Saturday, November 20, 2010

Mixed

"It doesn't really matter; the judgement of other men... I know what I've done." Robert Hanssen/Breach

dulu sekali, saya pernah membaca buku "Padang Karamunting di Bukit Kecil" karangan Tartila Tartusi. saya sama sekali tidak tahu, tanpa membaca buku itu pun, judulnya sudah berefek kuat dalam ingatan saya. saya mencari buku itu, karena tidak menemukannya saya bahkan menyurati sang pemenang yang menang dalam lomba membuat resensi buku yang diadakan majalah anak-anak pada masa itu. sang pemenang yang baik hati itu pun, mengirim copy-an buku tersebut kepada saya. pristiwa itu terjadi sekitar 11 tahun yang lalu.

saya punya kebiasaan sulit tidur, dari saya kecil, saya kesulitan untuk tidur. bahkan saat saya remaja, untuk bisa tidur saya dibantu obat tidur yang berdosis ringan. trapi saya untuk tidur saat itu adalah membayangkan saya dapat terbang diatas padang Karamunting yang bunga-bunganya yang berwarna ungu cerah.

memang dulu ada padang karamunting yang luas di sebrang sungai kecil di samping rumah saya. saya tidak hanya menyukai pohon dan bunga karamunting, saya juga menyukai buahnya yang manis, yang bisa meninggalkan warna ungu gelap di lidah setiap kali saya memakannya.

Tidak hanya Pohon Karamunting, saya juga menyukai Ilalang. saya menyukai memandang padang ilalang. ketika saya menemukan buku NH Dini, "Padang Ilalang di Belakang Rumah" saya langsung menyukainya. Saya menyukai Ilalang walau saya tidak menyukai tunasnya yang berduri atau pun daun-daunnya yang runcing yang terasa perih melukai kulit jika tergesek keras. tapi, melihat padang Ilalang diatas bukit kecil, yang ramai-ramai merunduk saat angin lewat, merupakan pemandangan yang menenangkan dan tidak ingin saya lewatkan.

Yang paling saya tahu dalam diri saya adalah, saya sangat menyukai kesederhanaan. tidak ada yang lebih saya puja daripada keserhanaan. saya menemukan ketenangan setiap kali saya di lingkungan yang penuh keserhanaan. saya tumbuh dewasa didalam kesederhanaan. ketika saya kecil, didikan yg sederhana, referensi ajaran dari alam lah yang membuat saya sangat menghargai kehidupan saya saat ini. orang tua saya tidak mengenai Freud atau pun Mario Teguh, tapi orang tua saya sangat mengenal keserhanaan alam dan bumi. mereka mengajarkan saya bagaimana mencintai culture dan alam tempat saya hidup.

Kemudian, ketika saya belajar bercita-cita dan berambisi, ketika saya pikir saya berada digaris-garis buta arah, ada hal natural dalam diri saya, naluri saya, mengingat bahwa hal yang saya kejar adalam wahana kesederhanaan, bahwa saya akan menemukan kebahagian hidup dalam wahana itu. bahwa saya adalah pribadi yang jatuh cinta dengan keluarga yang tercatat dalam Padang Karamunting di Bukit Kecil. dan hal tersebut membuat saya berjalan dalam arah saya.

Saya tidak tahu kenapa saya menulis ini, mungkin saya sedang mencoba mengingatkan diri saya tentang orentasi hidup saya lagi. bahwa sekarang saya sedang menata ulang hidup dan career saya. tetap digaris pengejaran mimpi saya yang tertunda. saya tidak ingin semua yg sudah saya tetapkan dalam hati saya menjauh. saya tetap ingin berjalan di garis saya, sekali pun kadang saya menatap cemburu perjalanan orang lain.

Saya ingin, menemukan kehidupan saya dimana saya tetap berpegang teguh dengan nilai-nilai yang saya percayai, bertahan sekalipun tanpa perbandingan yang dianggap oleh orang lain. Saya menginginkan hidup saya memiliki nilai, tidak untuk orang lain, melainkan untuk diri saya sendiri.

Sebab saya tahu, saya akan patah, kalah dan hancur, kalau saya menggunakan standar nilai, tolak pengukur yang digunakan oleh orang lain.

Related Post



2 comments:

  1. like this one. after century, you're still you're!

    ReplyDelete
  2. Keren-keren-keren!
    -Hako-

    ReplyDelete