya menyukai memandang padang ilalang. ketika saya menemukan buku NH Dini, "Padang Ilalang di Belakang Rumah" saya langsung menyukainya. Saya menyukai Ilalang walau saya tidak menyukai tunasnya yang berduri atau pun daun-daunnya yang runcing yang terasa perih melukai kulit jika tergesek keras. tapi, melihat padang Ilalang diatas bukit kecil, yang ramai-ramai merunduk saat angin lewat, merupakan pemandangan yang menenangkan dan tidak ingin saya lewatkan.

Yang paling saya tahu dalam diri saya adalah, saya sangat menyukai kesederhanaan. tidak ada yang lebih saya puja daripada keserhanaan. saya menemukan ketenangan setiap kali saya di lingkungan yang penuh keserhanaan. saya tumbuh dewasa didalam kesederhanaan. ketika saya kecil, didikan yg sederhana, referensi ajaran dari alam lah yang membuat saya sangat menghargai kehidupan saya saat ini. orang tua saya tidak mengenai Freud atau pun Mario Teguh, tapi orang tua saya sangat mengenal keserhanaan alam dan bumi. mereka mengajarkan saya bagaimana mencintai culture dan alam tempat saya hidup.

Kemudian, ketika saya belajar bercita-cita dan berambisi, ketika saya pikir saya berada digaris-garis buta arah, ada hal natural dalam diri saya, naluri saya, mengingat bahwa hal yang saya kejar adalam wahana kesederhanaan, bahwa saya akan menemukan kebahagian hidup dalam wahana itu. bahwa saya adalah pribadi yang jatuh cinta dengan keluarga yang tercatat dalam Padang Karamunting di Bukit Kecil. dan hal tersebut membuat saya berjalan dalam arah saya.

Saya tidak tahu kenapa saya menulis ini, mungkin saya sedang mencoba mengingatkan diri saya tentang orentasi hidup saya lagi. bahwa sekarang saya sedang menata ulang hidup dan career saya. tetap digaris pengejaran mimpi saya yang tertunda. saya tidak ingin semua yg sudah saya tetapkan dalam hati saya menjauh. saya tetap ingin berjalan di garis saya, sekali pun kadang saya menatap cemburu perjalanan orang lain.

Saya ingin, menemukan kehidupan saya dimana saya tetap berpegang teguh dengan nilai-nilai yang saya percayai, bertahan sekalipun tanpa perbandingan yang dianggap oleh orang lain. Saya menginginkan hidup saya memiliki nilai, tidak untuk orang lain, melainkan untuk diri saya sendiri.

Sebab saya tahu, saya akan patah, kalah dan hancur, kalau saya menggunakan standar nilai, tolak pengukur yang digunakan oleh orang lain.
Selengkapnya...

Thursday, November 18, 2010

Hermione Granger


"I like her (Hermione - red) very much" Dobby the House Elf
---
David Yates masih memegang kendali atas epic finale Harry Potter yang mengejar Horcruxes buatan Voldemort, tidak hanya itu, "What do you know about the Deathly Hallows?" Tentu saja, dia juga mengejar DH, Harry menanyakan ini kepada Mr. Ollivander, "It is rumored there are three. To possess them all is to make oneself immortal. But few truly believe such objects exist. If it's true, you really don't stand a chance."

AND

setelah menonton 36 menit pertama (dari 146 menit) dari the Deathly Hallows: Part 1, ada hal yang berbeda dari film ini. dari 6 film sebelumnya, untuk main role, dalam circle 3 orang ini (Harry, Ron, Hermione) biasanya yang selalu muncul di Scene pertama adalah Harry, tapi kali ini, Hermione yang pertama di tonjolkan, kenapa?

saya kira, Mr. Yates ingin mencuri emosi penonton dalam segi drama. Hermione memberikan kesedihan dan pengorbanannya dalam membantu sahabatnya, Harry. tidak hanya itu, kali ini, gadis ini akan terluka dua kali, menyihir orang tua-nya untuk melupakan dia dan lalu, ditinggalkan Ron yang marah kepada Harry. setelah itu dia juga akan di siksa oleh Lestrange.

Seharusnya ini film judulnya Hermione Granger and the Deathly Hallows: Part 1
hahaha....


oke, saya ndak bisa serius. tapi ada hal yang manis dari tokoh cewek satu ini. dan saya kira, wajar dia terpilih sebagai cast besar di epic Harry Potter. saya salut saat dia memutuskan untuk stay dengan Harry saat Ron memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua(kalau saja JK Rowling jago bikin kisah romance, pasti dibuatnya cinta segi tiga dah). dia gambaran gadis fiksi yang luar biasa sweet dan strong. dia pintar, menyayangi para sahabatnya dan tidak egois. dia memilih Ron, dan lari dari Krum mau pun Cormac yang lebih cakep dari si Ron.

saya kira, Deathly Hallows Part 1 ini akan sukses, dari receptions sementara RT memberi 81% out of 100%.

Scene drama yang dapet baner feel nya itu, waktu Harry lari memeluk Ron dan Hermione secara bersamaan saat Ron tiba sehabis misi pengangkutan Harry dari Private Drive. saya bener-bener berharap bisa menonton film ini seutuhnya segera. saya tumbuh dewasa dengan film ini, dengan bukunya, dan saya sangat ingin melihat endingnya. film ini lah hal yang paling saya tunggu-tunggu dalam hidup saya melebihi jodoh saya sendiri.
Selengkapnya...

