Friday, October 30, 2009

TWILIGHT - NEW MOON (2009)

PLOT
After an accident at Bella's 18th birthday party her vampire love Edward, leaves her for her own good leaving her in a deep depression. She's woken up from her depression by her best friend Jacob Black who is a part of the enemies of the vampires, the Quileute werewolves. She finds herself torn between both worlds testing her allegiances.
-------------------------------------------------------------------------------------

Setelah hampir ketiduran di TWILIGHT yang pertama di bioskop, apakah saya masih niat nonton sekuel-nya yg ke-2, New Moon? Ya, saya masih tertarik, hal yang menjadi magnet di film New Moon, adalah kehadiran si cantik, kecil dan berbakat, Dakota Fanning. Dakota Fanning akan berada di group The Volturi sebagai Jane, Jane adalah seorang pengawal The Volturi yang mempunyai kemampuannya menyiksa seseorang dengan ilusi yg menyakitkan. Dan sebagai lead dari The Volturi adalah Michael Sheen (Aro). Ngomongin dikit mengenai Micheal Sheen, actor satu ini sangat laris dan sering berperan sebagai Tony Blair(Prime Minister of the United Kingdom), misalnya di The Deal (2003), The Queen (2006) dan selanjutnya yg masih filming, The Special Relationship (2010). Apakah mereka mempunyai wajah mirip? Sangat beda jauh klo menurut saya pribadi.


New Moon dibuat dengan kisaran budget US$ 50-70 million. Film yang disutradarai Chris Weitz (menggantikan sutradara Twilight sebelumnya Catherine Hardwicke) dan didistribusikan oleh Summit Entertainment . Rencana awalnya film yg di produksi mulai desember 2008 ini, akan ‘loncat’ kepasar tanggal 23 Maret 2009 tapi ditunda dan akan dirilis pada tanggal 20 November 2009.


Yang dijanjikan dari New Moon, masih mengenai cerita romantic dengan segala macam warna konfliknya, dengan group-group seperti The Cullens and the Swans, Quileute tribe, Nomadic vampires, dan The Volturi. Harapan saya, adalah tertumpu pada keinginan untuk melihat acting memukai dari Dakota Fanning, dan benar-benar berharap tidak sampai mengantuk lagi saat melihat New Moon hasil imajinasi Stephenie Meyer yang novelnya di Indonesia mendapat sentuhan judul : Dua Cinta.
------------------------------------------------------------------------------------- Selengkapnya...

Thursday, October 29, 2009

Lomba Desain Maskot 2009

CENTRAL PARK 1001 MASCOT COMPETITION
(deadline : 22 Nov 2009)



KETENTUAN LOMBA
(Bagi peserta yang tidak memenuhi kriteria ini akan didiskualifikasi)
• Partisipan bersifat individu usia 18-35 thn, WNI
• Karya harus asli dan bukan ciptaan orang lain
• Karya belum pernah dipublikasikan sebelumnya
• Menyertakan cerita konseptual tentang maskot yang dibuat
• Menyertakan logo Central Park ke dalam desain
maskot (tidak harus menonjol, tapi harus ada).
• Dicetak di atas kertas dengan minimum ketebalan
150 gsm, jenis kertas dibebaskan, ukuran A4
• Harus merepresentasikan tema dan image Central Park
• Mudah diingat dan disukai banyak orang

ATURAN UNTUK MEMBUAT MASKOT
a. Bebas menciptakan maskot dengan metode yang paling dikuasai. Boleh secara digital, manual,
atau malah gabungan keduanya.
b. Jika pengerjaan karya diproses secara digital maka kamu dibebaskan untuk memakai software apa saja.
c. Mohon perhatikan konsistensi ukuran untuk pengerjaan karya dengan proses manual.

(untuk keterangan lebih lengkap, silahkan klik judul artikel ini)
Selengkapnya...

Wednesday, October 28, 2009

KPK, Si Monster Frankenstein

Jika benar ada rekayasa proses kriminalisasi terhadap dua unsur pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, nasib KPK bagai makhluk yang diciptakan Victor Frankenstein dalam novel yang ditulis Mary Shelley (1797-1851).

Frankenstein adalah ilmuwan ambisius yang mempelajari bagaimana menciptakan kehidupan dan melahirkan makhluk yang menyerupai manusia. Makhluk ciptaannya lebih besar dari manusia dan amat kuat. Setelah Frankenstein bisa memberi kehidupan terhadap makhluk itu, ternyata tampangnya menjijikkan dan menebarkan ketakutan.

