Monday, October 19, 2009

Hidup Modern

Pulitzer Prize (1953) dan Nobel Prize in Literature (1954) di anugrahkan kepada Ernest Hemingway, untuk tulisannya “The Old Man And The Sea” ironisnya adalah, pada pagi hari tanggal 2 Juli 1961, Hemingway menembak kepalanya dengan senapan. Tidak sampai disitu, 2 orang saudaranya, ayahnya dan cucu perempuaannya Margaux Hemingway, melakukan hal yang sama. BUNUH DIRI. “Lelaki Tua & Laut” yg telah dia tulis, menjadi sebuah omong kosong besar dgn akhir hidup penulisnya sediri.

Flashback dikit, saya tahu Hemingway, dari Cerpen di Majalah BOBO, “Aku Dan Hidupku” yg ditulis Aprilia B Suandi, Cerpen ini menang lomba menulis cerita misteri. Ceritanya nih, tokoh utamanya sakit Leukimia dan bercita-cita ingin menjadi Ernest Hemingway. Saat membaca kisah ini, saya masih kelas 6 SD.

Psikolog atau psikiater atau lebih jelasnya, dokter jiwa, mungkin lebih paham mengenai penyakit kejiwaan. Semisal Self-Injury(SI) yang mana penderitanya, sangat menikmati dan merasa “enak” kalau melukai dirinya sendiri, dgn cara menyayat-nyayatkan sesuatu kebadannya sebagai contoh. Teman saya si penderita SI sebut namanya R, R mempunyai keinginan besar, ingin menggergaji atau mengebor tangannya sendiri. Dan teman saya R ini, sudah bolak-balik ke unit gawat darurat.

Seorang teman saya yg lain sebut namanya L, L punya halusinasi, bolak-balik ke psikolog atau psikiater , berharap para ahli jiwa bisa menyelesaikan masalahnya. L depresi berat. Dimata saya L itu sangat pintar, otak dia encer dgn kemampuan berkomunikasi yg terbilang hampir sempurna.

Jika Ernest Hemingway, datang kesaya minta saran untuk menyelesaikan depresinya, saya pasti bilang : Agama, itu yg juga sudah saya bilang ke R dan L. khusus L dia berkata, “Gw tidak pernah yakin dengan agama gw dan gw paling anti kalau di ingatkan untuk kembali ke agama!” ya, ya dan ya, inilah kehidupan modern.

Saya adalah pembaca kolumnis setia Samuel Mulia, yang selalu mengisi kolum Parodi KOMPAS tiap hari minggu. Saya kira, SM mempunyai kualitas manusia yg “full” wajar dia bertahan bertahun-tahun mengisi kolum tersebut. (ng tau klo Mario Teguh menawarkan diri mengisi kolum tersebut, mungkin geser tuh SM)

Jadi, “Ada udang di balik badak” maksudnya, bingung saya menyimpulkan apa.

Ada statement, “Agama adalah tempat pelarian manusia!” itu ada benarnya, tapi tidak semua manusia bisa lari ke agama, kadang ada yg sudah tertutup hatinya, jadi bersyukurlah yang bila tersesat-sesatnya masih bisa kembali ke agama. Sebab agama menawarkan solusi dan pondasi, seorang manusia, akan menemukan kekuatan sejatinya jika manusia tersebut sudah benar-benar meyakini kebenaran agamanya. Dan itu merupakan pondasi yg kuat, bekal yg cukup dalam hidup. Bakal jauh dari penyakit yg melanda Jepang yg bertipe-kan “suicide” atau pun depresi tiada henti.

Related Post



No comments:

Post a Comment