Saturday, November 13, 2010

SATURDAY NIGHT

"...So pick me, choose me, love me!" - Meredith (Grey's Anatomy)
----

Stupid me, saya tiba-tiba berpikir. jika saja ada tiket untuk "hidup tenang mati syahid" saya akan berjuang mengumpulkan uang untuk dapat membelinya. tetapi, that's bullshit. enak donk yang kaya, atau bisa-bisa orang saling membantai dengan segala cara untuk mendapatkan itu tiket. masih ingat kan catatan sejarah bagaimana perjuangan Martin Luther Vs. Indulgensia yang kemudian di cap oleh Paus Leo X sebagai "seorang Jerman mabuk". dan aneh juga kebijaksanaan gereja katolik pada saat itu, sampai-sampai menjual surat pengampunan dosa yang mana siapa pun pembelinya jika sudah di sucikan oleh imam lewat api pensucian dianggap suci kembali dari semua dosa alias semua dosa di hapuskan.



zaman sekarang banyak juga sih Indulgensia beredar di badan penegak hukum indonesia yang dapat menghapus semua rupa bentuk pidana maupun perdata, masih banyak pengedar Indulgensia selevelan Johann Tetzel di negara kita ini.

OKE

malam minggu nih, setelah tadi sore sempat SMS-an lama. eh kemudian tersadar, "Why why why and why?" akhirnya kalang kabut mendelete No HP yang saya pikir, goblok kalau saya SMS lagi. saya berharap itu tidak berkelanjutan. saya tidak butuh masalah sekarang. I'm trouble maker. sepertinya dimana pun saya berada, ada aja masalahnya, sepertinya apa pun itu, kalau sudah saya sentuh, akan hancur berantakan. HADOH TUHAN.

Pede sedikit, saya berani bilang, saya ini unik. begitulah orang-orang bilang. dan orang unik biasanya punya kontroversi. tidak akan ada istilah tidak di benci orang, dan tidak akan ada istilah tidak disukai orang. halah. gini, ada aja orang-orang yang IKHLAS tidak suka dengan saya, tetapi tetap juga ada orang-orang yang IKHLAS menyukai dan menerima saya apa adanya, dengan semua ndablek saya.

hhhh........ saya lebih takut kehilangan logika saya daripada kehilangan hati saya. kalau saya kehilangan logika saya, maka saya akan kehilangan segalanya.

. Selengkapnya...

Friday, November 12, 2010

Kembali ke BUMI

Tuhan Maha Adil dan Maha Pengasih

Maka sesungguhnya

Tidak ada orang yang lebih daripada Anda,
...dan tidak ada orang yang kurang daripada Anda

Orang yang kelihatannya lebih daripada Anda
adalah dia yang Anda perhatikan kelebihannya
dan yang Anda bandingkan dengan kelemahan Anda

Anda pasti memiliki kelebihan
yang menyeimbangkan Anda dengan siapa pun

Yakinilah ini sebagaimana Anda meyakini keadilan Tuhan

Mario Teguh
-------
quote
Mario Teguh di atas mendapat Hint ; up to 25,013 people. Wow. emang worth it saya pikir. jika kalimat bijaksana itu bisa di terapkan dalam kehidupan, Insya Allah orang tersebut hidupnya akan lapang dan bahagia.

Kembali ke BUMI - Saya dikontrak sebagai pengajar tambahan Bhs Inggris di dua asrama pelajar dampingan sebuah perusahaan tambang selama 1 tahun, pekerjaan saya itu saya kerjakan dimalam hari, dan sekarang ada kebiasaan baru saya, sebelum mengajar, tersengal-sengal di kejar waktu, saya menulis di Blog ini. dan blog ini pun menjadi sebuah Journal online saya. saya belajar menceritakan kebohongan yang tidak bisa terbantahkan diantara kepingan kehidupan yang mati-matian berusaha saya pahami dan jalani.



Ketika saya jatuh cinta sama serial barat Grey's Anatomy, karakter yang jadi pusat perhatian saya adalah Izzie Stevens. saya menyukai gadis ini, ketika dia lulus kemudian memulai karirnya di rumah sakit, dia mati-matian menjalani idealisnya sebagai seorang dokter. kehidupannya kemudian berjalan maju, dia jatuh cinta, orang yang dicintainya mati, di jatuh cinta lagi, kemudian menikah, membangun karirnya, membangun rumah tangganya, kemudian dia kena kangker, kehidupan rumah tangga dan karirnya goyah. sampai kemudian dia melangkah mundur dan menghilang. kehidupan menjadi sebuah level di dalam game. tuntas level tertentu, akan ada level tertentu yang menghadang. sebagai player, tidak ada opsi lain, kita sudah tersungkur didalamnya.

