Tuesday, December 15, 2009

Carpe Diem

Apa yang telah hidup lakukan padamu? bernafas! kalau udah ng bernafas artinya mati. that's it.
kadang-kadang, sekuat apapun kita berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dalam hidup kita, kita tidak bisa. kadang-kadang kita tidak diberi kemampuan dan peluang untuk mendapatkannya. dalam hal-hal tertentu, kita diberi limit. batasan. dan bagi sebagian orang, mereka tidak akan mampu untuk melampaui batasannya.

misalnya saja, kita menginginkan sesuatu yang "ini" tetapi kemudian kita diberikan sesuatu yg "itu" kemudian kita terima sesuatu yg "itu", kita kerjakan. kita berusaha ikhas, dan berpikir ini mungkin memang jalan yang harus kita lalui, tetap hasrat manusiawi kita terkadang complain dan berpikir, "Saya bisa melakukan hal yang lebih baik kalau saya diberi apa yg saya inginkan, saya punya kemampuan disana, saya akan bisa meraih grade, hasil maksimal jika saja diberi jalan kearah yang saya inginkan"

tapi, sebagian orang mencoba bertahan, dengan jalan yang diberikan kepadanya. berusaha mempertahankan, memperjuangkan apa yang ada. dengan semua kesulitannya. bullshit kalau orang-orang bilang hidup ini pilihan. sebab sesuatu dikatakan pilihan secara logika, kalau sesuatu itu sama baiknya untuk dipilih. nah, kalau sesuatu itu terlihat sangat jelas baik-buruknya, manusia yang punya otak tak akan memilih, itu bukan pilihan, tapi jalan. keadaan. misalnya saja, si A, dia punya keadaan untuk sekolah atau tidak sekolah, si A yang punya otak memutuskan bersekolah. dan si B, dia punya pilihan sekolah di kedokteran atau di teknik, nah ini baru dikatakan pilihan. sebab secara isi perbandingannya 50:50, bukan seperti si A yang situasinya 0:100.

kalau dibahas sedikit, si B bernasib baik, dia tinggal memikirkan jalan yang dia inginkan, sedangkan jika di posisi si A, siap-siap saja banting tulang keringatan. berusaha mempertahankan loyalitas dan integritas untuk di kenal pantas menjadi manusia seutuhnya.
kenapa demikian?

sebab si A yang bentuk keadaan pilihan hidupnya 0:100, berusaha mempertahankan skill-nya dijalur yang bukan dia pilih, melainkan keadaan yang memilihnya. jelas tidak mudah. butuh keinginan, hasrat dan cinta seutuhnya untuk dapat membangun sebuah objek yang besar dan hebat dalam hidup ini. jika itu tidak dimiliki si manusia tersebut, dia hanya lah seperti kuli, melakukan sebuah perkerjaan karena dia dituntut keadaan, untuk perutnya, untuk keluarga, untuk yang dia sebut sebagai masa depan. dan sosok A, sangat lah berpotensi untuk menjadi "robot manusia si hasil keadaaan" tetapi, ini tidak lah buruk, agama saja mencintai manusia yang dapat mensyukuri nikmat hidup, itu sudah dianggap lebih dari cukup.
----------------------
pola kehidupan bersyukur, bisa membuat hidup terasa longgar dan plong. pola kehidupan yang pintar menerima keadaan, membuat hidup santai dan bahagia. ini tidak klise. ini fakta.

tapi, silahkan buka-buka dikit buku sejarah, seseorang yang besar, merubah dunia (misalnya saja penemu) terkadang mereka bukan lah orang yang pintar bersyukur dan menerima keadaan, mereka adalah orang-orang ambisius yang selalu terjaga dalam tidurnya, memikirkan ide-ide dan tidak pernah merasa cukup terhadap sesuatu. selalu dipacu untuk memperjuangkan sesuatu, seperti sebuah kesempurnaan yang tidak ada habisnya. di Negara Indonesia, kita punya banyak orang-orang seperti ini, tetapi tak lebih hanyalah orang-orang sampah, selayaknya tikus, para kuli pengumpul duit, penumpuk harta untuk dimakan sendiri, hukum menyebutnya koruptor. dan di Negara kita, kita punya yang namanya tradisi "nerimo" dan "legowo"

ini adalah berbagai dimensi yang namanya hidup. saya yakin banyak yang masuk surga adalah dari orang-orang yang biasa, yang pintar bersyukur dan nerima keadaan. dan kadang terpikir juga, kasihan pada para tokoh besar, yang mengejar ambisi hidup mereka untuk mengubah dunia, bekerja siang dan malam seperti Newton atau Edison. bisa dikatakan mereka tidak punya keluarga bahagia, dan tidak punya kehidupan yang dikatakan ideal. dan penghargaan yang mereka dapat tak lebih catutan nama dibuku sejarah. kadang sepertinya itu tidak cukup. dan sebuah kemampuan, keahlian, skill atau pun kecerdasan, kadang seperti sebuah anugrah dan seperti juga sebuah kutukan. dua sisi mata uang yg tak bisa dipisahkan.

Related Post



2 comments:

  1. pak, saya jg pernah jd org super-ambisius. lebih parah dr hermione granger.

    tp terus stelah saya pikir2 lg buat apa lah. toh pada dasarnya semua manusia itu tidak ada yg pintar. karena kebenaran datangnya dari Tuhan dan kesalahan dari manusia.

    terus, kalo kita terus-menerus yg semangat berusaha, tp org lain di sekitar kita gak ada yg berusaha jg rasanya percuma. kyk saya sekarang nih, didorong2 utk bikin skripsi tp gak didukung sm pembimbing, sidangnya malah dipersulit sm birokrasi fakultas. *kok curhat*

    saya mau jd penggembala domba saja setelah lulus kuliah.

    ReplyDelete
  2. Uiii, cewek tuh klo punya ambisi gede harus dipertahankan, saya sampe jadi kakek2 gini ya, baru ketemu 2 orang dlm hidup ini, cewek yg bener2 menjaga ambisinya sampe setengah mampus. sudah gitu, cewek ini ambisinya sejalan dgn syariat agama, dia berusaha menempuh hidup syari'i bersamaaan dgn ambisi mereka. saya akui, saya jauh lebih letoy dr 2 cewek ini.

    biasanya dosen pembimbing ada dua kemungkinan, yg pertama suka mempersulit (terjadi dikampus2 besar, lebih mengarah pada gengsi) yg kedua dosen pembimbing yg perpeksionisnya minta ampun (terjadi di kampus besar, biasanya dosennya lulusan luar negeri, keberatan gelar)hahaha.

    terserah orang mau mendukung atau tidak, sejauh kowe dah melakukan yg terbaik, itu lebih dari cukup. klise, tapi fakta, biasanya sih klo di film2 endingnya bakal diluar dugaan klo bisa membentuk karakter seperti ini.

    ReplyDelete