Thursday, April 30, 2009

MEMETAKAN JOGJA part 1


*INI sore yang mendung sebenarnya, dalam pikiranku yang tidak terlalu statis, aku tidakt tahu, ada yang menggantung…

Bekalku untuk datang ke Jogja adalah tekad, aku harus pergi dari kehidupan lamaku. Aku akan jauh dari semua nama yang aku tidak aku sukai dan aku akan berhadapan dengan orang baru, menemukan sahabat baru, hidup baru, gaya baru dan yang penting aku sudah maju satu langkah untuk sesuatu yang aku mimpikan dari dulu

Ada perbatasan yang aku sukai di Jogja, aku suka musimnya yang lumayan konsisten, jika masuk musim panas, panas akan menghajar dalam waktu berbulan-bulan, sampai ranting-ranting pohon mindi meranggas, rerumputan menjadi berkesan orange. Dan akan ada isitilah kesulitan air untuk yang bergantung pada galian sumur-sumur yang dangkal

Kemudian, lihatlah hujan, akan turun terus menerus, pepohonan dan rerumputan akan menghijau. Dan karena aku tinggal didaerah yang tidak terlalu jauh dari gunung, maka tidak mengenal banjir. Jalan Kaliurang KM 13.5 > Jln Besi > Pom Bensin > Tegal Mindi > Kos Pa’ Nassim, setidaknya kalau aku amnesia, aku masih bisa meruntutkan jelas kordinat kos yang pernah aku tinggali. Aku tinggal hampir tiga tahun di kost berlantai 2 ini. Aku tidak tahu persisnya berapa lama aku tinggal, berapa duit yang sudah pernah aku bayarkan untuk fasilitas kamar yang bahkan tidak selebar 3 x 3 M.

*ada satu hal sederhana yang aku ingin aku ingat, tapi, brensek, aku lupa, aku kesal karena tidak bisa mengingatnya, aku hanya butuh ingat satu judul film yang aku tonton dalam kurun waktu tidak lebih dari 3 hari yg lalu...

Kemudian, siapa aku setelah mengenal Jogja? Siapa aku yang tidak pernah lupa dengan pantulan cahaya matahari pagi di riak ombak pada sepanjang permukaan air di desa kecil yang menghadap pulau-pulau dipedalaman kaltim lalu, haii Jogja,.?
Apa bagiannya?

Aku datang, dalam semua hubungan hangat, aku datang, aku memandang, aku tersenyum, aku tertawa, aku bersandar, bersandar. Tidak banyak waktu yang bisa bertahan. Semua sepertinya terlalu rapuh, tidak ada yang bisa bertahan. Waktu yang menguji mentalitas hubungan apa yang kau sebut dengan cinta, persahabatan, intim, sampai pada kebenciaan.

Dan pria kampung itu, terjebak dalam halusinasi ’hore, aku berlayar jauh dari namamu, dari kebenciaanku’ mabuk bahwa akan ada yang manis, setia, hangat dalam dia yang yakin pada sebuah hubungan antar manusia.
Itu memang ada
Kuungkapkan sementara seperti itu.

Lihatlah layarnya, terkembang menjauh. Aku bisa mengontrol. Dengan semangat, ambisi dan obsesi, aku percaya. Cobalah waktu, uji saja dan kita akan tahu ini akan berakhir sampai dimana.
Aku pikir, ada pola yang sama, yang kuterapkan dalam kehidupanku, pola yang sama antara kehidupan lamaku dan kehidupan yang aku sebut baru.

Aku di khianati, aku dikhianati oleh diriku sendiri, aku tidak cukup baik, aku tidak cukup kuat dalam semua hubunganku. Aku memanjangkan tangan, merengkuh 1000, 10.000, bahkan 100.000 orang-orang, sesaat kemudian, aku terjerambak, semua yang aku rengkuh dalam tanganku yang panjang, berhamburan.

”jika kapal yang kau tumpangi tenggelam, kemudian ada perahu penyelamat, berapa orang yang kau harapkan bisa ditampung oleh perahu penyelamat itu?”
”berapa kira-kira yang bisa dimuat perahu itu?’
”10”

Aku mampu, hanya mampu memikirkan angka 10, itulah puncaknya, yang bisa dicapai logika dalam sebuah teori psikologi yang tolol dan dengan tolol aku percaya dengan pertanyaan itu.

Pada sebuah awal, aku memilik banyak suara yang aku sendiri mungkin tidak sanggup untuk mendengarkan semuanya. Aku mengontrol semua kebohongan, berbisnis dengan itu, dengan kesadaran yang sepenuhnya. Sebutlah aku unik, istimewa dan pintar, maka aku akan berbangga. Tapi apa lah arti sebuah sebutan, waktu memakannya, waktu hanya kelihatan tua dan usang dibawah telapak kaki kesetiaan. Jika saja, aku disebut setia, maka aku tidak akan pernah tua dan usang.

Menjadi terlihat unik, istimewa dan pintar, kemudian bisa mendapatkan segalanya, adalah hasil sebuah persaingan, dan hasil harus teruji dengan persaingan lagi. Bersaing lagi, lagi, lagi dan lagi. Saat berada dititik yang kita sebuh lelah, kau pikir sia-sia, lalu kau berhenti, apa yang kau dapatkan? Nothing....

Jika kau tahan dengan semua godaan untuk tidak mengkhianati kesetiaanmu, kau akan punya banyak hal yang pantas dikenang, dan kau akan punya banyak hal dalam genggamanmu. Kau pantas untuk banyak hal.

Aku yang baru tahu akan hal itu, saat menulis ini, berteriak
”APAKAH KESETIAAN ITU ADA?”
”AKU TIDAK PERCAYA KESETIAAN ITU ADA!”
Dan aku tidak terlalu mau membayangkan, saat orang disekelilingku berada pada titik, berkhianat pada kesetiannya yang dimilikinya.
Ini belum selesai, belum sama sekali....

(Phase 227. January 9th, 2009. 06:24 PM)



Selengkapnya...