Monday, February 8, 2010

My Prince. My Hero. My Brother

Intro. Waktu menulis tentang ini, tanganku sedikit gemetaran, mungkin pengaruh cafein dari kopi yang aku konsumsi. Dosisnya sepertinya terlalu besar, jadi sedikit bikin jantung seperti dipacu.
----
Waktu masih kecil dulu, mungkin karena jarak usiaku sama si Abang terlalu dekat, Mama tidak bisa mengasuh kami secara bersamaan. Dan mama kemudian meng-offer si Abang kepada adiknya yang kebetulan menjanda dan tidak memiliki anak. Dan waktu masih kecil, aku tidak pernah akur dengan si Abangku yang satu ini, terlalu banyak jeleous diantara kami. Dan Bapak atau pun Abangku yang pertama (sulung) memperlakukan kami seperti anak kembar. Jika di belikan suatu barang. Entah baju, sepatu dll, warna, merk etc pasti sama.

Dan bersamaan dengan si Abangku Y yang di offer ke adik Mama, aku jadi punya wilayah kekuasaan. Dan aku terbilang dekat dengan Abangku SJ (satu tingkat diantas Abang Y), Abangku SJ merupakan Abangku yg paling cool, waktu dia masih ABG, ketika dia di offer sekolah kekota, setiap pulkam, aku selalu menantikan dia. Ada yang berubah dari dia semenjak sekolah di kota, sepertinya dia semakin sulit tersenyum dan punya banyak tekanan. Tapi, waktu itu, aku terlalu kecil untuk bisa memahaminya.

Kembali ke Abangku Y, dia kembali kekami setelah adik Mama ini meninggal diusia muda. Agak sulit menerima Abang Y sebab dia lama terpisah dari kami. Waktu itu, aku sianak bontot, paling manja, jadi sama sekali tidak memikirkan 5 abang-abang lelaki-ku. Sebab kami masing-masing punya koalisi dikeluarga. Abang ini dekat dengan abang ini. Dan aku, mungkin karena sikapku paling egois, tidak kebagian koalisi mana. Jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan Mama dan tentu saja, mendengar sandiwara radio, menonton TV dan membaca buku. Dan tentu saja, adu mulut menentang kebijakan-kebijakan bapak yang aku anggap tolol.

Tahun-tahun berlalu, saat aku ABG, aku tetap tidak berhasil mendapat tempat dalam koalisi-koalisi dari abang-abangku, mereka punya cerita sendiri-sendiri dalam setiap koalisi, punya ketertarikan sendiri. Belakangan, abanku Y sangat dekat dengan Abang SJ. Mereka membentuk koalisi solid, sebab mereka berada di sekolah yang sama. Di SMP yang sama, kemudian di SMA yang sama. Dan aku selalu dapat tempat yang berbeda. Sekolah yang berbeda, ambisi yang berbeda. Dan kerena terbiasa tidak mendapat koalisi yang di bentuk para abangku, aku terbiasa sendiri. Dan akhirnya, aku punya 2 kehidupan. Kehidupan dirumah dan kehidupan disekolah. Prinsipku paling mendasar waktu ABG, adalah, jangan sampai 2 kehidupan itu campur aduk. Kehidupanku dirumah sama sekali buta tentang kehidupanku disekolah, dan kehidupanku disekolah buta mengenai kehidupanku dirumah. Aku tidak punya banyak pilihan dan aku sama sekali tidak pandai menceritakan kebenaran kepada keluargaku dan kepada teman-temanku disekolah. Jadi kehidupanku waktu ABG dulu, tidak lebih seperti baying-bayang yang sulit ditafsirkan.

Nah. Ketika aku mulai kuliah. Abangku Y mengambil alih tanggung jawab orang tua dan abangku yang pertama. Dia bertekad menjadi wali-ku sepenuhnya. Apakah yang terjadi? Mungkin waktu akhirnya menjawab, setiap kali kami berantem atau bertengkar dimasa kecil, disitulah kami belajar memahami satu sama lain. Dan kami sebenarnya satu pemikiran, tapi beda dalam cara merefleksikan. Jika pemikiranku bulat dan tidak kenal ampun, maka dia adalah yang berpikiran lapang dan selalu kenal menerima dan mengikhlaskan.

Seiring dengan waktu, Abangku Y, yang pernah di depag dari keluarga karena aku, dia harus mengalah karena konsekuensi kelahiranku, yang sama sekali tidak terpikirkan olehku adalah orang terakhir yang berkorban banyak dalam hidupku. Dia mengorbankan karirnya, kehidupannya dan sekolahnya sendiri demi aku. Dia memberikan semua hal yang dia bisa untuk aku, aku selalu bertanya-tanya, apa kalau aku berada diposisi dia akan melakukan hal yang sama? Dia banyak kehilangan, seperti kasih sayang dan kesempatan. Aku tahu, sebagaimana pun aku mengusahakannya itu tidak akan bisa tergantikan. Tapi, Abang Y sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia bukan pribadi yang good talker tapi dia pribadi good listener. Oleh karena itu, setiap masalah terbesar dalam hidupku, tempat sampahku adalah dia. Kami menjadi tim yang baik. Menertawakan nasib, memperjuangkan nasib, dan kadang, tentu saja, menyumpahi dan menyalahkan masa lalu.