dan kemudian, ada gadis muda keturunan dayak, kami berteman lama, membangun cita-cita selama kuliah. selama kuliah, level hidupnya dibatas tingkat kerumitan yang dapat di jabarkan. sampai kemudian hari ini, saya bisa memahami komplikasi hidupnya. ketika dia takut karirnya mandeg, ketika dia mulai mengkhawatirkan pernikahannya yang selalu tertunda sementara dia pikir dia tidak bisa lagi menunggu, ketika dia seperti gadis lain, sang Cinderella di dunia nyata, yang mana menginginkan semua pernikahannya berjalan sempurna, dengan gaun putih suci dan ditengah senyum semua orang. dia kemudian mencapai di level, hidup kadang berjalan di luar jalur, kadang kali keluar dari rel impian dan usaha yang kita bangun mati-matian, dan berjalan complicated, siap atau tidak siap harus bisa tetap bertahan. sampai kemudian saya memohon padanya, bahwa kita sebagai seorang dewasa, dengan umur yang semakin matang, harus bisa menjadi kuat dan dewasa.

kemudian saya, harus kembali ke Bumi, saya sudah mengenal kehidupan Izzie Stevens yang hancur, kepahitan Mariam di A Thousand Splendid Suns, perjuangan Oliver Twist, keberuntungan Forrest Gump ataupun Topeng alice sebagai penari Erotis di Closer. Saya kembali ke Bumi, tempat saya berpijak yang mana Sang Nabi Muhammad pernah memperjuangkannya sampai berdarah-darah. Saya kembali ke BUMI, ketika kemarin, saya sempat merasa saya berada di titik semua terasa melayang, layaknya Dandaleon yang terbang terbawa angin.

Kembali ke BUMI, dalam kebutaan logika Gibran dalam semua puisi cintanya yang patah. saya sampai di puncak kemudian menoleh ke tepi bawah yang curam. bahwa saya tidak ada harapan untuk selalu disana. di awang-awang kosong tanpa harapan. saat kita bermimpi, ketika kita sadar dan harus terbangun, seberapa indahnya pun mimpi itu, kita harus membuka mata kita terhadap kenyataan yang menganga.

Disisi lain, ketika semua nya saya lihat berantakan dan saya berusaha menata ulang. orang yang saya paling hormati ditempat saya bekerja, mengerutkan wajah kepada saya, saya tidak bisa memalingkan hati dan kepala. saya belajar mengira-ngira, kesalahan apa yang sudah saya buat? saya mengetahuinya tapi saya tidak tahu mesti bagaimana lagi, di ujung hari dimana saya tidak akan ada lagi disana, saya menginginkan sebuah kisah senyum penutup untuk endingnya. tidak tahu saya berhak atau tidak mendapatkannya, saya menginginkannya. tapi kalau pun YA, tidak bisa, I have nothing to say.

saya berusaha menelusiri kehidupan saya. bahwa saya bertemu bait yang kaku, yang kemudian kadang saya complain itu kesalahan siapa merasa bahwa saya tidak pernah berbuat kesalahan itu, tetapi kemudian. saya menyadari, itu sudah tidak penting lagi. saya sudah berdiri disini, saya sudah berpijak, jika saya ingin tetap bisa bertahan di kehidupan ini, tak ada pilihan lain lagi, selain berpikiran positif. bahwa semuanya akan baik-baik saja.

belajar menerimanya, kemudian meninggalkannya, melepaskannya di pundak, akan membuat perjalanan terasa lebih ringan. kita tidak bisa membawa semua beban kita, kita harus memilahnya, yang mana memang sudah seharusnya kita letakkan di beberapa tikungan kehidupan kita, meninggalkannya disana, membekukannya disana. dan kemudian melangkah kedepan, belajar tersenyum kembali.

Kembali ke BUMI.
Aku menyimpanmu dalam sebuah wadah yang tidak kita ketahui, kemudian aku hanyutkan dalam perahu kertas yang berlayar ke selatan. sementara aku berlari ke Barat sebelum langit gelap dan malam datang. aku merasa kesepian dan basah, hanya saja, aku tidak bisa merubah arah.



Selengkapnya...

Thursday, November 11, 2010

11.11.10 ; Welcome Back!

If you believe in love at first sight, you never stop looking. -CLOSER
........

111110----eh ternyata masih tanggal yang bagus. aku menyukai angka satu, mayan dapat kendaraan yg berplat polisi 5181. hee...

Tetapi jujur, jika saja saya bisa, dan berani, saya ingin memeluknya dan mengatakan bahwa saya mencintainya dan ingin melupakan semua logika saya dan semua masalah saya dan semua keraguan saya.

Begini,

Tadi sore temen saya telpon, temen saya ini masih menempuh Co-ass setelah dapat gelar S.Ked nya di Makassar sono. berbincang-bincang lah kami, saya mengenal temen saya ini selama lintas generasi (nyuri taqline KOMPAS), semenjak saya kelas 1 SMP until now. artinya udah 10-an tahun lebih. saya memahami pola pikirnya.

nah,

"Terakhir kawu telp aku lawas waktu kawu merasa di campakkan seperti sampah. kawu bahkan ndak bisa ngomong karena sibuk nangis. sekarang suara mu melayang-layang gitu. dasar buntu!" saya mulai menghakimi.

bla.bla.bla, "aku menilai kalau kawu tidak berhati-hati dalam memilih pasangan yg benar-benar bisa memahamimu, kawu akan menjalani pernikahan yang tidak bahagia. kenapa? sebab kawu tipe cewek yang panjang langkah dan maunya banyak yg harus keturutan" mulai berat omongan saya.

