Monday, November 26, 2007

Dari "MAYA" menuju "NYATA"


(kedatangan...bingung karena ada masalah yg "tidak terduga")

"panes neh, cepetan donk..ntar gw hitam...!!
bentar dulu kenapa sih, lagi sms-an neh, artis kita belom dateng..."

"hallo sayang, lo dimana...???"
*aku suka pick ini, lutu..lutu...*

"nantang gw lo, Jib...??!!?"

tutup, tapi ada "Coverboy" yang lagi majang. hahaha...wk wk wk

bagi-bagi keong...gw heran kok jadi rebutan ya?padahal gw pikir ga ada yang minat tuh dengan si "keong mas"

ARISAN masih berlanjut..!!!

"lagi mandengin apa sih mb'?"
ng kebagian ya...???

mau makan bareng gw ng..??
"disamping gw neh lagi jual mahal"

ada penampakan yang ngeluarin lidahnya...!!

akhirnya..bisa dapat tempat duduk.."ayo pasang pose yang manis"

Remember...!!!
Selengkapnya...

Friday, November 23, 2007

Gath FI Jogja

Selengkapnya...

Never Ending Story

Kadang aku merasa lucu juga, ketika aku mengatakan dengan angkuh, “masalah itu adalah kebutuhan..sebab tanpa masalah aku tidak akan bisa menjadi dewasa dan dengan masalah aku akan menjadi lebih bijaksana” ketika di Tanya rasep apa yang manjur saat aku berhadapan dengan masalah, aku berkata dengan santai, “everything gonna be fine..” faktanya adalah di balik semua itu, aku ada lelaki yang penuh kebingungan.

Fuck lah menjadi dewasa sebab yang aku butuhkan adalah ketenangan, rasa aman dan kebahagian. Kalau memang menjadi dewasa membuatku sulit untuk tertawa bahagia, mungkin aku memilih untuk tidak menjadi dewasa.

Aku sendiri ditengah kebingunganku, aku ada masa-masa aku merasa sangat rapuh, tidak kuat dan tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu harus memutuskan apa. Kadang aku tidak ingin memutuskan apapun, duduk diam saja tapi, hidup memang dipenuhi keputusan kan?jadi, mau tidak mau kita harus memutuskan.

Benar-benar berat, ada satu hal yang hitam dan berat yang sangat belum bisa aku putuskan dan itu terus mengganjal. Tak perduli aku dimana, selalu ada, kalau sudah seperti itu aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Kadang aku pikir, aku akan sangat baik-baik saja tanpa ‘beban’ itu, tanpa kebingungan itu. Kadang aku ingin diberi pilihan dan aku akan memilih tidak akan mengambilnya. Walau pada kenyataanya, sudah aku ambil. Tanpa aku sadari. Dan didalam keadaan ini, aku seperti terjebak, berputar-putar tanpa benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi pada aku.

Pada suatu titik, aku ingin membuang semua perasaan lunakku, membuang semua perasaan yang mudah tersakiti dan membentuk hati yang baru, yang keras dan tidak ingin memperdulikan apapun. Kadang aku memimpikan dimana aku benar-benar menjadi manusia yang seperti itu. Aku tidak ingin menjadi orang yang gampang disakiti dan gampang merasa tersakiti…tak perduli apapun, aku akan berjuang untuk menjadi orang seperti itu. Ya, aku yakin aku akan bisa menjadi orang seperti itu.

(Phase 168. November 22nd, 2007. 08:12 pm)

Selengkapnya...

No Real

Kali ini aku mem-posting puisi-puisi maupun lirik lagu yang aku sukai. beberapa puisi aku mengambil dari buku seperti One Art(Bhisop), Soneta XVII(Pablo Neruda), More Strong Than Time(Hemingway) dan Disguese(Ost Twins) untuk judul terakhir itu merupakan judul lagu yang menjadi soundtrack serial TV Taiwan 100% Senorita Twins. Selebihnya seperti puisi-puisi dan 2 cerpen merupakan hasil tulisanku sendiri yang aku tulis dari tahun 2003-2007.

Postingan ini untuk mengenang banyak hal, di antaranya aku dan semua kenangan masa laluku.

One Art

The art of losing isn’t hard to master

So many things seem filled with the intent

To be lost that their loss is no disaster

Lose something every day. Accept the fluster

Of lost door keys, the hour badly spent

The art of losing isn’t hard to master

Then practice losing father, losing faster

Places, and names, and where it was you meant

To travel. None of these will bring disaster

I lost my mother,s watch. And look! My last, or

Next-to-last, of there loved houses went.

The art of losing isn’t hard to master

I lost two cities, lovely ones. And, vaster,

Some realms I owned , two rivers, a continent.

I miss them, but it wasn’t a disaster.

- -Even losing you (the joking voice, a gresture

I love) I shouldn’t/shan’t have lied. It’s eveident

The art of losing’s not too hard to master

Though it may look like (write it!) like disaster.