Meski dipandang ganas, monster itu baik hati karena sudi membantu sebuah keluarga petani. Monster itu sekadar menanyakan identitas diri dan siapa orangtua yang melahirkannya.

Monster itu bisa diprogram untuk memenuhi agenda yang diinginkan Frankenstein. Namun, karena tidak lagi dikehendaki mengarungi kehidupannya sendiri, monster itu dilenyapkan dari muka bumi. Frankenstein layaknya dikerangkeng dalam ambisinya sendiri.

”Monster” KPK

Itulah yang terjadi saat kalangan elite politik menciptakan aneka makhluk yang mampu memberantas korupsi. Pada awalnya makhluk itu bertugas mengawasi kekayaan penyelenggara negara. Namun, karena tugas itu dirasakan kurang berbobot, makhluk itu ditingkatkan kewenangannya.

Kemampuan menyadap, menahan, dan menuntut diberikan kepada makhluk itu. Karena semua kemampuan itu justru dipandang mengganggu para penciptanya, berbagai upaya untuk melenyapkannya secara sistematis pun dijalankan secara terbuka. Itulah KPK saat dilihat sebagai monster yang menjijikkan dan sedemikian ganas.

Monster itu amat tahu bahwa tugas utamanya adalah memberangus korupsi dari negeri yang dikendalikan para penguasa berwatak pencuri. Namun, ternyata tugas mulia itu tidak dikehendaki para penciptanya. Para penguasa politik yang bermain sebagai Frankenstein itu sekadar menginginkan bahwa sang monster diciptakan dari proses-proses kimiawi dan sisa-sisa tubuh manusia yang membusuk.

Artinya adalah monster itu dihadirkan sebagai manusia tiruan yang dipajang pada etalase kekuasaan. Sebagai penghuni etalase, sosok itu hanya diinginkan untuk memperindah kekuasaan sehingga populer dan mendapatkan decak kekaguman dari rakyat. Monster itu bukan bertugas untuk memangsa para penciptanya sendiri. Namun, apa yang terjadi, ternyata makhluk antikorupsi itu menjebol dinding etalase yang membatasinya dan mulai memburu kalangan penciptanya yang berbuat korupsi.

Menghabisi kehidupan


Berbagai metode untuk menghabisi kehidupan KPK membuktikan absurditas kekuasaan sedang merajalela. Seperti layaknya Frankenstein yang sangat berambisi menciptakan makhluk yang mampu melebihi manusia biasa, tetapi makhluk itu justru tidak disenangi.

Absurditas dalam domain persoalan ini tidak sebatas sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, tetapi juga sesuatu yang telah menjauhi nurani manusia kebanyakan. Bagaimana mungkin makhluk yang dikehendaki kelahirannya oleh penguasa justru hendak dimatikan sendiri.

Absurditas, ungkap Albert Camus (1913-1960), adalah perasaan keterasingan. Perasaan ini muncul di antara dunia dan tuntutan yang harus dibuat berdasarkan pada perhitungan-perhitungan rasional.

Absurditas makin besar karena ada konfrontasi antara kebutuhan manusia dan ketidakbernalaran yang tersembunyi. Untuk mencari jawabannya jelas sangat sulit ditemukan. Suatu jawaban yang benar-benar masuk akal justru disangkal. Jawaban-jawaban lain terus diburu, tetapi berujung pada keadaan yang semakin tidak menentu.

Melenyapkan KPK


Ketika para elite kekuasaan berupaya keras melenyapkan KPK, ada berbagai mekanisme yang ditempuh, dari mekanisme politik yang ditangani wakil rakyat hingga strategi hukum yang dikendalikan kepolisian dan kejaksaan. Semakin cara politik dan hukum digulirkan, semakin pula ketidakmasukakalan mudah dirasakan rakyat kebanyakan.

Padahal, absurditas kekuasaan itu amat mudah dikuak persoalannya. Jika korupsi dianggap sebagai kejahatan yang melawan kemanusiaan dan sulit diberantas dengan teknik-teknik hukum yang biasa, jawabannya adalah menggulirkan regulasi yang luar biasa. Dengan demikian, jawaban dari semua itu adalah mengukuhkan dan membesarkan KPK, bukan menjadikan KPK sekadar sebagai makhluk pemanis etalase kekuasaan.

Para elite politik beraksi bagai menggantikan posisi Tuhan, yakni menciptakan makhluk yang diidamkannya sendiri, tetapi saat tidak dikehendaki kehadirannya, sang makhluk lalu dimatikan.