"Ndak lah, aku pacaran sekarang buat ngisi kekosongan. dia ini beda dari cowok yang terdahulu"

"Orang beda, tapi masih dengan peraturan yang sama, hasilnya akan tetap sama. sekarang aku mulai memahami kenapa Islam melarang pacaran. karena benar, tidak ada gunanya, buang-buang tenaga, terutama untuk standar yang tidak jelas!" aih. saya tiba-tiba jadi alim.

"kawu itu, sama aja kayak aku. kita berdua ini kadang memperlakukan orang kayak barang. kalau barang itu masih baru, kita senang, kita elus elus. kita pamerkan. tapi kalau sudah kusam dan lama, kita mulai bosen, kita mau update ke yang baru. itu lah makanya aku berani bilang, kita ini bukan tipe orang yang pandai dalam membangun sebuah hubungan. karena kadang, kita memperlakukan pasangan hanya kalau kita butuh aja, setelah itu, kita kembali sibuk ke diri kita sendiri!" benar memang. egois gitu lah.

akhirnya, "sudah dah, ini jam kantor. ntar aku dimarahi karena telpon2an!"

........

DAN KEMUDIAN,
Tuhan masih memberi saya nafas, sehabis berceramah itu, 2 jam kemudian. hidup saya yang saya yakini berjalan maju, tiba mundur kisaran 2 tahun yang lalu.


Saya kembali ke Bandung, sepertinya. saya melihat gaya senyum yang sama, gigi gingsul yang sama, pola rambut yang sama, wajah yang sama, postur tubuh yang sama. saya mulai mencari pegangan, emang saya kambing jatuh lagi di lubang dan tempat yang sama?

HADUH, SAYA MEMOHON AGAR ORANG ITU JANGAN TERLALU BAIK DENGAN SAYA.
kalau saya mau, saat ini pun, saya bisa mendapatkan cewek, punya pacar. tetapi, Gusti Allah masih ingin menguji saya, di tempat yang berbeda, dengan keteguhan hati yang di pertanyakan. Saya tahu, saya akan sulit beralih dari matanya yang bening dan jujur yang dipayungi alisnya yang tebal. yang akan kontras sekali dengan wajah penuh kebohongan dan keculasan hati saya.

Tetapi jujur, jika saja saya bisa, dan berani, saya ingin memeluknya dan mengatakan bahwa saya mencintainya dan ingin melupakan semua logika saya dan semua masalah saya dan semua keraguan saya.

TETAPI TUHAN
Saya tidak bisa menyerah sekarang. tidak ada penawaran yang seimbang kalau saya menyerah sekarang. Oke, saya akan mengikuti semua aturan main-Mu, Saya akan jatuh cinta, mengontrolnya dan melupakannya. lagi, lagi, dan lagi sampai disaat yang tidak saya ketahui. yang tepat.

Susah payah saya sampai di fase ini. sampai dimana saya menertawakan sebuah hubungan yang di idolakan orang-orang. sampai dimana saya mampu mempertanyakan dan memperbincangkan sebuah pernikahan dengan temen-temen saya, menggoda mereka sementara saya di posisi sepertinya sangat ingin padahal sebenarnya TIDAK SAMA SEKALI, TIDAK UNTUK SAAT INI.

sebenarnya
hal yang paling saya khawatirkan adalah saya tahu, bahwa ketika saya menjalani sebuah hubungan itu hanya akan membuang dan menguras energi saya. saya tidak menginginkan hal itu, saya ingin energi saya ke ambisi saya yang lain. saya belum bisa menjadi si idiot yang memuja cinta dengan semua perhatiannya. yang saya pilihan adalah si goblok yang mondar-mandir dikota dengan kerjaan yang hanya setan yang tahu untuk apa.

KETIKA,
tadi sore, saya berhadapan dengan orang baru ini. the one, hanya jarak satu depa tangan saya. saya menemukan bahwa ya, dia bisa menjadi silver bullet saya yang selanjutnya. yang akan kembali menguji ketebalan dari keteguhan hati saya terhadap keinginan saya dimasa mendatang.

dan lagi, diam-diam saya akan menyadari. saya mungkin kembali akan di selamatkan dengan cara lama. dengan kebohongan dan keculasan hati saya. yang membuat semuanya akan gampang dan mudah. seperti halnya laptop Toshiba saya, yang kadang saya letakkan di sudut kamar saya. seperti tidak ada harganya., kan hanya barang walau saya tahu saya sangat membutuhkannya untuk kelancaran pekerjaan saya.

hanya saja, saya sangat tidak menyukai ketergantungan.
Selengkapnya...

Wednesday, November 10, 2010

10.11.10

"........’Cause I'm lonely and I'm tired" (Avenged Sevenfold - Dear God)
--------
eh,
sempat agak bengong waktu menuliskan angka 10.11.10. angka yang bagus ternyata.

