Monday, November 9, 2009

Lentera Ajaib


Suatu pagi (sebenarnya persis-nya kapan ng tau) dimusim hujan, saya mendapat sebuah bingkisan besar. Yang berat. Saya pun membukanya, ketika saya melihat isinya, saya terperangah, kaget. Isinya lentera(mungkin orang china bilangnya lampion, saya lebih suka ,menyebutnya lentera) yang sederhana tapi unik, dibungkus kertas tipis. Dan hebatnya, lentera itu apinya menyala tanpa saya sulut dengan korek api.

Jadilah si lentera mainan saya dimusim hujan, yang sangat suka saya pandangi, saya suka senyum-senyum sendiri melihat apinya yang bergoyang-goyang ditiup angin yg tipis, menimbulkan rasa hangat didalam hati saya. setiap kali saya ingin menyentuh apinya yang anggun, saya mengurungkan niat, takut ke ‘obong’(bakar). Jadi yah, saya hanya bisa memandanginya, senyum-senyum sendiri, mendorong-dorong kertas manis yang mengitari api lentera.

Dan musim hujan pun berlalu, ketika saya sedang keluar dan kembali ke kamar saya, saya menemukan api di lentara padam, saya bertanya-tanya, memang dari kemarin-kemarin apinya semakin mengecil. Dan si lentera terpojok sepi di kamar saya, tanpa cahaya. Saya menyesali, kenapa ketika apinya masih besar tidak saya terbangkan, sebab ini memang lentera yg bisa terbang? Kenapa sewaktu apinya besar tidak saya padamkan saja lebih dahulu?

Sedih melihat lentera yang padam itu teronggok di sudut kamar, kecewa juga kenapa begitu cepat padamnya padahal tidak saya apa-apakan. Ketika saya bersih-bersih kamar, saya berpikir, “ah kamar saya sempit bener!” saya memutuskan untuk membuang lentera tersebut. Saya letakkan lentera itu di tempat sampah. Hari-hari berlalu, saya keluar kamar dan beraktivitas seperti biasa, dan tidak tahu beberapa hari, ketika saya melewati tempat sampah, lentera yg padam itu masih tergeletak disana. Setelah lirik kiri-kanan, saya pungut

Saya berusaha menyulut kan korek api ke si lentera, biar menyala, tapi tidak bisa, malah usaha saya menyelakan api si lentera membuat kertas hiasan si lentera jadi acak-acakan. Stres saya dibuat oleh lentera antik itu. Dan anehnya, ketika saya sedang santai-santai membaca buku dikamar saya, ketika saya pulang kampung, si lentera yg padam ada di sudut kamar tersebut, kok bisa? Bagaimana caranya bisa lolos dari pengecekan security di bandara? karena keanehan tersebut, apapun yang saya lakukan, semisal makan, beraktivitas, mau tidur, topic dalam pikiran saya tidak jauh-jauh dari si lentera dan apinya.

Karena lentera yang padam itu selalu ada disudut kamar saya, saya pun menyerah untuk membuangnya. Saya biarkan saja dia disana, dgn warna-warnanya yang mulai buram, yg sumbunya mulai menghitam dan menjadi salah satu barang antik saya. terasa sesak mengingat dia sudah tidak mau menyala, walaupun saya sudah berusaha menyulutnya.

Karena lentera yang padam itu sudah terlanjur ada disudut kamar saya, saya menghidupkannya dalam ingatan saya, kalau apinya pernah menyala dan menghangatkan saya. biar saja lentera antik itu disana, yang selalu menggoda saya untuk membuangnya. Tapi tidak bisa saya lakukan, dan saya akan membiarkannya lentera itu apa adanya disana, suatu hari, ketika kehidupan saya beranjak bergerak maju, lentera antik berangsur-angsur lenyap, seperti yang sudah-sudah, seperti buih dari aliran sungai kecil yang akan kehilangan arti di penghujung sebuah muara…

Related Post



No comments:

Post a Comment