Pada ranah politik, fenomena itu dianggap sebagai hal lumrah. Namun, dalam tataran etika, perilaku itu pantas dinamakan sebagai hubris, yakni aksi kesombongan, arogansi, yang berupaya merendahkan dan menjadikan korbannya dihinggapi perasaan malu. Bukankah tindakan itu yang dijalankan kepada dua unsur pimpinan KPK dengan menjadikan mereka sebagai tersangka?

Melawan kehendak umum

Sisi lain yang amat buruk dari para penguasa yang dihinggapi hubris adalah tindakan-tindakan mereka amat menentang kehendak umum. Jika dalam demokrasi ada aksioma yang menyatakan suara rakyat adalah suara Tuhan, tidakkah elite kekuasaan yang hendak merontokkan kehidupan KPK bertentangan dengan suara rakyat yang berarti menentang suara umum?

Para elite kekuasaan yang membunuh eksistensi KPK sama dengan menjatuhkan para protagonis. Sebab, bagaimanapun, posisi KPK dalam panggung politik pemberantasan korupsi ialah sebagai pihak yang memegang peran protagonis bagi rakyat, sebaliknya para koruptor berkedudukan sebagai antagonis yang melukai hati rakyat.

Tidak berlebihan jika dikemukakan, KPK telah mendapatkan simpati rakyat. Kehadirannya bagai Prometheus yang mencuri api dari para dewa untuk memberikan pengetahuan kepada rakyat. Namun, para dewa tidak berkenan dengan perilaku Prometheus, lalu dihukum oleh Zus dengan mengikatnya pada sebongkah batu. Seekor elang besar memakan hati Prometheus. Saat hati itu pulih lagi, elang besar itu menyantapnya pada hari berikut. Perumpamaan itulah yang sedang terjadi pada KPK.

Ini semua terjadi karena KPK telah dipandang sebagai monster menjijikkan dan menakutkan sehingga para Frankenstein kekuasaan berusaha membunuhnya agar tak menjadi santapan monster ciptaannya sendiri.

Triyono Lukmantoro Dosen FISIP Universitas Diponegoro, Semarang Selengkapnya...

Monday, October 19, 2009

Hidup Modern

Pulitzer Prize (1953) dan Nobel Prize in Literature (1954) di anugrahkan kepada Ernest Hemingway, untuk tulisannya “The Old Man And The Sea” ironisnya adalah, pada pagi hari tanggal 2 Juli 1961, Hemingway menembak kepalanya dengan senapan. Tidak sampai disitu, 2 orang saudaranya, ayahnya dan cucu perempuaannya Margaux Hemingway, melakukan hal yang sama. BUNUH DIRI. “Lelaki Tua & Laut” yg telah dia tulis, menjadi sebuah omong kosong besar dgn akhir hidup penulisnya sediri.

Flashback dikit, saya tahu Hemingway, dari Cerpen di Majalah BOBO, “Aku Dan Hidupku” yg ditulis Aprilia B Suandi, Cerpen ini menang lomba menulis cerita misteri. Ceritanya nih, tokoh utamanya sakit Leukimia dan bercita-cita ingin menjadi Ernest Hemingway. Saat membaca kisah ini, saya masih kelas 6 SD.

Psikolog atau psikiater atau lebih jelasnya, dokter jiwa, mungkin lebih paham mengenai penyakit kejiwaan. Semisal Self-Injury(SI) yang mana penderitanya, sangat menikmati dan merasa “enak” kalau melukai dirinya sendiri, dgn cara menyayat-nyayatkan sesuatu kebadannya sebagai contoh. Teman saya si penderita SI sebut namanya R, R mempunyai keinginan besar, ingin menggergaji atau mengebor tangannya sendiri. Dan teman saya R ini, sudah bolak-balik ke unit gawat darurat.

Seorang teman saya yg lain sebut namanya L, L punya halusinasi, bolak-balik ke psikolog atau psikiater , berharap para ahli jiwa bisa menyelesaikan masalahnya. L depresi berat. Dimata saya L itu sangat pintar, otak dia encer dgn kemampuan berkomunikasi yg terbilang hampir sempurna.

Jika Ernest Hemingway, datang kesaya minta saran untuk menyelesaikan depresinya, saya pasti bilang : Agama, itu yg juga sudah saya bilang ke R dan L. khusus L dia berkata, “Gw tidak pernah yakin dengan agama gw dan gw paling anti kalau di ingatkan untuk kembali ke agama!” ya, ya dan ya, inilah kehidupan modern.