Tiba-tiba kepikiran ini itu, hari ini banyak hal sinting yang terjadi. mulai tadi siang, dengan gampangnya aku ngajak cewek nikah sewaktu makan di kantin kantor. "eh, mau nikah sama aku ngak!" itu cewek cuman mesem-mesem. aku lanjut lah, "daripada lama pacaran ngak jadi nikah, mending langsung nikah kan!" itu cewek mangguk-mangguk terus bilang, "Iya bener itu!"



aku senyum-senyum terus mengangkat piringku. melirik lagi itu cewek admin. ah sayang kami beda departement, klo ngak, aku gangguin habis2an dah.

trus sorenya, ada si ndablek nge-sms. berani juga itu anak bau kencur nge-sms. kadung sudah di sms, aku godain habis2an dah. karena gayaku yang blak-blakkan aku langsung aja nembak, "kamu naksir ya sama saya?"

hahahaha...
dan aku yakin, itu anak senam jantung waktu membalas sms-ku. kalau mau bermain-main dengan saya, saya akan layani dengan sangat. apalagi saat2 stres gini.
Selengkapnya...

Tuesday, November 9, 2010

YHS and Me

"Sometimes you need to stand up for what you believe in, even if that means standing alone"
------
Pernah ada kata-kata yang kuat, "Kamu itu tidak bisa bekerja dibawah tekanan!" yang membuat saya banyak berpikir. dan kemudian kata-kata itu menjadi kata-kata PR saya di tahun 2010 ini. benarkah saya semanja itu? apa itu hanya sebuah kata-kata Subjektif dari orang itu untuk saya? jujur saya sedikit tidak terima dan ingin memperlihatkan berkas hasil tes psikotes saya.

dan saat menulis ini, saya jadi senyum-senyum sendiri.

Orang ini, YHS, saya memahami jalan pemikirannya dan cara kerjannya. pernah juga dia berkata, "Saya bisa membuatmu sukses jika kamu mau 'ikut' saya" orang ini menawarkan diri untuk menjadi mentor saya, dan kebetulan sekali, sebenarnya saya butuh seorang master, seorang mentor sekarang ini. Sejujurnya, saya membutuhkan orang ini untuk membangun karir saya, karena saya tahu, dia dapat membantu saya menuju kemapanan karir.



Sampai kemudian, dia mengecewakan saya dan saya mengecewakan dia. 1-1 kupikir, fair enough. dia kecewa dengan kinerja saya, dari vonis yang mulanya tidak bisa bekerja dibawah tekanan berkembang menjadi bahwa saya : TIDAK BISA BEKERJA. itu adalah kata-kata yang menyimpulkan betapa gagalnya saya.

Mungkin kah saya pantas mendapatkan kata-kata itu?

I'm telling you. saya tahu saya salah, saya tahu saya tidak bisa berpihak padanya. dia adalah pengagum Emanuel Kant dan saya adalah pengagum Oliver Twist. Ironic right?. Jika dia mengatakan bahwa dia sangat visioner yang ingin menumpas kemiskinan (dengan menjadi kaya), saya ingin menumpas kebodohan dengan menjadi pintar. sepertinya kami perlu meninjau ulang. saya tidak sesuci itu, se-hero itu. Sejujurnya, saya tidak pernah memperjuangkan orang lain, saya berjuang hanya untuk diri saya sendiri, karena saya tahu, kalau saya tidak melakukannya, maka tidak ada yang mau.

dan saya tidak bisa menggunakan topeng lagi, bahwa saya adalah seseorang yg penuh janji, berjuang untuk kebaikan umat. sungguh saya tidak tahu, saya hanya berjuang, dan berjuang, dan kalaupun pada akhirnya ada yang bisa saya lakukan untuk orang lain dan saya mampu melakukannya, mungkin ya, saya akan melakukannya.

tetapi Sir,

saya tidak melihat bahwa anda akan berakhir seperti itu. saya melihat anda begitu focus pada bagaimana cara menaikkan status sosial anda. anda menjadi climber dan gila pujian. anda mengejar kematangan karir materialistik. oke, saya tidak munafik, saya juga mengejar uang, tapi saya tidak menyukai cara anda. dan itu yang membuat saya berpaling. kesalahan saya adalah, saya mengejar pribadi yang sempurna untuk saya jadikan panutan dalam karir saya, saya ingin sebuah cara ber'main' yang saya pikir baik. saya begitu lugu berpikir bahwa saya tidak akan pernah menjadi alat yang bisa anda pakai ternyata pada akhirnya, saya tidak lebih sebuah alat. saya tahu, memang begitu lah seharusnya, ketika anda menyerap tenaga saya seharusnya saya menyerap anda juga. seharusnya kita saling memamfaatkan.

Itu tidak bisa saya lakukan, sekali pun saya ingin.

Dulu saya selalu berpikir, mungkin saja saya bisa menjual diri demi uang dan keinginan saya. tetapi ketika kesempatan itu datang, saya tidak bisa melakukannya. saya tidak bisa menundukkan kepala didepan orang itu, saya tidak bisa berjalan berdampingan dengannya karena dilain pihak itu akan menyakiti orang lain yang sudah bersikap baik terhadap saya. saya tidak bisa mendapatkan apa yang saya mau dengan menyakiti orang itu. jujur, saya bukan orang baik, tetapi untuk saat ini saya tidak mampu melakukannya.

dan saya berpikir, mungkin bila nanti, ada tawaran yang lebih worth it yang mana diri saya laku di jual, saya akan menjualnya. hahaha...