By. Elizabeth Bishop

Soneta XVII

By. Pablo Neruda

Aku tidak mencintaimu seperti engkau adalah mawar

Atau topas atau panah anyelir yang membakar

Aku mencintaimu selayaknya beberapa hal

Terlarang dicintai, diam-diam,

Disela-sela bayangan dan sukma

Aku mencintaimu seperti tetumbuhan

Yang urung mekar dan membawa jiwa

Bunga-bunga itu didalam dirinya,

Dan karena cintamu,

Aroma bumi yang pekat dan tumbuh diam-diam

Di dalam tubuhku

Aku mencintaimu, tanpa mengerti bagaimana,

Sejak kapan, atau dari mana…

Aku mencintaimyu dengan sederhana,

Tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan:

Aku mencintaimu seperti ini,

Karena bagiku tidak ada cara lain untuk mencintai

Di sini, di mana “aku” dan “kau” tiada,

Begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku

Adalah tanganku

Begitu erat, hingga ketika kau tertidur

Kelopak matakulah yang tertutup

MORE STRONG THAN TIME

by: Victor Hugo (1802-1885)

INCE I have set my lips to your full cup, my sweet,

Since I my pallid face between your hands have laid,

Since I have known your soul, and all the bloom of it,

And all the perfume rare, now buried in the shade;

Since it was given to me to hear on happy while,

The words wherein your heart spoke all its mysteries,

Since I have seen you weep, and since I have seen you smile,

Your lips upon my lips, and your eyes upon my eyes;

Since I have known above my forehead glance and gleam,

A ray, a single ray, of your star, veiled always,

Since I have felt the fall, upon my lifetime's stream,

Of one rose petal plucked from the roses of your days;

I now am bold to say to the swift changing hours,

Pass, pass upon your way, for I grow never old,

Fleet to the dark abysm with all your fading flowers,

One rose that none may pluck, within my heart I hold.

Your flying wings may smite, but they can never spill

The cup fulfilled of love, from which my lips are wet;

My heart has far more fire than you can frost to chill,

My soul more love than you can make my soul forget.

Sayap-sayap.

Kudekap bayangmu, lepas satu nafasku

Kurangkul senyumku untukmu, raiblah damaiku

Kuserahkan cintaku padamu, kujumpai Nerakaku

Bayangmu, Senyummu, Tawamu, Kenanganmu,

Lalu dahagaku.

Hangus. Terluka parah didadaku.

1/3 Malam. Sayap surga melebar memenuhi bumi

Seorang termangu. Bersimpuh. Tamparan itu masih terasa

Perihnya. Setiap kisah telah mengobrak-abrik

Ruang dihatinya.

“Aku tahu, Satu Cinta-Mu

Mampu menyelamatkan sejuta cintaku!”

Para Malaikat lewat diatas wuwungan rumah

Aku tergugu.

“…Nikmat-Mu yang mana bisa

Kudustakan…!”

-Ramdhan 1425H

Remedy…

Tidak kutemukan alasan…

Perjamuan yang pahit.Telah kumakan Empedu.Lidahku tak lagi manis

Menuturkan kemana hatiku terburai dalam ruang-ruang dusta yang kosong

Aku bocor sehingga aku ambil laut dan kusimpan dalam dadaku

Juga mataku….

Aku takut aku meletus mengeluarkan pasir-pasir,debu-debu,batu-batu

Tanpa emas dan permata.Apa aku punya itu,Tuhan?

Aku tak mau jadi pelangi…..dan laut terlalu berat didadaku.

Bahkan aku sudah lemas dalam lautanku.

Maka,tak lagi manis tawa itu sebab aku sudah menelan empedu

Akan kucabik-cabik senyum itu,kukoyak-koyak.Mati

Tak akan kumuntahkan lagi.

Tidak kutemukan alasan untuk aku membuat sebuah

Alasan…

Bahwa,semua luka itu ingin bercumbu dalam patahan-patahan kosong

Mengurungku dengan terali sunyi.Sayap sudah patah

Tak akan ada yang bisa terbang….

Tidak.Tidak perlu menangis.Runtuhkan saja dunia yang lalu.Telan

Gelap itu dan kuledakkan didadaku yg penuh dengan rintihan sunyi

Kutatap dunia dibalik jeritan

Sepi….

Aneh.Kemana perginya peti hampa itu?Hatiku terasa ringan dan hangat

Aku ingin terseyum…

Langit telah runtuh didadaku.Menenggelamkan laut…

“Aku sudah tak tersentuh…..”

Kegelisahan

Segelintir embun pagi yang mengelitik mata pada penantian cahaya sinar matahari. Datang dan pergi…

…jogja, des 21st, 2006. 8.08pm

Kehilangan

Pada jejak angin, aku sempat melihat debu berterbangan

Yang kemudian hilang

Kemudian aku melihat pohonku, rumahku, musim bahkan dunia ikut terbang

Kemudia hilang

Kucari berkas sentuhan (mereka) pada sekujur tubuhku, juga hilang terbang

Aku punya langit kenangan yang tidak bisa ikut terbang

Meski pohonku, rumahku, musim bahkan dunia sudah hilang terbang

Tapi itu bukan apa-apa, tidak apa-apa

Aku tidak seharusnya menangis

Asalkan kau (hatiku yang dulu) masih ada di sana

Maka semua itu tentunya bukan apa-apa.

26.12.06.selasa

Cinta dan Kerinduan

Aku sudah tak lagi mendengar langkah kakimu yng berjalan perlahan di pagi hari, takut membangunkanku, suara nyanyianmu

Juga suara-suara piring yang kau cuci, saling bersentuhan

Aku juga sudah tak bisa lagi melihat senyum lelahmu di saat kau tidak bisa tidur siang

Dan air matamu (yang tidak pernah ingin kau perlihatkan)

Kini, aku jauh dari guratan-guratan lukamu

Cerita bahagiamu… (apa kau pernah mempunyainya, aku tidak ingat kapan kau bisikkan padaku)

Apa kau pernah benar-benar ada? Apa kau benar-benar selamanya (karena aku mulai lupa dan tidak tahu harus meletakkanmu dimana)

Hanya pada remuk kenanganku yang lalu saja, kau sepertinya pernah ada

Aku takut lupa bagaimana suaraku saat memanggilmu

Sementara aku rindu suaramu saat menyahut panggilanku…9:12, 27/12/06/rabu

Dalam Kehidupan Ini

……Saat semuanya terlihat suram dan kau tidak tahu harus kemana.

