Saturday, June 30, 2007

Thursday, June 28, 2007

REMEDY




Setiap hari, itu merupakan suatu proses penyembuhan, proses pengobatan semua rasa sakit kita. Waktu memang mampu mengaburkan semuanya, menghilangkan berbagai macam batas-batas yang mulanya kita sangat perdulikan menjadi suatu hal yang kita acuhkan.



Sepertinya segala hal dalam hidup ini kebanyakan lahir dari anggapan. Sebenarnya, luka itu benar2 menjadi luka kalau kita menganggapnya itu suatu luka, tapi jika kita tidak menganggapnya luka, maka tidak akan pernah menjadi luka. Begitu juga misalkan anggapan kita mencintai seseorang sehingga lahirlah tindakan…padahal apakah kita benar2 yakin mencintai orang itu? Waktu itu juga suatu hal yang tidak nyata, kemudian ada kesepakatan untuk menetapkan hari, tahun, jam dan juga…anggapan2 kalau hari ini rabu, kamis dan lain2…tidak tahu lah, apa namanya…sepertinya semua lahir dari anggapan yang kemudian berlanjut pada tindakan…



Tapi, tetap saja jangan dianggap serius, ini cuman teori ngolor-ngidul orang yang ng bisa tidur…
Kembali kemasalah penyembuhan…



Aku pernah menanyakan pada beberapa orang, “bagaimana cara untuk melupakan seseorang…?” kemudian aku berbalik pada diriku sendiri. “memangnya aku tidak cukup pintar ya melakukan hal itu…?” halah…sebenarnya khusus masalah “melupakan” dan “dilupakan” aku tidak mau terlalu perduli. Itu suatu hal yang natural. Jadi kata itu bisa berjalan dengan sendirinya, hari ini bisa saja kita sepertinya kesulitan untuk melupakan hal A tapi bisa jadi besok ketika bertemu hal B, kita melupakan hal A dan disibukkan lagi dengan melupakan hal B…



Melupakan dan dilupakan itu merupakan rotasi, perputaran…jadi aku tidak pernah memang terlalu perduli, aku paling bisa menikmati rotasi kehidupan yang satu itu(dari puluhan ribu wajah yg pernah kutemui, belum tentu aku mampu mengingat diatas 10 wajah). Lucunya lagi, aku lebih mampu mengingat wajah artis2 yang paling kulihat di layar TV(yang running time penayangannya sekitar bulanan) daripada wajah temanku yang bersamaku selama tahunan….
Terus kenapa aku bertanya, “bagaimana cara melupakan seseorang…?” paling juga untuk tahu jawaban seseorang. Dan jika jujur, paling pada saat itu aku bingung dalam pengambilan keputusan. Tapi, saat aku kembali pada diriku sendiri yang sukanya mengatasi “masalah dengan masalah” wakak…kak…kak…!!! Pilihanku tetap sama seperti kemarin, “rotasi tuh, rotasi, biarkan saja lah, kalau sudah ng rotasi kiamat dong dunia…”



Bila jujur, aku sebenarnya ingin perduli dengan hal itu, hanya saja aku pernah mencobanya dan apa yang aku dapat? Menghabiskan banyak waktu doank…jadi, aku memilih dari pada bengong dan muntah dalam rotasi alias perputaran, aku nikmati aja lah sambil goyang2 lidah…kita semua tahu lah, kalau hidup terlalu kaku jelas gampang patahnya toh…



Saking bingungnya terhadap jalan hidupku sendiri, aku pernah bilang gini sama seseorang(dengan intonasi setengan putus asa), “kalau saja kita tidak pernah ketemu sebelumnya, kalau saja aku tidak pernah ketemu denganmu, dengannya sebelumnya…semua tidak akan seperti ini”



Setelah berkata itu, aku bengong sendiri, tambah bingung, “kira2 kalau aku tidak bertemu mereka, aku dimana ya sekarang…?jangan2 di alam kubur”hehehe…
Saat itu aku sadar, aku sudah menunjukkan kelemahanku dengan cara menggugat apa yang telah terjadi hanya untuk membicarakan kemungkinan yang bayangannya pun tidak ada sama sekali dalam kepalaku…
Tapi, itu manusiawi bukan…???



Kita kadang merasa kehidupan kita akan jadi lebih baik kalau saja masalah itu tidak datang pada kita sebelumnya, kalau saja luka itu tidak menorehkan sakitnya dalam hidup kita. Hhh…kita hanyalah manusia biasa, yang membuat kesalahan kemudian berusaha memikulnya dikemudian hari.



