Tuesday, July 17, 2007

"When A Man Speaks About His Damn Life"

"The world is a fine place and worth fighting for..."
- Ernest Hemingway (For Whom the Bell Tols)

It's Juhri, Yes, I'm human. worker at Coal Mining Company as Public Relations. and YES, I was a teacher. Selengkapnya...

Friday, July 13, 2007

Be Happy 01


A. Kamarnya kecil dan saya jadi diri sendiri…
B. Kamarnya kecil untuk saya jadi diri sendiri…
C. Kamarnya kecil makanya saya jadi diri sendiri…
Jadi ingat sama seseorang yang pernah bilang:
“Surga itu ada di tempat tersembunyi bernama diri sendiri…”
(From “Kuis”: Glenn Marsalin)

Ada satu hal yang sangat aku inginkan, dan ada satu hal yang sulit aku hindari… hal yang aku inginkan itu bisa terwujud jika aku bisa menghindari apa yang sulit aku hindari.. yang sangat aku inginkan itu adalah kebahagian dan hal yang sulit aku hindari itu adalah kebohongan.

Kebohongan tidak akan pernah ada dalam kebahagian sejati. Dengan kata lain, aku tidak akan menemukan kebahagian jika aku masih tidk bisa menghindari kebohongan… jika kemarin aku ribut dengan kalimat, “kebahagian itu adalah permainan pikiran manusia..” maka apa yang sekarang aku ributkan…? Mungkin sibuk bertanya apakah kebahagian itu nyata atau tidak.

Lalu apa jawabanku…?tidak perduli apakah kebahagian itu hanyalah permainan pikiran, tetapi menurutku kebahagian itu nyata, aku pernah hidup dan tinggal didalamnya sebelum semuanya hancur. Yang menghancurkan adalah fase, adalah proses dimana waktu tidak bisa berhenti, dimana waktu tidak bisa mentoleransi untuk orang menjadi sama selamanya seperti halnya kupu-kupu serkalipun mungkin bahagia menjadi ulat, waktu tetap akan mengubahnya untuk menjadi bentuk yang lain dan mencari kebahagian lain dalam bentuk yang lain pula…

Pondasi dari kebahagian adalah kejujuran dan awal dari kehancuran kebahagian adalah kebohongan.

Have you ever had this wish
Of being somewhere else
To let go of your disgueise
All your worries too
And from the moment
Than you see things clear
(Ost Twins: Disguese)

(Phase 121. July 12th, 2007. 08:38 pm)
Selengkapnya...

Wednesday, July 11, 2007

Behind The Times

*for all memories with you’re all my friend, love and my breathe

Tidak tahu apakah kau akan menyilangkan tanganmu
Didepan dada atau meluruskannya di sisi-sisi badanmu, tapi jika itu perjumpaan
Kita setelah enam tahun
Dan kita saling berhadapan, berpandangan
Setidaknya hari ini, aku masih mampu berkata seperti ini
Tepat di hadapanmu…

“akulah akumu yang dulu
Mengintipmu pada kesekian celah waktu, sampai kemudian mengerti
Aku bukanlah waktu yang bisa bergulir kembali kemudian berhenti…
Tapi, aku akulah akumu yang dulu…
Tapi, jika kau mau
Aku masih mampu berdiri…”

“…dihadapanmu dengan mengantongi waktu yang kulewati
Tanpa ada dirimu dalam saku celanaku
Yang bolong…”(July 6th, 2007)

(Phase 119. July 7th, 2007. 07:51 pm) Selengkapnya...

about the family

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?" "Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?" "Ah, enggak. Pengen tahu aja,yah""Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 5 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?"
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.
"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 5 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 80.000,- dong," katanya. "Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, "Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?" "Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.""Tapi, Ayah..." Kesabaran Rudi habis."Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,"Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih."
"Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama seminggu ini."
"Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut.
"Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. lima belas menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga.Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-.Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 80.000,-, maka lima belas menit harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah," kata Imron polos. Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.
diambil dari postingan "yudinamaku" di Forum INdosiar.
(tulisan ini mungkin akan sangat berharga kelak…)
Selengkapnya...

Wednesday, July 4, 2007

july 4th,2007

hal kadang yang bisa membuat kita sakit adalah saat kita sadar kalau kita hanyalah terselip diantara kebahagian orang lain yang sama sekali bukan milik kita...
----wind-dalam kecemburuan angin. Selengkapnya...