Saat semuanya yang kau pikir baik malah berbalik memusuhimu.

Saat kau tidak bisa mengucapkan kejujuran dan kau selalu mengulangi kebohongan. Lagi dan Lagi…

Saat kau pikir kau mengetahui segalanya tetapi malah sebaliknya

Saat-saat dimana kau ingin sendirian.

Saat dimana kau menangis dengan sendirinya

Saat-saat berpikir sedang menyayangi malah menyakiti

Saat kau tidak tahu bagaimana mencintai dan harus kau kemanakan cintamu

Saat kau sedang terjatuh dan berusaha untuk bangun

Saat dimana kau tidak tahu apa yang harus kau kerjakan dihari esok

Saat dimana kau berpikir tidak ada yang bisa memahamimu dan kau dianggap aneh oleh orang lain.

Saat dimana kau sedang takut terluka

Saat kau sedang berduka

Saat kau merasa tidak punya apa-apa

Saat kau marah dengan Tuhan dan tidak mau berdoa lagi karena kau pikir Dia tidak perduli denganmu

Saat kau ingin dipeluk sesorang untuk menenangkanmu

Saat kau diacuhkan seperti sebutir debu

Saat dimana kau membenci dirimu dan kau sulit untuk memaafkannya

Saat kau punya setumpuk kerjaan dan kewajiban yang harus kau penuhi

Saat pesawat yang kau tumpangi sedang mengalami gangguan

Saat kau naik kapal dan diterpa ombak

Saat dimana kau pikir tidak ada ruang lagi untukmu sehingga kau merasa sesak dan tidak tahu harus kemana

Saat kau merasa mengerti tapi ternyata kau tidak tahu apa-apa

Saat kau berusaha untuk memperbaiki segalanya

Saat semua itu, kau harus berpikir

Bahwa semua akan baik-baik saja

Akan baik-baik saja

Baik-baik saja…

June 3rd, 2006. 18:05

SUNYI YANG BERBICARA

August 7th,2006.15:19

Apakah semua yang aku lakukan adalah karena sebatas pengharapan?

Bagian Pertama:

Bawa aku pada ketinggian yang tidak terlihat mata

Pada bingkai kebebasan, kita pertengkarkan, kita hempaskan

Dan aku bertanya, kenapa langit semakin tinggi dari pada dahulu? Hanya untukku?

Kembang gula masih terasa manis

Pun Dandaleon seringan angin menembus waktu

(adakah bekas nyata jejakku dalam gurauan senyummu dan guratan lukamu?)

Atau semua sudah menjadi abu?

Musim, musim lagi, kembali kemusim lagi

Suatu hari nanti, aku akan menjadi bayangan yang berlari ditengah

Terang……

August 23rd,2006.18:16

Bagian Kedua:

Kabut Masa Lalu.

Ada seringai takut bila tersapa hati, untuk terasa.

Kepercayaan yang membeku

Takut salah mengerti apa yang kusebut cinta dan duri

Mengikatnya erat-erat dalam bayanganku, jangan terbang

Akan terlihat orang yang tidak paham. Terbilang hitam dalam semua

Ayat-ayat Tuhan.

Aku katakan tentang dinding, tentang jaring

“retakkah?”

Waktu. Retakkah?

Begitu sepi,

Hanya bayangan bidadari. Peri.

Menghitam dalam bayangku, terikat atas nama kesucian Tuhan

Takut salah mengerti apa yang kusebut cinta dan duri

Aku buat dinding, merangkai jaring

“retakkah?”

Mampus kau ditikam sepi….

-Chairil Anwar

CROSSROADS

(Akulah Sunyi Itu)

I.

Satu camar terpenjara dalam

Luasnya laut.Bersama dalam rengkuhan

Butiran kabut berwarna menyimpan rapat

Rahasia cinta yang terluka.

Segala hentakan “Selamat tinggal”

Terabaikan karena dalan ikatan kenangan

Yang tak terlupakan.

Sepertinya gelak tawa gelombang tidak lagi

Menakutkan.Siksaan malam-malam yang

Panjang sirna kala terlihat biru

Bercampur terang

Kabut berwarna itupun terlihat sangat

Indah menyilaukan.

II.

Kemanakah perginya rasa rindu pada daun-daun

Maple kering itu?

Tidakkah terlihat?kesedihan

Kamboja dalam keteduhannya.

Atau salam rindu daun ilalang yang

Melayangkan kembangnya menghantarkan

Kehamparan tanah harapan.

III.

Laut tak pernah mengikat,8 penjurunya

Membuka kebebasan.

Selalu memberikan pilihan dan tak pernah

Menjanjikan…

IV.

Telah tercacah air mata itu

Bersama kuntum-kuntum sunyi.Tawa

Sudah tak terjamah lagi.Tekulai lemah dalam pangkuan langit

Sementara dalam dekapan yang rahasia

Derita dan cinta berdesakan ingin

Memenangkan salah satunya.

Sementara itu sang camar bersedekap

Dengan sayapnya.Menggigil kaku.

Gemetar pilu.

“Selamat tinggal”nya tercabik-cabik

Dalam puzzle yang belum utuh.

“Akan kutunggu atau kupanggil badai,

Yang dapat membawaku hilang tersamar

Dalam kenangan dan tak kembali lagi

Menjadi bagian tempat yang tak

Dapat kulupakan ini.

V.