Seperti misalnya suatu hari, di sepertiga tahun 2009, aku begitu berapi-api untuk mendatangi rumah tempat kami sewaktu kecil dilahirkan. Dia berkesimpulan, aku tidak akan menemukan apa-apa ditempat itu, tempat itu sudah rubuh. Tapi aku bersikeras ingin melihatnya. Sebab aku akan menemukan semua hal yang pernah paling indah dalam hidupku ditempat itu. Tapi aku lupa, kalau dulu, kami punya 2 sisi hal yang berbeda. Dia adalah selalu menjadi pribadi pelampiasan, yang selalu menerima, dari sewaktu dia kecil, ini lah yang membentuk pribadi dia sampai dewasa. Dan aku adalah pribadi konsekuensi, mengatakan kebenaran, kemudian takut akan hukuman, kemudian dilemparkan kesungai. Dan aku akan mengulanginya lagi, dan lagi.
Kami memiliki sebuah ironi, aku tahu, dia kadang ingin seperti aku. Dan aku tahu sepenuhnya, kalau kadang aku iri dengan kehidupannya, aku iri dengan harta tak terlihatnya, yaitu kelapangan hati. Dia tipe manusia yang memiliki ketulusan diatas rata-rata. Dia mewarisi semua itu dari mama. Sedangkan aku hanya mewarisi separo-nya saja. Mungkin tidak sampai.
Aku selalu mencoba masuk didalam kehidupan dia, pertemanan dia. Dan aku menemukan banyak kenyamanan, kejujuran dan kelapangan antara dia dengan teman-temannya. Dan dia sama sekali tidak tertarik masuk kedalam kehidupanku. Sebab memang, dia tidak akan menemukan apa-apa disana. Kecuali setumpuk gengsi dan kebohongan-kebohongan untuk terlihat sempurna.

Dan memang, aku meyakini, dia tidak akan sama sekali meminta apa-apa kembali dari hidupku. Dia selalu akan berkata, itu hidupmu, kau jalani semaumu, kau cukup ambil apa yang kau inginkan dan kau anggap baik. Dan aku juga sadar, aku tidak akan benar-benar mampu membalas semua kebaikannya, membalas semua ketulusannya, membalas semua pengorbanannya. Aku hanya bisa meyakini, Tuhan akan membalasnya, memberikannya kebahagiaan utuh terhadap dia. Dia berhak mendapatkannya. Melebihi siapapun yang ada dalam keluarga besarku.

Standar kehidupan yang baik dan membahagiakan, yang aku yakini adalah ketulusan hati, kelapangan dan keikhlasan. Dan Abangku Y punya semua itu. Dia bersikap baik tidak hanya terhadap aku, tapi juga lingkungan tempat dia tinggal. Dia tidak pernah berantem sama orang, atau mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain. Dia punya hubungan baik dengan tetangga-tetangga dia. Waktu aku menulis ini, aku baru benar-benar menyadari, dia tidak pernah membuat masalah dikeluarga, dan yang paling tidak pernah menuntut apa-apa di keluarga. Dan tidak pernah membebani keluarga. Aku jadi senyum-senyum sendiri kalau membandingkan dengan aku. Dia bukan pribadi yang pintar. Otaknya sangat biasa-biasa saja. Tapi dia punya nama sebagus pribadi dia.

Sebenarnya dia tidak hanya jadi my prince, my hero. Tapi aku kira, semua keluargaku beranggapan seperti itu ke dia. Dia lah yang sebenarnya paling bersinar diantara aku dan abang-abangku yang lain. Dia lah yang sudah membuktikan, tentang kerja keras dan loyalitas. Hal ini sama sekali tidak pernah aku kira sebelumnya, kalau dari semua buku biografi yang pernah aku baca, yang begitu hebat dan bisa merubah dunia, ternyata yang benar-benar bisa aku anggap pahlawan di dunia nyata. Adalah abangku sendiri. Dia memang bukan pahlawan yang bisa merubah dunia, tapi dia lah pahlawan yang merubah dan memperjuangkan kehidupanku. Dan sebenarnya, kita tidak membutuhkan pahlawan besar yg dipuji banyak orang karena sesuatu yang dia lakukan tetapi kita membutuhkan pahlawan nyata yang memperjuangkan dengan penuh pengorbanan akan hidup kita yang membuat kita menjadi pejuang untuk memperjuangkan sesuatu yang kita anggap berharga. Bukan hanya untuk membalas pengorbanan dia, tetapi juga untuk semua hal yang kita anggap bernilai untuk kita perjuangkan.

Related Post



No comments:

Post a Comment