Kita berusaha memperbaiki kesalahan2 kita setiap harinya, berusaha mengobati semua luka akibat dari kesalahan2 kita. Sehingga, hari-hari menjadi rentetan sejarah yang panjang. Membentuk cerita yang tidak pernah bisa kita bayangkan sebelumnya. Yang tidak pernah kita kira sebelumnya…yang kadang tidak bisa kita pahami.



Kita merasa sakit, dan kita pula yang merasa sembuh…



Kita melukai diri kita, membuat diri kita menangis kemudian kita pula lah yang menertawakannya. Sepenuhnya, kita ada didalamnya, membentuk cerita2 hidup kita masing-masing yang maksimal hanya akan mirip dan tidak akan pernah sama. Kita sendiri, kita tidak akan pernah benar2 sama, Tuhan sudah melatih kita untuk mempertanggungkan segalanya semenjak kita hidup didunia, untuk akhir yang sendiri nanti diakhirat.


Untuk sebuah penyembuhan, tidak penting sesuatu itu manis atau pahit…itu hanyalah masalah rasa, kita hanya perlu mampu memaknainya, sebijaksana yang kita bisa…

(oh migrain, kapan kah kau bener “mati” dalam hidupku…)
Selengkapnya...

Monday, June 18, 2007

doNNa

Donna Donna (OST Gie)
Artist : Sita RSD

On a waggon bound for market
theres a calf with a mournful eye.
High above him theres a swallow,
winging swiftly through the sky.

Reff:
How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summers night.

Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.

Stop complaining!??? said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don't you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?

Repeat Reff

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom, l
ike the swallow has learned to fly.

note:
pertama kali denger lagu ini aku langsung suka, wajarlah kalo lagu ini di masukin dalam soundtrack film fenomenal kayak Gie. memang seh, lagunya melonkolis abis tapi maknanya itu loh dalam banget. slow tapi mengena...!!! Selengkapnya...

KoNAyuki

Semua terasa menjadi kian melelahkan, dan kau pun berteriak pada dirimu sendiri, “HEY KAU…BERSEMANGATLAH…!!!” dan kau mulai membangun banyak tembok-tembok kebohongan yang kau sendiri tidak paham untuk apa sebenarnya. Apakah semua itu dapat membuatmu lebih baik? Atau kah itu yang nantinya dapat menjebak dan mengurungmu dalam ruang-ruang yang malah bisa membuatmu sulit untuk bernafas. Yah, kau memang tidak pernah tahu…

“HEY KAU BERSEMANGATLAH…!!” (kau terus berteriak dan memohon)

Bukankah kau selama ini selalu bersemangat. Dan jika ada luka yang sangat mendalam, bukan kah kau selalu pergi diam-diam. kau, kau dan kau…kadang kala, kau tidak paham tentang siapa dirimu. Begitu licin sehingga sulit untuk di pahami, begitu vulgar dan memuakkan untuk bisa di mengerti. Memahamimu, seperti menempuh jalan ratusan mil, begitu melelahkan dan membingungkan. Kadang juga seperti naik komedi putar, memusingkan. Kau memang bisa mengerti dirimu, itu tetap saja tidak seutuhnya. Kadang kala, kau seperti tersesat didalam dirimu sendiri.

Kau bisa melihatnya…

Orang lain memang tidak terlalu mengerti, ruang gelapmu, ruang gelap yang mati-matian ingin kau terangi, ruang gelap yang coba kau pahami, ruang gelap tempatmu bersembunyi pada Tuhan(padahal kau sama sekali tidak pernah bisa), ruang gelap yang membuatmu tampak gelap, ruang gelap yang selalu kau tangisi.

Ya, kau kadang bisa memahami dirimu. Tentang semua rasa takutmu, tentang semua penyamaranmu. Kau bisa mengerti. Begitu juga tentang betapa besarnya perjuanganmu untuk bisa bertahan hidup, bertahan hingga sampai disini. Kau sangat mengerti. Kau sangat mengerti. Hanya saja…, kadang kau juga keterlaluan, ini tentang semua tembok kebohongan yang kau bangun untuk membuatmu tampak baik dimata orang lain, padahal itu sangat bertabrakan dengan kenyataan. Dan pada saat, tembok-tembok yang kau bangun itu hancur, kau pun akan ikut hancur.

Kau, kau paham tentang siapa dirimu…

Kehidupan memang sudah seperti dongeng, jadi kau tidak perlu mendongeng apa-apa lagi untuk semua kehidupan ini. Kau tahu, usahamu untuk menghibur dirimu juga orang lain tapi semua itu tidak akan bisa bertahan lama, sebab kau akan sampai juga di ujung jalan sepi. Yang tetap saja sulit kau pahami sehingga kau meragukannya.