Saya adalah pembaca kolumnis setia Samuel Mulia, yang selalu mengisi kolum Parodi KOMPAS tiap hari minggu. Saya kira, SM mempunyai kualitas manusia yg “full” wajar dia bertahan bertahun-tahun mengisi kolum tersebut. (ng tau klo Mario Teguh menawarkan diri mengisi kolum tersebut, mungkin geser tuh SM)

Jadi, “Ada udang di balik badak” maksudnya, bingung saya menyimpulkan apa.

Ada statement, “Agama adalah tempat pelarian manusia!” itu ada benarnya, tapi tidak semua manusia bisa lari ke agama, kadang ada yg sudah tertutup hatinya, jadi bersyukurlah yang bila tersesat-sesatnya masih bisa kembali ke agama. Sebab agama menawarkan solusi dan pondasi, seorang manusia, akan menemukan kekuatan sejatinya jika manusia tersebut sudah benar-benar meyakini kebenaran agamanya. Dan itu merupakan pondasi yg kuat, bekal yg cukup dalam hidup. Bakal jauh dari penyakit yg melanda Jepang yg bertipe-kan “suicide” atau pun depresi tiada henti. Selengkapnya...

Sunday, October 18, 2009

Intermezzo

Temen-temen saya, terutama yg cewek, sangat tergila-gila TWILIGHT Saga-nya Stephanie Mayer dan memang, itu bacaan yg lagi popular(baca – gaul) untuk saat ini. Saya lumayan bakal melirik New Moon(film) karena sebuah alasan, ada Dakota Fanning. Tahukah “sampeyan” dengan Dakota Fanning? Dia adalah Lewellen, gadis kecil liar yang di perkoasa karena ingin mendapatkan tiket konser Elvis Presley, di tahun 1850-an didalam file cerita Hounddog.

Karena saya tidak memiliki kualitas dalam hal popularitas, maka saya tidak terlalu menyukai hal yang bersikap popular(Baca-yg digandrungi oleh banyak orang). Dan karena itu, saya sering tidak sejalan dengan para writer, dan teman saya suka bilang, “Kok “panjenengan” ora manut aja sih, itu aja kok repot!” di serial LOST, saya pendukung setia Juliet, yang sepertinya mau di “pateni” sama writernya dan pembenci berat cast yg kebanjiran fans macam Sawyer dan Jack. Kalau Shining Inheritance / Brilliant Legacy lain lagi, saya terpaksa berhenti di episode 21, hanya karena si Go Eun Sung lebih memilih si brengsek yg tobat Sun Woo Hwan daripada Park Jun Se( karena hal ini saya menyimpulkan cewek memang suka cowok yg brengsek)

Saya juga pendukung setengah mati (tidak sampai mampus sih) setia Kurosaki Ichigo – Kuchiki Rukia, alasannya, karena si Rukia, adalah seorang gadis dari bawah, kemudian menjadi bangsawan sebagai pengganti, pernah mencintai lelaki beristri yang kemudian terpaksa dia bunuh dan menentang hukum didunianya demi orang yg tidak dia kenal, Ichigo Kurosaki.

Dan belakangan, saya baru tahu, kalau Han Nolan itu bergender-kan Female, selama 3 tahun saya mengira dia Male, saya kaget, mengingat betapa tangguhnya dia member emosi kepada tokoh rekaannya, Leshaya , si gadis kulit putih yang memuja dan menginginkan menjadi gadis kulit hitam.

Jerman boleh ngamuk gara-gara Downfall (Der Untergang) film yg nominated for the Academy Award for Best Foreign Language Film ini, tapi saya tidak akan menyalahkan “sampeyan” jika bersimpati terhadap “Adolf Hitler” setelah menonton film ini dan Katakan lah saya adalah si pengkhianatan Amir, yang mengkhianati si Hassan, kemudian mati-matian berusaha memperbaiki kesalahannya dalam The Kite Runner. Terus ada yg namanya ibu tidak bahagia seperti April Wheeler, yg diberi Sam Mendes judul - Revolutionary Road, yah, Kate Winslet, sang gadis yg menemukan cinta sejatinya di Titanic, panen penghargaan, dgn menjadi April Wheeler (Menang Golden Globe 2009) dan Hanna Schmitz (Menang Oscar 2009) sebagai mantan wanita penjaga penjara Nazi dan terlibat affair dgn “brondong” berumur 15 tahun.

Apa yg ingin saya sampaikan?

