Monday, November 1, 2010

11.01.10

"I remember that face then scream so loudly."
-
Sambaliung - Tumbit Melayu/Dayak mempunyai jarak tempuh yang bisa dianggap remeh. bahkan sampai melumat habis playlist music yang aku putar selama perjalanan tersebut. pada beberapa lagu yang lebih cenderung menjerit-jerit seperti kebanyakan lagu Linkin Park, perjalanan terasa ramai, walau realitanya. aku sendirian.

aku berpikir banyak dan panjang. memikirkan tentang semua kebohongan-kebohongan yang pernah aku buat, atau pun kejujuran yang tulus yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. sampai kemudian di beberapa tikungan, dimana aku teringat tentang wajah yang antara ingin atau tidak aku ingat, aku seperti kehilangan nafas. dan aku berteriak-teriak di tengah hutan-hutan yang aku lewati. siapa yang perduli, toh mereka hanya pohon yang hanya bersuara jika di singgahi angin.

kemudian aku tertawa-tawa sendiri, layaknya orang-orang gila yang selalu saja ada wujud menarik tak terlihat yang menjadi teman disegala emosi. Tuhan, mungkin hidupku sudah sampai ditepi-tepi yang tidak benar-benar bisa aku pahami dan harus bisa aku terima. aku teringat kenangan, potongannya, sangat lucu, waktu itu aku dari TMII Jakarta dengan teman-teman di Forum. sepulangnya di jalan tol Jakarta - Bandung, aku di bangunkan, "Jib, lihat lihat, itu loh Teh Walini, Hollywood-nya Indonesia" God, disana ada tulisan Teh Walini yang gemerlapan ditengah malam. penuh lampu. diantara padang pohon-pohon teh yang cebol.

dan dalam hembusan kemudian, aku berada di jalan yang berlubang-lubang, di hutan-hutan yang mana aku pasti aku bingung setengah mati jika kendaraanku bermasalah, ban bocor atau apalah, sebab akan sulit sekali mendapat pertolongan di jalan yang presentasinya agak jarang dilewati orang. yang mana tidak ada rumah kiri kanan jalan.

Aku pernah di tempat yang sangat ramai, lalu kemudian aku dihempaskan di tempat yang sangat sepi. tanpa listrik dan hanya ada suara jangkrik.

Kemudian aku pernah mendapat sebuah rasa yang tidak ada harapan sama sekali, sangat kosong tapi terpaksa aku simpan karena aku tidak ada pilihan lain lagi. kemudian aku bertemu lagi sebuah rasa yang sama, yang diam-diam aku simpan, yang diam-diam aku teriakkan. dan, ada orang-orang yang menyukaiku diam-diam, tanpa mereka tahu, diam-diam tanpa terkatakan, semua berada dalam sebuah rantai hanya akan ada penolakan.

amat sulit menyempurnakan kehendak hati, sulit mencapai keinginan yang terpenuhi. dan bagi sebagian orang, amat sulit menyerah dan kondisi yang patah. mesti patah dan hancur sakit sekali pun. tetap diam-diam menyimpan hasrat yang sama, hasrat tolol yang hanya akan berisi rasa sakit.

tetapi, tanpa rasa, jika hanya kesempurnaan sebuah cerita, kita tidak akan pernah belajar bukan? Jalani, perjuangankan, kemudian, lepaskan pelan-pelan atau tetap perjuangkan. itu hanya bagian dari pilihan.

life's more complicated then.

Related Post



No comments:

Post a Comment