Hidup ini panggung sandiwara, kalau sedang bersandiwara, kau tidak menjadi dirimu sendiri, kau bermain bagus dan menghibur penonton….dan itu, melukaimu. Saat kau berusaha tampak bermain bagus, kau memoles dirimu dengan kebohongan. Sementara orang terpesona dengan make up yang kau pakai dan saat dia menjumpaimu tanpa polesan apa-apa, mereka akan kecewa lalu menertawakanmu, maka hidupmu akan di penuhi luka.
Tapi, kau tahu itu sudah terjadi. Dalam kisah hidupmu, ada banyak penolakan juga luka. Kau mampu menutupi semua itu, sejauh ini, kau mampu berpura-pura untuk tidak perduli taruhannya adalah sekuat apa kau bisa bertahan dalam posisi itu…

Tapi, “kau”…apa pun dirimu, tidak ada yang salah. kau tidak akan menjadikan alasan kata “manusiawi” menjadi suatu tameng. Kau lebih berat pada penilaian akan usahamu mencari kebahagianmu sendiri. Usahamu untuk bisa bertahan, usahamu akan segala hal. Juga perjuanganmu itu…”kau”, apapun itu. Jika, kau bisa menyikapinya dalam sudut pandang yang benar, kau akan menjadi orang yang lebih bijaksana. Tidak ada yang perlu kau takutkan dalam hidup ini, semuanya hanya perlu kau pahami. Kau tahu, sekarang kau sangat ketakutan, takut sekali…ya…kau tidak punya satu pun alasan dan kalimat yang bisa mengusik rasa takutmu, akan nilai, akan banyak hal, tapi, kau ingat saja…apapun itu, kalau memang ingin terjadi, semua akan punya cara, akan menemukan cara untuk bisa terjadi… tarik saja nafasmu, dalam-dalam lalu lepaskan semua kekhawatiran dan ketakutanmu, “kau…”(Phase 110. June 14th, 2007. 08:22 pm)
Selengkapnya...

Monday, June 11, 2007

oNLy HumAN

Ini sangat sulit.

Kadang aku merasa kakiku terasa lemas dan sulit untuk di pijakkan. Dan tiba-tiba saja aku sulit bernafas. Bila sudah begitu, aku akan tertawa, walau kadang aku tidak tahu apa makna di balik tawaku. Hanya saja, semua terasa sangat menyakitkan. Aku seperti kehilangan arti dalam semua yang aku katakan bahkan dalam nafasku sendiri pun, aku merasa sulit untuk memahaminya.

Kadang, ada saat dimana sebuah sketsa wajah, hanya sebuah sketsa, yang tidak bisa kita sentuh hanya sebatas apa yang kita lihat dalam rentang waktu yang sangat jarang, tetap saja kita tidak bisa menghapusnya. Dalam hidup ini, ada hal-hal tertentu, yang menyentuh kulit kita dalam hanya seperti gesekan benang merah, kita sudah merasa sangat sulit untuk melupakannya.

Ya, ada banyak dalam pikiran kita, bahwa sebaiknya sesuatu itu tidak perlu datang saja, jika pada akhirnya kita sulit melupakannya.

Aku merasa sangat lelah, jika ini sebuah komedi putar, aku ingin segera turun. Kepalaku sudah terlampau pusing. Aku ingin muntah.

Tapi, seperti komedi putar ini tidak ingin berhenti, terus berputar dengan kencang, seperti ingin mengatakan bahwa aku tidak bisa turun begitu saja dan aku harus mampu melupakan bahwa semua sedang berputar dalam putaran yang memusingkan.

Seharusnya, apa yang menghampiri hanya sekilas juga bisa di lupakan dalam sekilas. Itu baru namanya adil. Tapi, semua memang berbeda dalam rumus kehidupan termasuk juga kata “adil” hidup punya rumusan sendiri yang kadang sangat sulit untuk di pahami.

Disini, aku hanya bisa menatap nanar pada sketsa gelapku. Apa yang bisa kutemukan? Apa yang bisa aku lihat? Hanya ruang kosong dan sepi seperti kemarin. Hanya ada sebuah bingkai kosong yang selalu tersenyum pada semuanya, sementara aku terus memandanginya dan bertanya-tanya siapa aku, dimana posisiku, dan apa mauku. Dan hanya pantulan sepi yang menjawab semua itu.