Dalam rengkuhan kabut adalah

Gurauan pilu.Ketidakpastian yang

Merana rindu dan penolakan untuk tahu

Bayangan yang tak bisa digenggam

Selalu menyakitkan…

VI.

Akan kukirimkan seikat tulip kuning

Dengan ucapan

“Cintaku adalah nerakaku yang

Belum mati!”

VII.

Akulah sunyi yang ingin merangkak pergi

Akulah sunyi itu…

Disgueise

(taken from Ost.Twin)

Have you ever felf somekind

Of emptiness inside

You’ll never measure up to those

People you must be strong

Cant show them

That you’re week

Have you ever told someone

Something that’s far from the truth

Let them know that you’re ok

Just to make them stop

All the wondering and questions

They may have

Have you ever seen your face

In a mirror there’s a smile

But inside you’re just a mess

You feel far from good

Need to hide coz

They’d never understood

Have you ever had this wish

Of being somewhere else

To let go of your disgueise

All your worries too

And from the moment

Than you see things clear

Are you waiting for the day

When your pain is disappear

When your knew that is not true

What they say about you

Sorounding you ignoring all

Voises from that wall

I’m okey,I really am now

Just needed sometime

To figures thing out

Not telling lies

I’ll honest with you

But Still we don’t know

What yet to come…

March 16th,2006

In Memory Wind And Sherry

Hey Girl,I Miss You So Much

“Are you tired in this world?”

Penyamaran

(Translated from “Disgueise”)

Pernahkah kau merasakan berbagai macam kekosongan didalamnya

Kau tdk akan pernah memiliki sifat-sifat

Yang dikehendaki orang-orang itu

Harus kuat tak mungkin menunjukkan pada mereka bahwa kau lemah

Pernahkah kau mengatakan pada seseorang tentang sesuatu hal yang jauh dari kenyataan

Biarkanlah mereka tahu bahwa kau baik-baik saja

Sekedar untuk membuat mereka menghentikan

Segala keheranan Dan pertanyaan-pertanyaan

Yang munkin mereka punya

Pernahkah kau melihat wajahmu

Didalam sebuah cermin.Ada sebuah senyum

Namun dibalik semua itu kau hancur berantakan

Perasaanmu jauh dari baik

Perlu disembunyikan karena

Mereka benar-benar tdk pernah mengerti

Pernahkah kau memiliki impian

Berada disebuah tempat lain

Untuk menghindar dari penyamaranmu

Juga segala kekhawatiranmu

Dan sejak saat itu

Kaupun dapat menatap segalanya dgn cerah

Sedang menantikan hari itu

Disaat deritamu lenyap

Kau tahu bahwa itu tidak benar

Apa yang pernah mereka katakan tentangmu

Mengelilingimu tanpa memperdulikan semuanya

Suara-suara ditembok itu

Aku baik-baik saja,aku benar-benar ada sekarang

(Aku) Hanya butuh sedikit waktu untuk

Memecahkan semuanya

Tanpa memikirkan kebohongan

Aku akn jujur padamu

Tetapi kita masih belum tahu

Apa yang belum datang

…Sampai detik ini aku masih memikirkan apa yang akan aku katakan saat bertemu denganmu nanti…Yang aku tahu aku ingin berkata sejujurnya padamu…akan banyak hal…Disemua perbedaan kita.Sherry

Andai kau sadar arti pelitamu

Andai kau lihat hitamnya sepi dibalik punggungmu

Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu denganku.

-) Dewi lestari”Dee”(Supernova 3:Akar

Farwell

(Let it be me)

Akhirnya waktu menjemput segalanya

Sejumput tawa yang lalu,telah berkabut.

………………………………………

Pergilah yang jauh kesetiaan telah terkhianati

………………………………………

Sosok jingga yang memutih

Kenapa kau bawa bayanganku pergi bersamamu

Tanpa kau tengok lukaku

Khianatku…

Sungguhkah kau tak tahu?

Ataukah telah kau buang dalam laramu.

Jingga,Kau hanya ingin membawa bayangan

Walau tanpa rupa,tanpa rasa,tidak nyata

Kau menguatkannya

Dan janji itu…telah membeku

Kalau putih pernah bertanya pada hitam

Tentang sebuah kesetiaan

Kalau putih pernah meragukan hitam

Tentang sebuah ketulusan

Maka,mereka tidak akan pernah saling

Berdampingan…

By.Wind

….The Dark Side of The Moon

-June 21st,2005.

Disguise of Your Heart

Bahkan kau tidak tahu, telah meletakkan hatimu di garis yang mana…

Sehingga kau hanya senyum samar dalam langit yang bahkan bukan milikmu.

Kau bukan apa-apa, hanya bayangan tepi dari mereka.

Akhirnya sampai dimana kau menyembelih gundahmu…yang telah berdarah-darah

Kemudian membentangkannya pada bagian titik-titik yang saat itu bisa kau lihat.

Kau katakan, kau belum runtuh

Tapi, kau tidak mau mengakui pondasimu telah retak dan mulai bergeser.

Sebuah akhir yang tidak pernah terlintas, terendap dalam diam

Kata-kata hanya berupa cerita dan berbekas pada pengakuan yang tidak nyata

Apapun itu, tidak akan bisa dilupakan begitu saja hanya terselip saja

Bahwa kau pernah memungut tetesan-tetesan airmatamu yang pernah jatuh

Kau berusaha membayar lunas semua kesedihanmu…

Tapi, kau hanya bisa sampai pada titik penatmu, merindukan duduk

Diam dalam semua kekosongan

Menyapa tembok-tembok yang menertawakanmu karena tidak pernah bisa kau lampaui..