Jika “sampeyan”, adalah kaum minoritas seperti saya, hal yang sedikit membanggakan adalah tidak menjadi follower. Saya tidak sedang berusaha untuk kelihatan berbeda, tetapi saya hanya menyukai apa yg saya sukai, punya penilaian terhadap apa yg saya sukai. Kecilnya saya adalah Oliver Twist, Besarnya saya adalah Leshaya, dan matangnya saya adalah Amir-The Kite Runner trus tua dan matinya saya adalah Ernest Hemingway (astagfirullah, jgn sampai) Edward Cole atau Carter Chambers dalam The Bucket List. Selengkapnya...

Friday, October 16, 2009

Wednesday, October 14, 2009

Pulang

PART I : Saya dan nenek.

Si nenek teman sebangku saya didalam trevel2,5 jam perjalanan samarinda-balikpapan, mengatakan dia lahir di Samarinda tapi besar di palu. Dalam hitungan 180 detik awal pembicaraan, nenek itu berkata, “saya punya 5 orang anak kandung dan 2 orang anak tiri!”

“2 orang anak tiri saya, adalah hasil selingkuhan suami saya. Dan saya memang istri tua-nya!” saya mengerutkan dahi, saya sangat sensitive dgn perjalanan darat, dan pemabuk, menjadi terlena.
“kemudian, suami saya itu ditinggalkan istri mudanya dgn lelaki lain, dan meninggalkan 2 orang anaknya, yang pertama berumur 2 tahun dan yang kedua berumur 9 bulan!” oke, tim termehek-mehek akan sangat menikmati cerita ini, termasuk para fans setia penonton tayangan itu. Saya? Swear, saya anti tayangan tersebut.

“saya merawat dan membesarkan kedua anak tersebut, sampai dia besar dan menjadi orang berhasil seperti sekarang ini, dan mereka sangat menyayangi saya, berterima kasih mungkin”
Dikata “selingkuh” dikalimat-kalimat awal cerita, ada nada berat dan benci, mungkin nenek ini belum memaafkan sepenuhnya, tapi, ketika dia berkata merawat dan membesarkan 2 anak dari 2 orang yg menyakitinya, dia sudah ikhlas, dia sudah benar-benar menerima, itulah yg bisa saya tangkap. Acceptance, penerimaan. Si nenek sudah sampai ditahap kehidupan yg paling tinggi. Dia wanita yang berumur dan punya sejuta kisah. Dan saya adalah lelaki setengah umur yang merasa renta dihantam kisah.

“suami saya itu, sepupu sekalinya pak Jusuf Kalla…”
Saya setengah percaya dgn kalimat dari sang nenek yang terakhir ini, tapi saya sangat ingin tertawa, teringat teman saya : Lysia Kusumawati.

---
PART II : Saya dan bapak beranak satu.

Saya tidak tahu pasti, apa bapak itu bener-bener beranak satu, atau karena memang kebetulan anaknya cuman satu yg dibawa.

Ini cerita setelah pertemuan saya dgn si nenek sebelumnya, kali ini, saya di waiting room, bandara sepinggan. Saya sedang asyik mengunyah Apollo (wah saya makan produk dari Malingsya), dan saya menikmati pemandangan didepan saya. si anak dari si bapak yg beranak satu, umurnya sekitar 10 tahun. Mondar-mandir ke toilet dan keluar dgn rambut yang basah. Si anak ini sangat memperhatikan gaya rambutnya yang Mohawk. Mau tidak mau, membuat saya menyentuh jambul saya sendiri.

Saya tidak tahu, apa yang membuat si bapak berkali-kali melirik kearah jam tangan. Kemudian si bapak membawa anaknya ke musholla di waiting room, dari yg saya tahu, tiket kami sama, dan sebentar lagi akan ada panggilan boarding. tidak sampai satu menit si bapak masuk musholla, panggilan boarding yg pertama. Orang-orang sudah ramai memenuhi pintu exit menuju pesawat.

Saya masih duduk, mengamati pintu musholla, menunggu si bapak dan si anak.
Panggilan boarding yang terakhir, saya masih belum bergerak, melihat kearah pintu musholla, hati saya kebat-kebit. “klek” pintu musholla terbuka, si bapak dan si anak yg rambutnya bergaya keluar dan setengah berlari menuju pintu A2 tempat boarding. saya berjalan mengikuti.

Boarding pesawat yg saya naiki, bertepatan dgn adzan sholat dzuhur, dan lebih dari 100 penumpang pesawat tersebut, yg menyempatkan sholat, hanya si bapak dan si anak yg rambutnya bergaya Mohawk.

(9 Oktober 2009. perjalanan dr samarinda ke jakarta)
Selengkapnya...