Kita memang tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi dan datang dalam hidup kita. Sekarang pun masih seperti itu, aku tidak tahu, butuh waktu sebanyak apa, butuh jarak selebar apa untuk aku bisa memunggungimu. Untuk hanya sekedar menghapus senyum yang ku lihat dulu dalam semua sisi dimataku. Dan aku juga tidak tahu, seberapa lama Tuhan menitipkan senyum dan tawa untukku.

Aku tidak tahu…

Hanya saja, saat itu kalau saja boleh, aku ingin menangis diam-diam dalam denyutan-denyutan yang paling gelap dalam kegelapan… (Phase 107. June 10th, 2007. 08:40 pm)
Selengkapnya...

Sunday, June 10, 2007

Fotografi-ku

















(hasil-hasil jepretan-ku dan jangan sama sekali berpikir aku pake lensa MACRO, karena dalam pengerjaannya ini murni pake lensa standar)
Fotografi Desain, aku sudah menghabiskan banyak uang untuk mata kuliah satu ini, kurasa “CENTRAL” tempat kami cuci cetak Foto, cina-nya amatlah senang dengan setiap kesalahan yang aku buat. Sebab, setiap kesalahan yang aku buat dalam setiap kali pemotretan artinya aku harus mengulang dan memulainya dari awal lagi. Tentu saja, tempat cuci cetak(yang katanya terbaik di Jogja) ini sangat senang dengan situasi semacam itu.

Sementara aku hanya bisa mengatakan pada diri sendiri, “ketololan yang mahal” atas semua kegagalan yang aku buat. Waduh, aku jadi pengen ketawa sendiri…!!
Selengkapnya...

catatan lepas


Kita hanya orang-orang yang tersesat, berusaha mencari arti dalam kesenangan. Rasanya, di garis batas antara akhir Mei dan awal Juni, kami melakukan perjalanan. Saat aku menulis ini, aku sudah lupa. Waktu kepulangan perjalanan singkat itu, aku terlalu lelah untuk menulis catatan singkatnya.

Kami punya kehidupan tapi kami melakukan sesuatu seakan-akan kami tidak punya kehidupan. Kami punya keyakinan(setidaknya aku seperti itu) tetapi, kami mencoba memposisikan diri pada apa yang orang lain sedang yakini.

Kami melintasi jalan tua Malioboro, duduk selayaknya “gembel” disana, kemudian di pertengahan malam(hal yang paling di takuti Cinderella) kami beranjak menuju alun-alun kota. Membahasakan mitos, bukan untuk di percayai atau pun di yakini hanya sekedar untuk dinikmati, di tertawakan mencoba menghilangkan penat yang masing-masing kami mempunyainya. Ada sebuah lapangan luas dengan rumput-rumput yang mengering kuning, dan di tengah lapangan itu, ada pohon beringin berdampingan. Ada kata, “kalau kita berjalan melintasi lapangan dengan menutup dan berhasil melewati di antara pohon beringin itu, maka keinginan kita terkabul”

Ada banyak orang yang mencobanya, aku juga.

Kami menutup mata, berjalan saja. Dan yang aku coba tebak adalah, diantara semua orang di sana, saat memulai langkahnya(dengan mata terpejam) mereka berjalan pasti dan yakin tapi di pertengahan atau dititik-titik tertentu, mereka mulai terlihat ragu. Dan keraguan membuat manusia tampak idiot. Aku juga begitu, “sesuatu yang tampak mudah di lihat mata belum tentu sama mudahnya saat kita memejamkan mata”

Itulah pelajaran yang aku dapatkan disana, sebab awal aku menatap dua pohon beringin dengan jarak kurang lebih 80 meter di hadapanku, aku berkata, “kelihatanya gampang!”

Tiga kali aku mencoba jujur, aku tidak berhasil. Dua kali aku mencoba dengan kebohongan hanya satu kali yang berhasil.

Ada banyak lagi cerita dari perjalanan orang-orang tolol ini. Sementara aku hanya sibuk berbisik, “Jogja, Jogja!” sambil menatap langit malam yang pucat, langit tampak begitu rendah di Jogja, dan ini sangat berbeda, aku menyadarinya semenjak sekitar 8 bulan yang lalu bahwa langit Jogja terlihat begitu rendah dan dekat di garis mataku, aku sangat yakin dengan hal itu.
Pada saat itu, aku bahkan tidak tahu kalau dalam hitungan tidak sampai satu bulan, aku berada dalam ruang yang luluh lantak, hancur berantakan.
Selengkapnya...