Dan kau tidak bisa berhenti

Tetap disini sekalipun kau berteriak…

“dunia berhentilah berputar…aku ingin turun…!”

Bicara Kepada Sunyi.

Aku dan dia bertatapan erat dan lekat. Aku tersenyum tipis, ada luka dimatanya. Aku mempertahankan senyumku.

“kenapa kau tersenyum?”ia bertanya dan itu membuatku hampir tertawa.

“apa dalam kamusmu tidak ada lelucon?” aku memasang mata lebar menembak matanya

Pandangannya menusuk hatiku, mau tak mau aku membuang wajah mengalihkan pandangan sejenak. Menggigit bibir.

“kau besar dalam pengasingan dimana ada pendapat bahwa kehidupan yang saat itu kau jalani tidak bisa diterima orang!” kali ini dia yang tersenyum tipis, bukan senyum mengejek. Dia hanya sedang menikmati fakta yang baru saja dilontarkannya. Dia ada dibagian itu dan tak mau dilupakan begitu saja. Aku mencoba tersenyum

“ulurkan tanganmu!” pintaku.

“Hah..!!”

“ulurkan tanganmu!!” aku mengulangi. Tangannya terulur kedepan, ekspresi wajahnya sedikit berubah. Aku sendiri masih dengan pandangan beku.

“Bukankah kau menyentuh sesuatu?” kata-kataku itu membuat alisnya berkerut sedikit. “sesuatu yang tidak kita lihat, sudah berdiri tegak disitu. Aku ataupun kau tidak bisa mempungkiri hal itu!” aku masih punya senyum datar ketika menjelaskan hal itu. Ada rasa jauh, rasa sesuatu yang tidak akan bisa kembali lagi. Pedih. Perih.

Dagunya sedikit bergetar. Bibirnya bergerak halus. Tatapan matanya kosong.

Aku melihat air matanya.

“Inikah pilihanmu?” ia memandang kearah kiri kanan bahunya. Pelan, kemudian beralih pandangan kedepan. Padaku. Menunggu jawaban. Sejenak aku memandang keatas. Menarik nafas, berharap ada sisa-sisa ruang kosong dalam dadaku. Terlalu sesak. Aku memandang sekelilingku, menatapnya dengan pandangan datar seakan ingin menunjukkan bahwa aku orang yang tegar.

Aku berucap pelan, seakan hanya untuk dia dan angin saja. Mungkin juga pada dinding yang ada diantara kami. “ini bukan pilihan, ini adalah ketetapan!”

Aku menatapnya lekat. Bukan pada dia. Tetapi pada apa yang mengelinginya. Aku rindu.

Aku menyipitkan mata. Berkonsentrasi pada pandangnku.

Ada sesuatu dibalik kabut. Dibalik punggungnya.

Aku berharap salah lihat.

Ia menengok kebelakang sekilas, “kau tidak salah dengan apa yang kau lihat. Dewimu bertahan disini dan memberikan hatinya sepenuhnya denganku”

Kelopak mataku tertutup separo. Aku tidak mengantuk.

“dengan semua luka, dewimu bertahan bersamaku bahkan saat kau sedang mencari obatnya, dia sudah berhasil mengobatinya dengan hanya menerima”

“MENERIMA…???” tanpa sadar aku memekik idiot.

Dia mengangkat alis “dia sudah menerima sesuatu hal yang sangat ingin kau ubah!”

Perutku terasa mual. Aku merasa ada yang berputar cepat.

Dia tersenyum dengan faktanya, aku terluka dengan faktanya.

“hal apakah yang sangat ingin kau lampaui?” dia bertanya dengan pertanyaan yang kesekian.

Aku menatapnya dengan goresan tajam.

“Kau..!” dingin dan kaku, itu keluar dari mulutku yang terasa kering.

Ia sinis. Dan aku tidak terlalu suka dengan harus menerima kesinisannya dengan diam saja. Aku tertawa nyaring. Nyaring, sangat nyaring.

“apa yang membuatmu tertawa?” itu menurutku sebuah pertanyaan tolol dan tentunya aku akan memberikan jawaban bodoh.

“Pohon ketapi yang ada disamping pundak kirimu!”

Mau tidak mau ia mengalihkan pandangnya sejenak pada pohon ketapi dengan buah lebat dimana ia berpijak diatas sungai dengan air berwarna kemerahan. Air payau.

“semakin lama, kau semakin tidak bisa kukenali” nada sedih itu buncah dari mulutnya. Aku bisa merasakan kesedihannya. Aku tahu lukanya.

“sebab aku tidak pernah benar-benar ingin dikenali…”

Apa dia juga tahu…

“kalau begitu kau tidak akan benar-benar bisa menemukan cintamu” seakan, dia sedang memberiku saran. Tapi untuk apa? Dia mengatakan untuk hal yang sudah sangat diketahuinya. Aku yakin itu.

Dan, sedikit saja. Aku seakan tersenyum.

“kita sudah menjadi bagian-bagian…” ia mengeleng-gelengkan kepala. “kenangan.. Rindu…Air mata”

Aku hanya diam. Diam saja. Membagi apa yang kurasakan pada sepintas satu daun yang jatuh dan menyentuh ujung kakiku. Sungguh, aku ingin diam saja.

“apakah normal menyenangkan?” kalimat pertanyaan itu berhamburan diantara kami. Entah sadar atau tidak, secara bersamaan kami mengeluarkan pertanyaan yang sama.

Aku. Dia. Tertawa. Kemudian patah. Kami sunyi.

Aku menarik nafas dalam. “aku sudah harus pergi” tanpa menunggu komentar darinya aku membalikkan badan. Dan mulai berjalan. Aku merasa dia sedang menatap pundakku dan kakiku yang berjalan kaku.