Pada akhirnya saya out, dan memang sudah seharusnya saya out, waktu saya sudah selesai. dan ini sangat lah lucu. setidaknya saya sudah belajar. saya lega saya bisa melepas semua ini, bahwa saya bisa berpikir jernih dan realistis. saya tidak tahu, sepertinya memang keluar dari sana membuat saya melangkah mundur dari tujuan utama saya. saya tidak suka memaksakan sesuatu, sebab when it's done, it's done. Ada banyak cara menuju Roma, saya hanya perlu membuka pikiran saya dan terus belajar dan terus melangkah. keseimbangan hidup saya akan runtuh jika saya berhenti bergerak.

Sewaktu saya laporan siang tadi saya akan out, ada yg bergemuruh didada saya. tetapi kadang, hal terbaik adalah saat kita menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. bahwa kita sudah siap dan rela mengikhlaskan apa yang akan terjadi. karena memang sudah seharusnya seperti itu, sudah memang seperti itu.

Saya jauh dari sempurna, tapi saya akan belajar. bahwa saya akan terus memperbaiki kualitas hidup saya secara lahir dan batin. dan cara cepat untuk belajar adalah pergantian lingkungan, sebab akan ada orang baru, dengan pola pikir yang berbeda, yang bisa membuat kita belajar, yang bisa memberi tahu lagi kesalahan dan siapa kita sehingga kita bisa bercermin dan menata ulang.

Saya bukan dari keluarga yang penuh kebijaksanaan dan kecerdasan dalam mendidik anak. kualitas pendidikan saya dari keluarga hanya sebatas tata krama sosial yang harus langsung di praktekkan dalam bermasyarakat. dari dulu, ketika saya belajar menginginkan sesuatu, saya tahu, yang bisa saya andalkan hanya diri saya sendiri. bahwa saya harus berpikir positif dan percaya, bahwa saya berhak atas kelayakan hidup karena saya sudah terlanjur dilahirkan. saya tidak perduli seberapa jauh keterbatasan saya untuk mendapatkan yg saya inginkan, saya hanya melihat dengan tolol serta seksama, selama saya masih percaya dan terus berusaha untuk mengejar yg saya inginkan. maka Tuhan akan menertawakan saya, menganggap saya pantas, dan kemudian menurunkannya kebumi saya.

dan suatu hari kita akan lihat, bahwa tidak ada jarak nyata antara pohon Meranti dan puncak Empire State Building sekalipun.
Selengkapnya...

Monday, November 8, 2010

KEJUJURAN*

By. Aldo Kraas

Sejujurnya, Kita berdua pantas
Kita berdua perlu menyingkirkan kepahitan kita
Kita perlu saling menawarkan kelembutan dan kepercayaan
Karena hidup kita selama sepuluh tahun terakhir ini dalam kekacauan
Ya Aku menyalahkan diri sendiri untuk itu
Sejujurnya, ini semua kesalahanku
Kau mengerti Aku juga mempunyai kesalahan-kesalahanku seperti halnya juga dirimu
Aku mencoba untuk membuat semua hal terlihat baik tapi hanya diatas kertas
Namun dalam kenyataan semuanya berantakan
Sejujurnya Aku berusaha keras untuk menyenangkan Kita berdua
Tapi Aku tidak tahu bagaimana
Mungkinkah Aku tidak bisa menghadapi semua kesulitan Kita?
Mungkinkah Aku hanya mempercayai semua baik-baik saja padahal sebenarnya tidak?
Sejujurnya Aku menjadi bodoh
Dan Aku juga membodohimu.
Sejujurnya, kenapa Aku tidak bisa mengerti kalau Kau menginginkan yang terbaik untukku?
Sejujurnya, kenapa Aku pergi dan membenturkan kepalaku didinding?
Itu tidak akan mengubah apa pun
Itu karena Saya percaya bahwa itu sebaiknya dilakukan
Padahal sebenarnya tidak
Sejujurnya itu adalah kebohongan yang kukatakan kepada diriku sendiri
Kejujuran itu dalam pembuatan
Sejujurnya aku tidaklah bijaksana
Kejujuran datang mengelilingi kita
Kita tidak lagi seperti dulu.
Kami sepertinya tidak banyak tertawa dan tersenyum lagi
Seperti yang sudah kita lakukan 10 tahun yang lalu
Sejujurnya Aku tidak bisa mengatakan bahwa kita akan berada di sini besok
Karena Aku bodoh jika mengatakannya
Apa pun bisa terjadi kepada Kita besok
Sejujurnya Aku bisa berkata bahwa kita tidak tahu tentang waktu, tanggal, dan jam
Tentang kapan kita akan mati
Karena satu-satunya yang mengetahui adalah Tuhan
Kejujuran adalah bukan kata yang indah bagi kita
Kejujuran adalah kata yang menyebabkan kita terluka dan sakit hati
Sejujurnya kadang-kadang kita merasa tersesat dalam pikiran dan dunia kita
Sejujurnya kadang-kadang kita bahkan merasa kehilangan kata-kata untuk berbicara satu sama lain
Sejujurnya, kadang-kadang kesunyian lah semua yang kita butuhkan
Sejujurnya kita tidak bisa hidup tanpa dukungan dari teman kita
Sejujurnya kadang-kadang kita merasa sangat emosional
Sejujurnya tidak baik bagi kita untuk bergantung pada pikiran negatif
Karena itu dapat menghancurkan kita
Sejujurnya kita membutuhkan cinta
Sejujurnya kita perlu untuk menunjukkan kepada satu sama lain bahwa kita saling perduli
Sejujurnya
Sejujurnya kita tidak tentram
Sejujurnya sulit untuk mengerti apa itu cinta jika kita tidak pernah memilikinya dari seseorang
Sejujurnya malam sudah tiba dan ada di sini
Sejujurnya Kita harus saling jujur
Sejujurnya Kita harus saling memiliki perasaan
Sejujurnya kenapa Kita tidak bisa saling memperlihatkan perasaan kita?
Apakah salah untuk memperlihatkan itu?
Apa yang Kita takutkan?


