Tuesday, January 8, 2008

The Pursuit of Happyness


The Pursuit of Happyness

Directed : Gabriele Muccino
Written : Steven Conrad
Cast : Will Smith, Jaden Christopher Syre Smith

“…bahwa mungkin kebahagiaan adalah sesuatu yang hanya bisa kita kejar. Mungkin kita tidak akan pernah mendapatkannya walau bagaimana pun…”


Bersetting di San Francisco 1981. Chris Gardner, adalah penjual alat pemindai pemadat tulang keliling yang menawarkan barang dagangannya dari Rumah sakit yang satu ke yang lain. Karena usaha yang di lakukannya tidak berjalan lancar, istinya Linda meninggalkannya ke New York. Dan Chris harus berjuang untuk mencari nafkah dan menghidupi anak tunggal yang ikut bersamanya, Christopher.


Hidup Chris sangat miskin, dia bahkan tidak bisa membayar sewa motel, pada satu malam Chris bahkan membawa Christopher tidur di Toilet di terminal kereta api. Chris tidak punya apa-apa selain anak yang sangat di sayanginya dan tekad yang kuat.


Saat bertemu dengan Jay, Chris mendapat peluang untuk magang di perusahaan pialang saham, Dean Witter selama 6 bulan. Chris termasuk 20 orang peserta magang yang berharap untuk menjadi salah satu yang istimewa untuk bisa di terima berkerja di Dean Witter.
Banyak hal yang harus dilalui Chris, banyak tantangan dan perlakuan yang dia anggap sangat meremehkan dirinya. Tapi, dia terus maju, buat pilihan dan bulatkan tekad. Chris berjuang. Diantara bagian-bagian hidup yang dia sebut, menunggu Bus, berlari… bahagia..
* * *
From me:
aku menonton film ini setelah dapat rekomendasi dari beberapa orang teman yang mengatakan kalau film ini bagus dan layak di tonton. aku akhirnya nyari dan nonton, mulanya aku pikir, “kok ni film membosankan banget sih?” tapi ketika mulai sampai pada, “The Pursuit of Happyness”-nya, pikiran aku itu berubah hingga 180 derajat. Ternyata memang sangat bagus.


Ini film pembuka yang aku anggap bagus yang aku tonton di awal tahun 2008 ini. Ceritanya memang rada berat, tapi mengalir aja sangat memancing emosi yang berbentuk semangat, tekad, kasih sayang bahkan air mata.


Ada scene-scene dimana kita bisa merasakan kesedihan, kekuatan dan kerapuhan Chris. Scene dimana Chris membawa Christopher tidur di Toilet Stasiun bawah tanah KA itu contohnya, kita sangat bisa merasakan kesedihan Chris disana, padahal yang dilakukan Will Smith hanyalah mengerutkan sedikit wajahnya, meneteskan airmata, menahan bawah pintu dengan kakinya dan mendekap Christopher, tapi kesan yang di timbulkan adegan itu sangat nyata.


Ending, endingnya tidak ada teriakan-teriakan yang wah, sekali lagi… saat aku pikir Chris akan berteriak tapi ternyata tidak. Chris hanya pamer wajah yang penuh kemenangan, kebulatan tekad dan bahagia.


Film ini memang wajib tonton. Chris memag tidak punya kekuatan seperti Superman ataupun Spiderman, dia tidak punya kekuatan ajaib yang seperti itu. Tapi, aku pikir kita semua harus berusaha memiliki kekuatan yang dimiliki Chris. Kekuatan dari kebulatan tekad untuk berhasil mewujudkan yang dia ingin dan impikan, kekuatan untuk “the Pursuit of Happyness” yang walaupun dia tidak tahu apakan bisa dia dapatkan atau tidak tapi dia terus berusaha untuk apa yang dia pikir bisa membahagiakannya dan bisa membahagiakan orang yang disayanginya.


Review ini akan aku tutup dengan kata-kata yang di ucapkan Chris keanaknya, Christopher, ”Jangan biarkan seseorang mengatakan kau tidak bisa melakukan sesuatu…Kau punya impian dan kau harus melindunginya…”
“...Jika ingin sesuatu, kejarlah. Selesai.”
Selengkapnya...

Saturday, January 5, 2008

Cyle

nah…entah sampai mana kau bisa mengejar kami. Tapi, bisakah kau menghentikan kami? Sayangku…Silver Bullet?”(Dek. Conan 49, Aoyama Gosho)…
= = = = =
“mungkin, aku lebih memilih menjadi beruang yang kesepian daripada menjadi beruang suruhan dan peliharaan!” aku pernah menggunakan kalimat itu pada salah seorang temenku. Dan memang begitu lah aku, aku sama sekali tidakkeberatan dengan kesendirianku dan aku sangat bisa menikmatinya.
Toh, pada akhirnya kita akan sendirian…Yang jadi masalah adalah…kehidupanku yang sederhana tiba-tiba di uji oleh hal yang sama sekali tidak pernah aku duga sebelumnya. Meningat anak Advertising paling anti dalam menyebut merk, maka kita sebut saja lah “X” kita kali ini dengan nama, Cyle (baru nyadar klo nama samarannya ini keren)Akhir-akhir ini, aku akrab dengan gadis yang bernama Cyle, karena tugas kuliah yang aku garap dan juga situasi maupun kondisi aku yang tiba-tiba mengarah pada si Cyle ini, kebetulan sekali Cyle, bukanlah gadis yang dikategorikan biasa dalam hal fisik, dia jangkung, berbody bagus, well..tulislah dia cantik dan punya banyak fans.
Aku tidak punya rasa cinta sama sekali pada Cyle, tidak ada rasa sama sekali. Yang membuat aku muak adalah kumpulan orang yang menarik kesimpulan bahwa aku punya hubungan lebih dari temen dengan Cyle. Dan aku di posisikan layaknya cowok bego yang di permainkan sama cewek cantik. Brengsek, aku tidak segampang itu.Inilah yang sekarang terjadi, mengganggu kehidupan yang sederhanaku, aku bukan tipe orang yang suka tampil mencolok, aku lebih suka yang biasa-biasa aja. Aku tidak terlalu bisa merasa nyaman dengan hal yang berlebihan.
Finally, sepertinya aku akan menghindar, jika untuk menjernihkan air yang keruh adalah dengan cara sederhana yaitu diam dan tidak memancing suasana, tentu sekali aku memilih pilihan itu.(Phase 178. January 3rd, 2008. 08:45 pm)
Selengkapnya...