“hei, jika kau menemukan kepinganmu…”

“…sisipkan pada kantongmu yang paling dalam agar jangan menghilang”

Aku tertawa tertahan. Aku berbalik. Menatapnya sambil berjalan mundur. Tersenyum lebar dengan tatapan kabur. Tanpa kata berbalik lagi. pergi

Satu daun menyentuh ujung kakiku.

Ada setetes air diujungnya. Kulirik langit. Biru cerah.

Setes kini ada dijung daguku.

Bukan aku yang tergugu.

Tapi, egoku.

Kamar sunyi, Sept 26th, 2006. 10:15pm

Background music yang paling berkesan : Ho gaya hai tujkho (from Indian movie “Dilwale Durhania Le Jayengge” Guess Starring: Shahruk Khan, Kajol, Farida Jalal, Anupam Kher)

Bicara Pada Sunyi II

: somewhere

Ia kakukan kakinya, langkahnya terhenti. Memandang berkeliling. Sejenak menutup matanya merasakan melodrama angin yang menerpa segala rasanya. Ia berlahan duduk diatas rumput yang disinari matahari jam sembilan pagi. Bunga pukul sembilan sedang mekar-mekarnya pada jam ini, merah, putih, kuning.

Ada yang sedang menhimpit didadanya, begitu berat, angkuh dan kokoh. Mulutnya terbuka sedikit mencoba bernafas. Ia kesulitan, mencoba menggapai-gapai udara. Berharap ada sebuah potongan disana yang bisa membuatnya tenang.

Kadang luka terlampau banyak untuk proporsi sebuah rasa. Akhirnya, Ia ingin diamkan saja. Menarik sedikit garis dibibirnya, tersenyum. Pada angin, pada setumpuk pepohonan dikejauhan, pada langit yang terlihat kesal dengan kesertaan awan, pada rerumputan, pada bukit

Juga pada sesuatu yang entah yang kadang memerlukan sebuah senyuman.

Ia diam. Mengingat. Melirik.

“10…9…8…7…” pelan, ia menghitung mundur.

“3..2…1…”

“”kau terlalu mendramalisir pergerakan!” suara sewot berbisik tajam

Ia tersenyum. Nah kan! Ada perdebatan.

“aku hanya ingin menjelaskan apa yang kurasakan dengan sebuah gambaran, pahit manisnya, mencoba memperlajarinya, merasakan seutuhnya, menikmatinya. Kalau itu yang kau anggap mendramalisir, kau sepertinya tipe (…) yang tidak bisa menikmati sesuatu!”

“Huh…Tidak realistis”

“bersiaplah dihimpit dunia yang begitu realistis dan kau akan terlihat idiot tanpa sebuah lelucon.” Ada rasa nakal dari kalimat itu, “kata orang pintar nih, hidup itu lelucon yang pahit loh..!”

Ia hampir tersedak mendengar kalimat itu.

“apa yang kau dapat dengan perasaanmu?” pertanyaan itu terlalu pelan, ia hampir tidak bisa mendengarnya dan ia pun harus menajamkan pendengarannya untuk jawabannya selanjutnya.

“perasaan tidak bisa dibeli, realistis bisa.”

Ia mengerutkan dahinya, rasanya aku tipe manusia yang lumayan mengagumi hal-hal yang tidak bisa dibeli. Hatinya bersuara pelan.

“langit indah ya!”

‘hei, kalau kalah jangan mengalihkan pembicaraan donk. Tidak sopan tahu!”

“terlalu sok kau!”

“kita sudah sama-sama tahu kan?” kalimat mengantung itu, ia sudah bisa menebak apa kelanjutannya, “kalau hal itu tidak akan ada habisnya bila kita bicarakan. Hampir tanpa akhir yang jelas. Semua akan terlihat baik bila kita menempatkannya pada porsi yang sesuai”

Wow..

Tapi, apa kau tahu? Bahwa ada kadang hal yang harus berulang-ulang kita bicarakan walaupun sudah kita tahu apa. Karna ada rindu. Ada juga sesuatu yang abu-abu! Hatinya riuh membisikkan hal itu.

“trus kau mau kemana nih?”

“jangan terlalu nyaring, dia mendengar!” sejenak ia merasa ditatap oleh yang saling berbicara. Ia pura-pura mencabuti rumput disampingnya.

Kemudian sunyi. Sepertinya semua sudah pergi

Ia membengkokkan kepalanya sedikit kearah kiri.

“hei, aku bosan mencatat dosa melulu..!!”

Hah!! Apa-apaan nih.

Sebelah kanan menanggapi “aku mencatatnya menjadi sebuah pahala karena dia membuatku santai!”

Bah..!!

Ia memeluk lututnya. Terdiam.

“hidup itu seperti sebuah satu jalan lurus dimana tidak ada titik baliknya dan kau tidak akan bisa kembali” (sinetron: Tagwa)

Jangan memikirkan itu.

“dalam hidup, kau diberi sebuah Mozaik yang hancur berantakan, kau berusaha menyusunnya. Dari awal. Untuk melihat gambar apa yang ada disana”

Dan pertanyaannya adalah…

“apakah gambar yang kau lihat seindah yang kau harapkan?”

Awan menertawakan langit karena tingginya jadi tidak terlihat sebab ada yang rendah menutupi.

Ia kaget. Tersadar. Ada sedikit angin yang berhembus.

“hei, bisikanmu sudah sampai sebelum kau hembuskan”

Sepi. Kosong. Sunyi

“hembuskan saja lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Dan…Lagi”

“akan kusampaikan”

“apa yang kau tulis?” ia melirik kekiri berharap kekanan.

