Thursday, November 5, 2009

Vertikalisasi Sosial

Suatu malam saya mengirim SMS keteman saya yg berbeda pulau, bunyi SMS-nya seperti ini, “[tiba2 memahami sesuatu, klo aku yg jadi cowok yg suka sama kamu L**, tapi ng kesampaian, pasti rasanya sakit bener. Benar loh, untung aja aku ng diposisi itu. Alhamdulillah”
Teman saya itu bukan selebritis, tapi dia mempunyai kelas dia sendiri, bisa saja dia berada diluar kelasnya, tapi pada akhirnya dia tetap akan bertahan dan mempertahankan untuk tetap berada didalam kelasnya, didalam istana yang dia sadari, adalah tempat terindah dan terbaik didalam hidupnya. Ketika dia berada diluar istana dia, dan kemudian dia menggambarkan tentang ‘tempat’nya dia, dia memperlihatkan sebuah kelas dan takdirnya dia. Tentu bukan orang sembarangan yang bisa mencapainya. Saya tidak membicarakan hubungan antar sesama manusia secara vertical, iya memang teman saya ini, sama saja seperti saya, tapi pencapaian takdir yang diberikan berbeda. Dia lahir dari kalangan yg orang bisa sebut high class.
---------------------
Ada jenis orang, mencintai seseorang saja sudah sulit, eh malah cintanya itu tidak berbalas. Maka, silahkan tertawa. Dan silahkan tertawa tambah nyaring, ketika si pencinta yg susah mencintai ini, tak terbalas ini, ditambah sakit yg ‘tak tertahan’kan, kenapa demikian? Ya karena bisa jadi dia kesandung structural vertical kelas social manusia tadi, apa jadinya kalau dia dari kalangan bawah, dia bisa saja memanjat dengan gigih, tapi sebut persentasi yg berhasil? Paling mentok dikisaran 5%, apalagi kalau dia lelaki. Di dongeng Andrea Hirata adalah contoh kasus yg sukses, si Arai berhasil meraih wanita idamannya. Dan di dongen kerajaan inggris, Lady Diana yg guru TK, menerima kehancuran dalam hubungan hati bersama Pangeran Charles.
Structural vertical kelas social antar manusia, itu hal alamiah, banyak teori keseragaman kelas tetapi, pada kenyataannya, vertikalisasi itu memang, sekali lagi, ALAMIAH. Sebab vertikalisasi hasil dari hal yg disebut “TAKDIR” manusia.
Apa saya complain? Sama sekali tidak, saya cuman suka mengamati hubungan teman-teman yang kadang berbenturan dgn vertikalisasi social. Dan pada akhirnya, setelah puas mereka-reka, mereka akan kembali ke posisi masing-masing. Dan kadang seperti menjadi sebuah parodi, merasa tersakiti dan disakiti oleh masing-masing pihak.
saya yang hobby menonton, kadang tak bergeming dibangku penonton, merasa menjadi cirri khas saya. tapi, Tuhan mempunya rencana bukan? Dan Dia menuliskan sebuah kisah. Saya menjalani sebuah kisah saya sendiri, menertawakannya bersama tontonan yang lalu lalang dihadapan saya.
kita, pada akhirnya, yang berasal dari tanah, akan kembali ke tanah. Itu hal yang paling mendasar. Dan jika ingin hidup tanpa sebuah beban yang terlalu besar, saya mungkin masih terlalu dini untuk mengatakan, ingatlah selalu asal dan tempat kita. Sekuat apapun kita mendaki, setinggi apapun kita berusaha terbang, sekeras apapun kita memanjat, kita memiliki takdir kita. Saya orang biasa, takdir saya adalah menjadi orang sederhana, yang saya jalani adalah berusaha menjadi orang yg bermamfaat bagi keluarga saya. itu sudah cukup bagi saya.
---------------------------------
(Phase 498. Nop 5th, 2009. Wendesday. 09:24 PM)

Related Post



No comments:

Post a Comment