*Translet bebas by me


Original :
HONESTY
By. Aldo Kraas

Honesty we both deserve
We both need to get rid of our bitterness
Tenderness and trust we need to offer each other
Because our lives for the past ten years was in chaos
Yes I do blame myself for it
In all honesty it is my entire fault
You see I have my faults too just like you have yours
I try to make things look good but only in paper
But in reality it is all a mess
In honesty I try hard to please both of us
But I don't know how to
Maybe I just can't face all of our troubles?
Maybe I am just believing it is all right when it is not?
In honesty I am being a fool
And I am fooling you also
In all honesty why can't I see that you want the best for me?
In all honesty why do I go and bang my head against the wall?
It won't change a thing
It was because I believed that it would do
But it doesn't do
In honesty it is a lie I am telling myself
Honesty is in the making
Honesty is not my best policy
Honesty came over us
We are not the people we used to be
We don't seem to laugh and smile much any more
Like we did 10 years a go
In honesty I can't say that we will be here tomorrow
Because If I do I would be stupid
Anything can happened to us tomorrow
In honesty I can say that we don't know the time, the date, and the hour
That we will die
Because the only person who knows that is God
Honesty is not a lovely word for us
Honesty is the word that causes us pain and heartaches
In honesty sometimes we feel lost in our thoughts and in our world
In honesty sometimes we even feel lost without words to say to each other
In honesty sometimes a moment of silence can be all we need
In honesty we can't live without support from friends
In honesty sometimes we feel very emotional
In honesty it is not good for us to hang on to negative thoughts
Because this is what destroy us
In honesty we need love
In honesty we need to show to each other that we care about each Other
In honesty
In honesty we are not at peace
In honesty it is hard to know what love is if we never had from Somebody
In honesty the night arrived and is here to stay
In honesty trust we must have for each other
In honesty we must have feelings for each other
In honesty why can't we show our feeligs for each other?
Is it wrong to show it?
What are we afraid of? Selengkapnya...

Wednesday, November 3, 2010

6 Tips Makan Sendirian di Restoran

Senin, 1/11/2010 | 15:04 WIB

KOMPAS.com — Banyak orang yang merasa tak nyaman saat harus makan sendirian di restoran. Mereka tak ingin terlihat seperti orang yang tak punya teman atau orang yang mencuri-curi untuk makan makanan enak agar tidak ketahuan pasangannya.

Mark Bittman, wartawan kuliner dan penulis kolom The Minimalist di harian The New York Times, mengatakan bahwa ia tak pernah menyadari stigma sampai suatu saat menulis artikel On Eating Alone bersama penulis Times lainnya, Suzanne Lenzer. "Tulisan itu merupakan posting dengan hit paling tinggi dalam bulan tersebut, bahkan dalam beberapa bulan terakhir," katanya.

Sebagai orang yang kerap harus travelling, Bittman jelas sering makan sendirian di restoran. Oleh karena itu, ia menawarkan tips agar Anda lebih nyaman saat makan sendiri.

Buat kesan yang berbeda
Banyak orang yang mengira, makan sendirian di restoran artinya tak punya teman atau kesepian. Cobalah mengubah asumsi seperti ini. Mungkin orang tersebut sedang menunggu seseorang atau ia memang seorang business traveller yang memang sedang bepergian seorang diri. Justru Anda harus salut pada orang—khususnya perempuan— yang tampak menikmati waktunya meski sedang ngopi atau makan sendirian di kafe.

"Jujur saja, saya senang travelling karena saya bisa makan sendirian," ujar Bittman, yang sering bepergian untuk mempromosikan bukunya, termasuk buku How to Cook Everything and Food Matters: A Guide To Conscious Eating.

Fokuslah pada makanan
Bersyukurlah bila Anda sedang makan sendirian karena Anda memiliki kemewahan untuk menikmati semua makanan Anda. "Anda tidak perlu berbagi, tidak perlu berbasa-basi, tidak perlu berkompromi mengenai apa yang ingin dipesan," kata Bittman. "Anda hanya memesan apa yang Anda inginkan dan hanya bernegosiasi dengan diri Anda sendiri."

Anda bisa memesan tiga makanan pembuka, tanpa memesan menu utama, bila Anda mau. Siapa yang mau melarang? Setelah itu, fokuslah pada makanan Anda, tak perlu menghiraukan pandangan orang-orang di sekitar Anda.

Bawa buku atau "gadget" lain
Jangan merasa desperate karena Anda membutuhkan "teman" berupa laptop, BlackBerry, atau buku. Menurut Bittman, kenikmatan saat makan sendirian adalah karena kita bisa makan sambil membaca atau mengutak-atik ponsel. Kebanyakan orang akan menggunakan waktu makan untuk ngobrol atau bersosialisasi. Anda akan dianggap tak sopan bila mengabaikan teman Anda untuk SMS-an. Saat makan sendiri, aturan ini tak ada lagi.