“dirimu!”

“seperti apa?”

“sepertimu”

“mu itu seperti apa?”

“lihat harimu”

“lihat hatimu”

“hatimu”

Matanya bergerak liar.

“tidak terlihat!”

Kosong. “aku tidak tahu, tidak terlihat”

“kau tahu”

“kau melihat. Kau mampu melihat”

Tidak sunyi, tidak pada keramaian. Ia punya itu. Ia tahu.

Tetapi…

Big World: Small World, Sept 27th, 2006. 10:35pm

Background music top, “somewhere” by “ Emi Fujita” from her album “Rembrant Sky”

Tekankan aku pada pusat hatimu

Ditengah-tengah kesibukan dan penderitaanmu

-“Ibukota senja”(Toto sugiarto)

SCARLETT

“Didunia ini,ada hal-hal tertentu yang bisa berubah dan mungkin suatu saat….”

“…Kita menjadi bagian dari perubahan itu”

***

Aku berjalan dengan gontai.Kepalaku pusing.Speed boat yang aku tumpangi tadi terombang-ambing dihantam gelombang besar sehingga aku sempat berpikir akan berenang karam dilautan.Aku menatap kedepan dihadapanku Gerbang besar yang bertulisan “SELAMAT DATANG DI PELABUHAN TENGKAYU TARAKAN”

Aku sendiri sekarang sedang melangkah diatas jembatan yang panjangnya kira-kira 200 meter membentang kelaut.

Ya,ini Tarakan sebuah kota kecil diatas pulau yang dikelilingi lautan dan terletak didaerah pedalaman dikalimantan timur.

“Hallo,Sudah lama menungguku?”Aku mengangkat kepalaku dihadapanku berdiri sosok tinggi berkulit putih.Wandi.”Lumayan!”kataku tersenyum dan mengulurkan tangan.”Aku yang datangnya lebih cepat dari waktu yang aku perkirakan!”

“Bagaimana perjalanannya?”

“Melelahkan!!”

“Jam berapa kau dari Berau tadi?”Tanya wandi.Oh ya,Berau juga sebuah kota kecil dipedalaman kaltim yang jaraknya dari samarinda(Ibukota propensi)800 km.”Jam 9” jawabku.Ia melihat jamnya.”Ini jam 3..jadi,6 jam perjalanan.lama amat!”

“Aku tadi lama menunggu Speed boatnya disebrang sana tadi untuk ikut kesini”Aku menjelaskan.

“Ya sudah,ayo cepat kerumahku!”

Kami meninggalkan pelabuhan Tengkayu menuju rumah Wandi.Jujur,aku ingin cepat sampai dan membujurkan badanku.Tidur.

“Pelabuhan ini jauh sekali ketengah laut…”Terdengar suara yang begitu jauh “Lihat Elang itu,seperti berhasil menagkap ikan”

“Aku lebih tertarik pada kapal nelayan yang kecil dan seperti tertelan birunya laut…!”

Aku memejamkan mata.

“Jangan tidur dimobil aku malas membangunkanmu, sebentar lagi sampai kok!”Intruksi Wandi.”Oh ya,Kali ini apa tujuanmu datang kesini?”

“Memastikan sesuatu!”

***

“Aku bukan pertama kali datang kesini aku sudah lumayan hafal daerah ini!”kataku pada Wandi saat ia melarangku keluar sendirian.Khawatir aku tersesat.”Kalau begitu kau pakai saja motorku!”ujarnya.Tapi aku menolak dengan alasan ingin jalan kaki saja.

Sudah jam 8.30 malam tapi kendaraan masih ramai.aku berdiri didepan pom bensin jalan mulawarman.Aku menetapkan tujuan ke THM sebuah pusat keramaian diTarakan ini

Satu Taxi mendekat aku menyetopnya.

“Asli orang sini dik?”Tanya opir padaku saat aku sudah didalam mobil.

Aku menggeleng.”Bukan!”

“Dari mana?”

“Berau”

“Oh!”Ia menganggukkan kepalanya.

Aku menapap keluar kaca mobil mengawasi jalan sampai didepan Golden Hotel.Taxi yang kutumpangi berhenti aku turun disitu.Golden Hotol hotel yang bertingkat-tingkat tinggi.entah berapa tingkat.dan merupakan hotel termewah yang ada disini.

THM ramai seperti biasa.Aku berjalan santai.Menyilangkan tanganku didepan dada dengan erat.Ada rasa aneh yang masuk didadaku begitu dingin dan ngilu.Ada begitu banyak orang yang berseleweran dikiri dan kananku tapi,entah kenapa aku merasa sendirian.

Tapi,aku senang perasaan sendirian ini karena semua orang tampak sibuk dan tak mengenalku.Aku juga tidak mengenal mereka.Kadang aku lebih suka tidak ada yang tahu siapa aku sehingga ketika aku ingin memulai sesuatu semuanya lebih mudah.

Angin bertiup dingin aku merapatkan jaketku.

“Kalau aku tersesat disini apa kau akan mencari dan menemukanku?”

Sebuah suara yang terdengar begitu jauh yang tak asing lagi ditelingaku.Terbawa angin.

“Tentu akan kucari dan kutemukan!”

“Pasti sulit,Disinikan ramai sekali!”

“Kitakan bisa Telephati!”

“Kalau naluriku mati bagaimana?

“Ah gampang,orang jelek sepertimu pasti mudah ditemukan…Tinggal berteriak seperti ini….”

“OI SIAPA YANG ADA MELIHAT ALIEN JELEK BERITAHU AKU…!!!”

