Friday, July 24, 2009

Just Because

Ini cerita lama, waktu saya masih muda.
July 2006 (setelah Gempa Yogya Mei 2006), karena saya tidak pulkam dan ingin mengisi liburan saya, saya datang kepusat rehabilitasi YAKKUM, menjadi salah seorang relawan korban gempa disana. Saya dikasih pekerjaan yang gampang, mendekomentasikan perawatan para korban bencana gempa. Setiap hari, saya dilibatkan dalam proses perawatan dan disuruh mengambil gambar-gambar untuk bahan laporan.
Pusat rehabilitasi YAKKUM sendiri bisa dibilang kebanjiran pasien gratisan waktu itu, pada hari operasi kecil-kecilan dari dokter muda (saya tidak tahu bagaimana istilahnya), “saat saya melubangi bagian ini, utk memasukkan *** tolong ambil foto-nya!” si dokter memberi perintah, saya tidak takut dengan darah, saat itu, saya tidak tahan dgn bau decubitus yang diderita si pasien. Dan malamnya…
Jam 1 malam kalau tidak salah, salah satu pasien tua(70 thn-an) memanggil saya, meminta obat, saya katakan saya bukan perawat, dan dia menangis kesakitan diantara 40-an bangsal pasien saya berdiri kaku, ketika dia berkata, “saya mau mati saja, lebih baik saya mati saja…” dalam hati saya membenarkan kata-katanya, dan saya hanya bediri, sama sekali tidak memberi kata-kata penghiburan. Saya telah kalah dgn logika saya..
Pristiwa itu di pertengahan agustus, saya mengundurkan diri dari relawan dgn alasan, saya akan masuk dan mulai berkonsentrasi kuliah lagi. Semenjak hari itu, saya tidak pernah lagi ke YAKKUM. Setiap kali saya lewat di depan panti rehabilitasi itu, saya hanya bisa menoleh, tidak pernah berani mampir lagi dan memutuskan semua komunikasi dgn semua teman2 saya yg pernah jadi relawan dan berkerja disana…

April 2009
Saya ke Temanggung, saya di ajak teman saya main ke kampungnya. Setelah puas keliling Dieng…teman saya mengajak saya mampir di rumah mbah(Kakek)nya dia. Sudah tua dan duduk diatas kursi roda. Tapi, si Kakek ini mantan dosen UIN, agak lama dia bercerita sejarah dia, dan dia sangat fasih berbahasa Arab. Saya menjadi pendengar yg baik sebab saya pencinta sejarah, diakhir percakapan, dia melihat garis tangan saya, dan tertawa, ketika saya bertanya kenapa, dia menjawab, “tidak apa-apa!”
Ketika saya meninggalkan rumah si kakek teman saya, saya tidak berani menoleh kebelakang sama sekali, saya tahu itu bukan dia. Bukan kakek di bulan Agustus 2006. Saya hanya menemukan dua sisi yang belum bisa saya pahami…
….
(di postkan di FB juga nih)

Related Post



1 comment:

  1. YAKKUM Jakal km 14-an itu ya...

    ReplyDelete