Mintalah layanan yang sama baiknya
Memang ada diskriminasi dari pemilik atau pelayan restoran ketika melihat Anda datang sendiri. Anda akan diberi tempat di bar, mojok dekat dapur dan peralatan makan, atau tempat yang jarang dilewati pelayan sehingga Anda jadi repot bila harus meminta sesuatu. Jika Anda tidak menyukai meja Anda, maka jangan takut untuk meminta tempat yang lebih baik.

"Anda bisa mendapatkan layanan yang baik, tapi Anda harus berani meminta apa yang Anda inginkan," ungkap Bittman. Ia juga tidak merasa perlu berbaik-baik dengan waiter untuk memastikan mendapat perhatiannya. "Saya tidak pernah flirting atau ngobrol. Saya akan langsung bilang, 'Tolong bawakan saya ini'."

Tentu, Anda juga perlu memberikan apresiasi bila pelayan telah memberikan layanan dengan baik.

Bergabung dengan meja lain
Jika sewaktu-waktu Anda memasuki restoran dan melihat orang-orang yang Anda kenal, maka jangan ragu menerima tawaran untuk bergabung dengan meja mereka. Jangan mengatakan, "Enggak usah, deh. Saya mau makan sendiri", atau "Saya lagi malas ngobrol". Jawaban seperti ini menandakan Anda tidak menghargai mereka.

Tak perlu memedulikan pikiran orang lain
Ketika orang lain memandangi Anda, tak perlu kesal karena pandangan mereka yang menaruh belas kasihan karena mereka pikir Anda kesepian. Pikiran tersebut hanya ada di kepala Anda. Tak ada orang asing yang mau repot memerhatikan Anda sedemikian rupa. Mereka hanya tertarik pada makanan yang disajikan, kok.


DIN
Editor: Dini


Selengkapnya...

Monday, November 1, 2010

11.01.10

"I remember that face then scream so loudly."
-
Sambaliung - Tumbit Melayu/Dayak mempunyai jarak tempuh yang bisa dianggap remeh. bahkan sampai melumat habis playlist music yang aku putar selama perjalanan tersebut. pada beberapa lagu yang lebih cenderung menjerit-jerit seperti kebanyakan lagu Linkin Park, perjalanan terasa ramai, walau realitanya. aku sendirian.

aku berpikir banyak dan panjang. memikirkan tentang semua kebohongan-kebohongan yang pernah aku buat, atau pun kejujuran yang tulus yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. sampai kemudian di beberapa tikungan, dimana aku teringat tentang wajah yang antara ingin atau tidak aku ingat, aku seperti kehilangan nafas. dan aku berteriak-teriak di tengah hutan-hutan yang aku lewati. siapa yang perduli, toh mereka hanya pohon yang hanya bersuara jika di singgahi angin.

kemudian aku tertawa-tawa sendiri, layaknya orang-orang gila yang selalu saja ada wujud menarik tak terlihat yang menjadi teman disegala emosi. Tuhan, mungkin hidupku sudah sampai ditepi-tepi yang tidak benar-benar bisa aku pahami dan harus bisa aku terima. aku teringat kenangan, potongannya, sangat lucu, waktu itu aku dari TMII Jakarta dengan teman-teman di Forum. sepulangnya di jalan tol Jakarta - Bandung, aku di bangunkan, "Jib, lihat lihat, itu loh Teh Walini, Hollywood-nya Indonesia" God, disana ada tulisan Teh Walini yang gemerlapan ditengah malam. penuh lampu. diantara padang pohon-pohon teh yang cebol.

dan dalam hembusan kemudian, aku berada di jalan yang berlubang-lubang, di hutan-hutan yang mana aku pasti aku bingung setengah mati jika kendaraanku bermasalah, ban bocor atau apalah, sebab akan sulit sekali mendapat pertolongan di jalan yang presentasinya agak jarang dilewati orang. yang mana tidak ada rumah kiri kanan jalan.

Aku pernah di tempat yang sangat ramai, lalu kemudian aku dihempaskan di tempat yang sangat sepi. tanpa listrik dan hanya ada suara jangkrik.

Kemudian aku pernah mendapat sebuah rasa yang tidak ada harapan sama sekali, sangat kosong tapi terpaksa aku simpan karena aku tidak ada pilihan lain lagi. kemudian aku bertemu lagi sebuah rasa yang sama, yang diam-diam aku simpan, yang diam-diam aku teriakkan. dan, ada orang-orang yang menyukaiku diam-diam, tanpa mereka tahu, diam-diam tanpa terkatakan, semua berada dalam sebuah rantai hanya akan ada penolakan.

amat sulit menyempurnakan kehendak hati, sulit mencapai keinginan yang terpenuhi. dan bagi sebagian orang, amat sulit menyerah dan kondisi yang patah. mesti patah dan hancur sakit sekali pun. tetap diam-diam menyimpan hasrat yang sama, hasrat tolol yang hanya akan berisi rasa sakit.

tetapi, tanpa rasa, jika hanya kesempurnaan sebuah cerita, kita tidak akan pernah belajar bukan? Jalani, perjuangankan, kemudian, lepaskan pelan-pelan atau tetap perjuangkan. itu hanya bagian dari pilihan.

life's more complicated then. Selengkapnya...