Lalu,terdengar suara tawa berkejaran.dan hilang ertiup angin.

Aku berdiri kaku.Ada rasa panas dimataku…perlahan aku mengusapnya sambil kemudian merapatkan jaketku aku bukan merasa dingin karena angin tapi ada dingin yang benar-benar sedang merayap dihatiku..dan terasa perih.

***

Wandi membangunkanku dengan kalimat.”Kapal Tidar berlabuh dipelabuhan Tengkayu.Kau ingin melihat kapal besar itu!”

“Apa sebesar Titanic”!Candaku sambil menguap.

“Yang jelas tidak sekecil kapal Teratai!”Balasnya menyebut kapal laut antar kota dikalimantan timur.

Kami berlari-lari dipelabuhan seperti para penumpang yang tidak mau ketinggalan kapal.Dari jauh terlihat lampu-lampunya yang warna-warni dan begitu gemerlap.

“Tujuannya kemana?”Tanyaku.

“Kesurabaya!”Jawab Wandi ”Aku mau ikut!”

Wandi meninju bahuku. ”Jangan mimpi!”Ujarnya.Aku monyong dan masih terkagum-kagum melihat kapal besar itu.

Setelah kapalnya berangkat kami berjalan santai menyusuri pelabukan dalam hati aku bertekad suatu hari nanti aku akan ikut dengan kapal itu menuju tempat yang jauh.

Aku menoleh kebelakang.

“Apakah langit malam dimanapun sama?”

“Entahlah.Kurasa tidak!’

“Apa yang paling kau inginkan didunia ini?”

Aku mendengar suaraku menjawab.Terdengar begitu Jauh,”Aku akan katakan kalau sudah aku temukan!”

“Eh,Aku belum mau pulang sebalum aku melihat 10 meteor malam ini!”

“Terserah kau yang jelas aku ingin pulang!”

“Jangan begitu donk!”

Aku menarik nafas suara yang jauh itu sudah menghilang terbawa angin.Aku menatap kedepan.

“Besok aku pulang!’

Wandi menghentikan langkahnya,”Kok mendadak?”

Aku diam tak menjawab.

“Sudah kau temukan apa yang aku cari?”

Aku tak punya jawaban atas pertanyaan itu.

***

Kalau beberapa hari yang lalu memandangi pintu masuk Tarakan.Hari ini aku justru membelakanginya.Aku berjalan santai menikmati terik panas sinar matahari jam 9 pagi.30 menit lagi Speed boat yang aku tumpangi berangkat.Aku masih punya waktu untuk menikmati suasans pelabuhan ini.

Aku menarik nafas dalam.Menundukkan Kepala.

“Langit!”

Kepalaku langsung tegak.Aku menghentikan langkah itu.Suara yang sangat aku kenal dan didunia ini hanya satu orang yang pernah memanggilku dengan panggilan seperti itu.Aku membalikkan badanku.

Sejenak aku ragu tapi kumantapkan.

“Scarlett!”Kaku.Ia berjalan mendekatiku.Menundukkan kepala.Sekarang jarak kami terpisah 5 langkah.

“Sudah mau kembali!”

Aku menggangguk.

“Kenapa selama disini kau tidak datang mencariku?”Ia bertanya.

“Apakah kau mau dicari?”Aku menelan ludah.tiba-tiba aku merasa tenggorokanku sakit.”Kau sudah berubah!”

Sunyi

“Kita sudah berubah!”Kata Scarlett pelan.Sangat pelan.Tapi,itu sangat bisa aku dengar.

Para penumpang Minsen Express harap segera berada diSpeedboat!”

Aku menarik nafas panjang Dan berkata lirih,”Didunia ini,ada banyak hal yang akan berubah dan mungkin suatu saat nanti…!”suaraku hilang aku tak bisa melanjutkan kata-kataku.

“…Kita menjadi bagian dari perubahan itu!”Scarlett melanjutkan kalimat yang tidak bisa aku delesaikan.

“Dan inilah saat itu!”Kataku.Aku memandanginya sekilas.Aku dapat melihat mata beningnya yang sendu.

“Good Bye!”Aku melangkah mundur.Membalikkan badan.Membelakanginya.

“Good Bye…!”Dengung suara yang begitu jauh.

“Panggilan terakhir.Para penumpang…..!!”

Aku melangkah lebar-lebar menuju speed boat.Aku merasa ada yang hilang,Ada yang tertinggal.Tapi,aku tak ingin mengambilnya kembali.Apa yang tertinggal akan aku tinggalkan dalam setiap langkahku kedepan.

Dan kini aku berlari.

Aku berada diatas Dek Speed boat.Angin bertiup kencang.Aku menatap dermaga.Scarlett masih berdiri disana,Aku ingin mengatakan sesuatu tapi aku paling tidak bisa merangkai kata perpisahan.Tapi,ada yang ingin kukatakan sejak dulu.

“Aku ingin bertemu langit lain didunia ini…itu yang paling aku inginkan.Aku sudah bertemu satu!”

Scarlett tersenyum menganggukkan kepala.Akupun menegakkan kepala dan tersenyum.Speedboat bertolak cepat dari dermaga membelah laut.Tarakan semakin terlihat jauh…Aku menarik nafas dalam dan menghempaskannya kuat-kuat.Aku merubah posisi.memutar tubuh.Membelakangi dari apa yang dari tadi aku lihat.Aku menatap kedepan.memejamkan mata.Menarik nafas pelan.dan tersenyum tipis.

“Farewell…”

***

Oktober 2004

By.Wind

…Spesial untuk lelaki langit…Pergilah yang jauh.

Selengkapnya...