Monday, September 6, 2010

PROJECT LONER - Intro

Aku menulis ini di jam siang kantor, bulan puasa dengan sedikit beban moral bahwa ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tetapi, aku ingin memulai sesuatu yang lain, mengarah pada hal lain. Aku bilang menjadi penulis terkenal itu keren, membicarakan mimpi-mimpi yang besar, menuliskan luka-luka menganga yang cukup lebar. Dan tentunya, dengan pengaturan waktu kerja yang istimewa. Menarik bukan, dengan honor sebagai penulis, kemudian dikontrak oleh penerbit, bisa menulis dimana saja cukup berbekal koneksi internet. Dan mimpi kebebasan hidupku yang tanpa ikatan tempat pun bisa terwujud.

Tetapi, gampangkah menjadi penulis terkenal? Atau menjadi seorang yang bisa menjadi tulisan sebagai periuk nasi? Aku berani bilang ; ITU SUSAH. Butuh begitu banyak keajaiban dan keberuntungan, butuh begitu banyak mimpi yang harus dipertahankan. Dan butuh begitu banyak peristiwa yang di dramatisasikan.

Dan aku menyebut ini PROJECT LONER. Aku butuh fans untuk project ini.
----------------------------

Chapter 01 ; Intro

Dia mengenal dunia dengan jendela dan warna yang berbeda. Tidak terlalu megah tapi sangat mewah dimatanya. Ketika dia menemukan buku pertualangan tentang kakak beradik yang memakan buah apel merah kemudian tersesat dihutan, dapat berbicara hewan layaknya nabi sulaiman, bertemu penyihir, berteman sama bebek yang disebut Riri. Dia menemukan cara lain dalam memandang hidupnya yang miskin akan kemungkinan. Tentang imajanasi, tentang harapan, tentang kapal-kapal yang melaju menuju laut. Dan Ia ingin beranjak, menemukan dongeng hidupnya. Menemukan segala kenyamanan, hasrat dan kesempatan.

Dan dia, Aral, menesuri semua kemungkinan hidup dalam lingkaran yang utuh. Dalam jalan yang rapuh. Ketika semua masalahnya, ketika cintanya, ketika cita-citanya, mulai menyempit dan mengerucut, dia sampai dijalan yang berbeda. Ketika kehidupan menuntut Aral untuk menerima segalanya, dia berkilah mungkin dia akan menemukan lubang lain dalam hidupnya, layaknya Alice yang berjodoh dengan Wonderland.

Ketika Aral membuktikan bahwa dia cukup layak sebagai manusia hidup, sebagai anggota keluarga, sebagai kekasih, sebagai sahabat, sebagai teman, sebagai roh, sebagai mahluk, sebagai musuh, dia harus menanggung hal lain, hal yang tidak sepenuhnya miliknya. Membawanya keruang-ruang gelap yang tidak pernah ia perkirakan sebelumnya. Kedalam sebuah pertarungan yang tidak pernah benar-benar bisa Ia yakini kebenarannya. Dan kemudian, ia jatuh cinta pada yang tidak sepenuhnya benar.

Related Post



No comments:

Post a Comment