Wednesday, November 24, 2010

The Duo

A friendship can weather most things and thrive in thin soil; but it needs a little mulch of letters and phone calls and small, silly presents every so often - just to save it from drying out completely.
- Pam Brown

"Mas..Mas...tadi mas, teman ku, itu loh tetangga kamar ini, datang ke sini, nanya, mas itu pacar ku atau bukan? kita dikira pasangan gay mas. hi hi hi !" ini si songong ngikik, "iyo toh le?" saya merasa mules pengen ketawa, akhirnya saya pun ikut tertawa nyaring, kelikikan kami berdua.

Nah, tidak sampai disitu, sehubungan sudah dikira pasangan lekong aka gay, malemnya, karena kami sekamar, bakat ndablek kami kumat, kami bikin sounds yang aneh-aneh, "akh akh akh" gitu lah, kan kami tidur lampu di matikan. au ah ape kate tetangga. yang jelas, kami kelikikan sendiri.

Tidak salah mungkin kami dikira pasangan gay, saya dan teman saya ini. kami berdua chemistry-nya dapet. untuk masalah pertemanan kami memahami sifat satu sama lain. sering jalan bareng, tidur bareng, makan bareng, cerita2 bareng, bingung bareng, berbagi bareng (tapi tidak pernah mandi bareng).

tapi setahu saya, kami tidak 24 jam bersama loh. saya pernah berbulan-bulan tinggal sekamar saya dia, bertahun-tahun bertetangga kamar dengan nih anak, tetapi kami punya hobby yang berbeda, punya kesibukan yang berbeda. dia sangat sibuk dengan game, film anime, dan ngasdos di Fak. Tambang, karena memang dia notabane-nya mhs Tambang. saya sendiri sibuk dengan kegiatan saya, nonton film serial barat, baca buku yang berat-berat dan kerja part time.

dan, jangan kira kami mirip. bisa di bilang, salah satu kebaikan Tuhan kepada saya, adalah menjadikan anak ini sebagai teman saya, mengisi hidup saya di rantau orang. Dia anak pertama, anak manja, anak mami. contohnya, kalau ibunya menelpon,

"Hallo Pangeranku!"
dan biasanya kalau saya mendengar suara panggilan kayak gitu di telpon, saya masem-masem doank, bisanya di jawab sang anak, "kenapa mah?" bedanya dengan saya, Ibu saya ngak pernah nelpon sendiri, biasanya Abang atau Mbak saya yang telpon kan, dan biasanya Ibu ngak ngomong apa-apa, paling nangis. nah loh?

Nah, kan waktu itu saya kuliahnya di Jogja, anak ini, teman saya ini dari Temanggung. kalau dia pulang kampung atau Ibunya datang berkunjung, maka semua Isi dapur diangkut ke kamar kos teman saya ini. Teman saya ini sangat suka memasak, dan dia lelaki (Orkkkk, mungkin ini tambah meyakinkan orang kami pasangan penyuka sesama jenis). Orang tuanya sangat perhatian. stok Vitaman ndak pernah kurang, stock obat, snack dll. kalau dah gitu, ya saya yang senang, klasik yo!.

Kami stuck berdua. kadang berselisih pendapat. tetapi, sekali pun dia selalu saya anggap anak kecil, saya selalu memanggil dia "le" dalam bhs jawa yang berarti "nak!" itu panggilan akrab saya sama dia, anak ini, punya kelapangan hati yang tidak saya punya. dia selalu mengalah dan melunakkan hati saya walau sebenarnya kadang saya lah yang seharusnya melunak.

Teman saya ini, tipe manusia yang punya banyak kemudahan dalam hidupnya dan dia selalu berusaha menempuh jalan yang susah untuk menemukan pengalaman baru yang mungkin dia pikir dapat mendewasakan dia. sedangkan saya, saya punya background hidup yang tidak bisa di bilang mudah, dan saya selalu mati-matian mencari jalan yang mudah walau pada akhirnya tetap harus di jalan yang susah karena memang udah dari sono nya kali ya.

Ketika saya di ajak kerumahnya dia untuk pertama kalinya. saya masuk dalam keluarga yang hangat, sederhana, manis dan punya etika yang tinggi. dan kadang, saya jengkel dengan teman saya ini, kalau sudah dia pamer dalam menyetir mobil. harus saya akui, dia memang jago membawa mobil. dan saya kadang bingung, setiap kali dia bersemangat mau menyusul saya ke kaltim (saya yakin dia bisa ke kaltim), saya kadang khawatir dia masuk kedalam kehidupan keluarga saya. yah, saya sangat pelit dengan kehidupan keluarga saya yang sebenarnya. sebab disana tidak ada apa-apa, tidak ada harapan, kosong, dingin dan hitam.

Yang saya tahu, saya jarang stuck lama dengan orang-orang. saya jarang punya teman dekat atau sahabat, karena memang jarang ada yang bisa bertahan dengan sikap dan pola pikir saya. dan ditambah lagi sikap saya yang sangat gampang bosan juga sangat tidak suka kalau direpotkan dengan urusan yang tidak ada hubungannya dengan saya. ini lah yang membuat ciri khas saya, suka sendirian, saya tidak suka kawanan layaknya Zebra atau Rusa atau pun srigala. saya lebih kayak elang, berburu sendirian, terbang sendirian, mati sendirian. saya memang tidak pandai dalam membangun sebuah hubungan dan saya tidak pernah benar-benar siap dalam menjalin hubungan (itu lah sebabnya saya belum ada sama sekali rencana untuk menikah). nah, teman saya ini memang sebuah pengecualian. saya banyak belajar bagaimana menghargai teman baru ketika saya berteman dengant teman saya ini. saya jujur, berusaha tidak bersikap culas dan apa adanya.

karena teman saya yang ndablek ini, tanpa teori mengajari saya bagaimana berbagi. dia selalu bersedia membagi apa yang dia punya dengan saya, baik dimasa sulit mau pun senang. dalam kebersamaan kami yang hampir 4 tahun.

Itu lah hidup. kadang seburuk apapun sikap kita, pribadi kita, atau fisik kita, selalu saja ada yang tetap menerima kita apa adanya. yang kita perlukan hanya lah untuk bisa belajar memahami dan merubah apa yang seharusnya bisa kita ubah. untuk bisa menjadi dewasa.

Related Post



3 comments:

  1. hahahaha... kalian berdua memang keliatan selalu akrab ya. tapi itu si ifan udah lulus durung seh?

    ReplyDelete
  2. Jiaaaaa... kenalin Jib temennya! ^^
    -hako-

    ReplyDelete
  3. Wow.... Hehe... yume jadi senyum2 sendiri baca ini... hehehehe..... lanjutkan deh ya ^^v *kabur*

    ReplyDelete