Wednesday, October 14, 2009

Pulang

PART I : Saya dan nenek.

Si nenek teman sebangku saya didalam trevel2,5 jam perjalanan samarinda-balikpapan, mengatakan dia lahir di Samarinda tapi besar di palu. Dalam hitungan 180 detik awal pembicaraan, nenek itu berkata, “saya punya 5 orang anak kandung dan 2 orang anak tiri!”

“2 orang anak tiri saya, adalah hasil selingkuhan suami saya. Dan saya memang istri tua-nya!” saya mengerutkan dahi, saya sangat sensitive dgn perjalanan darat, dan pemabuk, menjadi terlena.
“kemudian, suami saya itu ditinggalkan istri mudanya dgn lelaki lain, dan meninggalkan 2 orang anaknya, yang pertama berumur 2 tahun dan yang kedua berumur 9 bulan!” oke, tim termehek-mehek akan sangat menikmati cerita ini, termasuk para fans setia penonton tayangan itu. Saya? Swear, saya anti tayangan tersebut.

“saya merawat dan membesarkan kedua anak tersebut, sampai dia besar dan menjadi orang berhasil seperti sekarang ini, dan mereka sangat menyayangi saya, berterima kasih mungkin”
Dikata “selingkuh” dikalimat-kalimat awal cerita, ada nada berat dan benci, mungkin nenek ini belum memaafkan sepenuhnya, tapi, ketika dia berkata merawat dan membesarkan 2 anak dari 2 orang yg menyakitinya, dia sudah ikhlas, dia sudah benar-benar menerima, itulah yg bisa saya tangkap. Acceptance, penerimaan. Si nenek sudah sampai ditahap kehidupan yg paling tinggi. Dia wanita yang berumur dan punya sejuta kisah. Dan saya adalah lelaki setengah umur yang merasa renta dihantam kisah.

“suami saya itu, sepupu sekalinya pak Jusuf Kalla…”
Saya setengah percaya dgn kalimat dari sang nenek yang terakhir ini, tapi saya sangat ingin tertawa, teringat teman saya : Lysia Kusumawati.

---
PART II : Saya dan bapak beranak satu.

Saya tidak tahu pasti, apa bapak itu bener-bener beranak satu, atau karena memang kebetulan anaknya cuman satu yg dibawa.

Ini cerita setelah pertemuan saya dgn si nenek sebelumnya, kali ini, saya di waiting room, bandara sepinggan. Saya sedang asyik mengunyah Apollo (wah saya makan produk dari Malingsya), dan saya menikmati pemandangan didepan saya. si anak dari si bapak yg beranak satu, umurnya sekitar 10 tahun. Mondar-mandir ke toilet dan keluar dgn rambut yang basah. Si anak ini sangat memperhatikan gaya rambutnya yang Mohawk. Mau tidak mau, membuat saya menyentuh jambul saya sendiri.

Saya tidak tahu, apa yang membuat si bapak berkali-kali melirik kearah jam tangan. Kemudian si bapak membawa anaknya ke musholla di waiting room, dari yg saya tahu, tiket kami sama, dan sebentar lagi akan ada panggilan boarding. tidak sampai satu menit si bapak masuk musholla, panggilan boarding yg pertama. Orang-orang sudah ramai memenuhi pintu exit menuju pesawat.

Saya masih duduk, mengamati pintu musholla, menunggu si bapak dan si anak.
Panggilan boarding yang terakhir, saya masih belum bergerak, melihat kearah pintu musholla, hati saya kebat-kebit. “klek” pintu musholla terbuka, si bapak dan si anak yg rambutnya bergaya keluar dan setengah berlari menuju pintu A2 tempat boarding. saya berjalan mengikuti.

Boarding pesawat yg saya naiki, bertepatan dgn adzan sholat dzuhur, dan lebih dari 100 penumpang pesawat tersebut, yg menyempatkan sholat, hanya si bapak dan si anak yg rambutnya bergaya Mohawk.

(9 Oktober 2009. perjalanan dr samarinda ke jakarta)

Related Post



No comments:

Post a Comment