Monday, November 30, 2009

The ROCKET

Pada saatnya nanti, kita akan mati sendirian… akhir yang buruk bagi seseorang yang menyukai keramaian dan takut akan kesendirian.
How about me?

Ketika saya berangkat untuk study di Jogjakarta pertengahan tahun 2005, saya berbekal semangat akan memulai hidup baru, dan melupakan beberapa potongan kisah persahabatan yang berantakan, penuh kemunafikan dan kebohongan, meninggalkannya dibelakang punggung saya. Ya, dengan kesombongan, keangkuhan dan keyakinan, saya meyakini, kalau saya cukup ‘manis’ untuk bisa punya kisah potongan relationship yang ‘manis’ bersama manusia lainnya.

Dan saya memulai beberapa relationship bersama manusia tentunya, dengan beberapa awalan yg manis, dengan manusia pilihan yang ada dihadapan saya. ya, saya memilihnya, menyeleksinya dan mengoleksinya. Sayangnya, metode-metode yang saya terapkan dalam relationship saya antar sesame manusia, menggunakan metode lama dan kekanak-kanakan, bukan sebuah metode yang bakal bisa bertahan lama, saya menyadarinya, menikmatinya, dan berpikir, bisa jadi dimana pun saya hidup, itu memang sifat dasar saya.

Karena saya bukan pemain tunggal, dipuncak karir relationship saya, saya sadar, saya menjadi pintar melukai, menjadi pintar bersandiwara, menjadi pintar berbohong dan menjadi ahli sebagai pelaku manusia munafik. Dan beberapa orang menjadi korbannya, dihadapan mereka saya memalingkan wajah, dan kadang saya mengangkat dagu menantang, “katakan dimana letak salah saya?” mereka terlalu baik, dan tidak ada yang mengatakan kepada saya, mereka berlalu dan berpaling ke manusia lain. Dan akhirnya, saya mengatakan kepada diri saya sendiri, dan saya menganugrahkan kepada diri saya sendiri, mengenai siapa saya.

Ketika saya mencari cinta dan kasih sayang ditengah banyak orang, saya seakan-akan mendapatkannya, tapi kemudian semua seperti bualan yang membuat saya tidak tenang. Titik baliknya adalah, saya mencari ketenangan, ditengah titik NOL pengharapan atas perhatian orang-orang, dan bersembunyi ditengah kesendirian saya.

Saya belajar bermain jarak antar sesama manusia. Tanpa saya sadari step jarang yg saya ambil terlalu jauh, membuat orang-orang berkomentar, “Why are you always alone just you and your self?” and then, “do you not have any friend?” pertanyaan yang tidak salah.

Di Bandung, dengan tingkat kehidupan individualism yg lebih tinggi, saya yg melanjutkan study disana, seperti menemukan tempat. Saya menjadi total sendirian. saya focus sepenuhnya dengan study yg saya ambil dan saya NOL besar dalam relationship sesama manusia. Kadang-kadang saya rapuh dalam kesendirian saya, saya menertawakan garing hal-hal yang sangat kecil, dan yang terakhir, kadang saya merasa, sensitifitas antar sesama manusia saya menjadi tumpul dan menghilang.
Sampai di proses hidup saya yang ini, saya sangat menghitung untung dan rugi. Saya berbicara dengan orang hanya seputar basa-basi, masalah umum, study dan kerjaan. Yang ada dikepala saya hanya ada karir dan masa depan. Tak ada satu bentuk dan satu sosok pun yang saya lihat.

Katakan lah saya salah, katakan lah pada akhirnya mungkin saya akan menyesal. Katakan lah saya terlalu pengecut untuk sebuah relationship, takut melukai dan takut dilukai.

Ini bukan sebuah statement final, saya tidak tahu apa yang nantinya akan merubah saya. tapi untuk sementara ini, saya merasa tenang dan nyaman, merasa lebih kuat dan lebih jujur, dengan semua kesendirian saya.

Saya tidak ingin hidup dalam kebohongan-kebohongan, menggantungkan karakter saya pada pada perhatian dan cinta orang lain yang saya sama sekali tidak tahu, itu bisa bertahan dan berakhir kapan….

Related Post



No comments:

Post a Comment