Thursday, September 27, 2007

Langit Ramadhan 1928 H

Ini ramadhan ketiga aku jauh dari rumah, jauh dari serenade kampung. Ramadhan kali ini, aku seperti mati rasa, tidak terlalu merasakan apa-apa. Aku kadang bertanya-tanya sendiri, ini puasa hari keberapa? Aku bahkan belum ada menyentuh Qur’an yang masih rapi tertata di rak bukuku. Kepalaku belum ada meyentuh sajadah tahajud. Padahal dari langit, aku sudah melihat bulan yang tampak mulai utuh.

Dan aku belum ada remuk dalam doa dan pengakuan dosa-dosaku….

Kadang, disela-sela aktivitas harian, menonton TV atau membaca buku atau juga kuliah. Aku merasakan irama dalam hatiku, sakit dan teriris. Kadang aku meringis dan mengigit bibir, ingin mengis saja sejadi-jadinya walau sama sekali tida tahu apa sebabnya.

Kadang, aku kangen, rindu, masa-masa dimana aku merasa kalau aku sangat disayangi dan sangat disayangi Tuhanku, Allah SWT…

Aku rindu langit kampungku, rindu dengan langit yang bisa kulewati dengan keluargaku beserta semua permasalahan-permasalahannya. Aku ingat saat aku pulang terakhir kemarin, aku menemukan jawaban atas perkiraanku. Sebelumnya aku mengira cinta itu sudah sepi dalam hatiku atas Ibu, tapi saat aku bertemu dengan dia, melihat wajahnya, mencium tangan beliau berulang-ulang, aku jadi tahu cintaku masih ada disana, masih tetap dalam, sekalipun waktu telah berbeda, sekalipun Ibu dan juga aku sudah berubah. Tapi, sampai mati pun ada yang tidak akan bisa berubah yaitu darah yang mengalir didalam tubuh, juga cinta…

Aku rindu dengan kampungku, dimana dibawah langitnya ada teman-teman lawasku. Juga, saat pulang kemarin saat bertemu dengan mereka, aku tidak lagi banyak bicara seperti sebelum-sebelumnya, aku hanya banyak menatap mereka, merekam setiap wajah dan ekspresi mereka, aku takut lupa, aku tahu mereka adalah juga bagian diriku yang sangat berarti dalam setiap langkahku.

Langit ramadhan adalah masa dimana aku bisa merindukan banyak hal.

(Phase 138. Sept 27th, 2007/Ramadhan 1928 H. 08:29 pm)
Selengkapnya...

Wednesday, September 26, 2007

Latter Days

“tidak semua orang bisa merasakan kemewahan cinta…” (Pride And Prejudice)

Ya, tidak semua orang bisa merasakan kemewahan cinta, mungkin aku salah satu orang yang akan sangat sulit mendapatkannya, memang benar, aku akan sulit mengenali cinta, karena cinta itu kadang seperti Fatamorgana.

Sementara itu, aku sama sekali belum memutuskan kemana arah kisah cintaku. Aku belum benar-benar tahu apa yang aku inginkan apalagi sampai tahu apa yang akan aku dapatkan. Aku sama sekali tidak ingin di perbudak oleh keinginanku yang mana akan mengecewakan banyak orang. Aku ingin sesuatu yang “manis” yang mana apa yang aku harapkan sejalan yang orang lain harapkan dari aku.

Ada sesuatu yang aku simpan sendiri, sering kugelitik, kubisikkan, kutertawakan dan diwaktu yang lain aku tangisi. Sesuatu yang disimpan selamanya tidak akan mendapat kejelasan, begitu kata salah seorang teman, tapi bagiku tidak semua hal harus dijelaskan. Ada memang hal-hal itu yang lebih baik di diamkan saja dan bisa jadi ini salah satunya.

Katakanlah saja, aku sudah menyerah dengan kisah cintaku sendiri, dan akhrinya duduk diam layaknya Cinderella yang sedang menunggu datangnya sang pembawa sepatu kaca berhubung aku lelaki aku bisa jadi seperti cerita …apa ya, tidak ada cerita yang seperti ini yang pernah aku baca, semua lelaki tahu kisah cintanya dan bahkan mati dalam perjuangan kisah cintanya. Sementara aku, aku bahkan tidak tahu, apakah aku pernah memiliki cinta yang mewah dan di puja semua orang itu.

Aku ingin mencintai seperti apa yang ada didalam buku-buku yang pernah aku baca atau film-film yang aku tonton, aku ingin mencintai dalam ketulusan perasaan yang bisa membuat aku meledak, aku ingin mencintai dalam kesetiaan yang tertuang dalam derai nafas penghabisan, aku ingin mencintai dalam kelapangan seperti semua teka-teki dan pertanyaan telah terpecahkan, aku ingin mencintai dalam api yang tidak akan pernah bisa aku padamkan ataupun dalam samudra yang tidak pernah kekeringan…

Jika kehidupan adalah seperti bagian-bagian musim, mungkin aku tengah berada dalam musim panas dimana ranting-ranting pohon selalu bertanya kepada mendung kapankah hujan akan turun. Dan di penghujung musim, ada ranting yang masih mampu bertunas dan ada pula yang telah lapuk dan mengering, menjelma dalam ketiadaan yang menyedihkan. Kemudian hilang…
(Phase 137, Sept 26th, 2007/Ramadhan 1928 H. 08:47 pm)
Selengkapnya...

Patah

Aku telah mencintai dengan hatiku yang sangat rapuh, maafkanlah aku
Aku bahkan belum bisa memberikan seluruh air mataku
Aku hanya disini
Sendiri disini
Mencari batasku di sebuah cermin
Mengusik abu-ku dalam satu ruang panjang

Aku ingin menghentikan saja lalu menerima rasa kantuk dengan senang hati
Atau setidaknya, biarkan aku memiliki hati yang tidak remuk
Dan berembun

Tuhan
…aku tidak ingin memiliki kehilangan,
Iman dan keteguhan.

(Phase 135, sept 18th,2007/ramadhan 1928 H. 6:24 pm)
Selengkapnya...