Wednesday, June 4, 2014

Just Go

Hey, If you think Africa can fix your heart, you should go there. If you think Mecca can bring you peace, you should go there. If you think you can find love in Kabul, you should go there. If you think home's your happiness, you should stay there...

Selengkapnya...

Monday, June 2, 2014

Vurnerable

Sepotong Angin bertemu dengan seorang pengembara di jalan ramai kota New York pada musim dingin. Sepotong Angin ini menjual potongan musim semi. "Halo pengembara tampan" katanya penuh dengan godaan. "Aku punya musim semi yang baru, aku yakin kamu pasti suka!" si Pengembara terpesona dengan lembutnya Sepotong Angin dan musim semi yang ditawarkannya. "Baiklah" katanya. "Bawalah potongan musim semi itu pada saat bintang bersinar di hamparan padang rumput dibelakang bukit tempat para dewi bersembunyi. Aku akan membelinya"

Bintang bersinar terang kala itu, Sepotong Angin datang ketempat perjanjian dengan mengendarai iring-iringan awan. si Pengembara sudah ada disana. Mereka bertukar musim semi dengan kepingan logam. "Kau tahu" ujar si sepotong angin, "aku melihatmu, tertawa. tapi kenapa kamu terlihat sedih? kau sudah memiliki musim semi" si penggambara diam. sepotong angin tidak bisa berhenti, "kenapa?"

Si Pengembara memandangi iring-iringan awan yang dibawa sepotong angin, "akan ada badai" kata si Pengembara dalam hati. "Aku tidak tahu" menjawab sepotong angin, si pengembara menarik nafasnya sejenak, "mungkin saat aku berhenti membeli musim semi kita akan tahu."

Sepotong angin berkata bahwa dia akan pergi ke utara, dan si pengembara akan pergi ke selatan. si Pengembara ingin menahan Sepotong Angin yang berhembus lembut, tapi dia tahu, akan ada badai jika dia menahannya. badai yang dapat menghancurkannya kembali menyisakan lubang menganga karena hasrat yang tidak bijaksana.

Meninggalkan si Pengembara yang vurnerable, Sepotong Angin tersenyum. Ah aku punya 4 musim katanya dalam hati, aku tidak membutuhkan pengembara di musim-musimku.

Membenarkan letak tas di pundaknya, malam akan berakhir batin si Pengembara, dia menulis kertas kecil untuk dia selipkan sebagai catatan ;

"Kadang, ada hal manis yang tidak bisa bertahan, mungkin karena belum pernah teruji  atau memang tidak ada jalan untuk di uji dalam  dengan kepahitan..."

Selengkapnya...

When in Jakarta

"Why are all nicest things already taken?" I asked my self that. the answers may vary. I think maybe it's because, in my position, I, maybe, too late realize what I want. for example, I saw a T-shirt and then I looked away when I'm back to take it that shirt, too bad the T-shirt's already gone.

I'm still thinking about it and in the same night, someone's coming... knock my door and then broke my heart.

------------
 
Selengkapnya...

Saturday, May 17, 2014

Where Does the Good Go?

Menikah bukan sebuah momok yang berat dan membebani bagi saya. saya lelaki sederhana, yang tidak membayangkan sebuah pernikahan yang agung dengan pasangan yang luar biasa. Yang ada dalam pikiran saya adalah, jika saya menikah, katakan lah dalam waktu dekat, maka saya akan bahagia. Semua pertualangan saya sebagai lelaki bujang akan selesai dan memasuki kehidupan sebagai lelaki yang berkeluarga.

Hanya saja, ketika nanti hidup berkeluarga saya menghantam titik yang paling bawah, yang saya khawatirkan adalah, saya menyesali sesuatu yang tidak saya selesaikan, tidak saya perjuangan maksimal dibatas kemampuan saya.


Tapi bisa jadi, kalaupun itu terjadi, ada hal lain yang menutupi semua penyesalan saya, anak mungkin. kehidupan berkeluarga yang indah mungkin.

Diam-diam, saya khawatir, bahwa saya tidak akan bisa beristirahat dengan tenang, jika saya tidak mendapatkan apa yang saya perjuangkan 4 tahun lalu. Ketika saya menyusuri ruang mimpi saya, ketika saya berkeinginan untuk kuliah keluarga negeri.

Hey, apakah nanti kuliah diluar negeri saya akan memiliki kehidupan yang lebih baik? saya akan menjadi pribadi yang lebih baik? ah pintar sekali pertanyaan ini.

Tentu saya tidak tahu.

Saya percaya, apapun yang terjadi, itu sudah tertuliskan. Kita sebagai manusia, hanya bisa ngotot dalam berusaha. Ketika itu sudah maksimal, apapun hasilnya, itu sudah dituliskan. di tahap ini, saya adalah lelaki yang tidak suka memaksakan sesuatu. Saya tidak pernah memaksa mengejar jabatan, saya tidak pernah memaksa mengejar karir, saya tidak pernah memaksa untuk dicintai orang. saya adalah lelaki biasa, dengan mimpi yang semua tentang saya. tidak berambisi mengubah dunia atau lingkungan saya.

Kadang-kadang, ada sesuatu harapan dan mimpi kita yang bertahan selamanya, menjadi bagian dari kita. Saya suka tidak percaya dengan pola signature saya diatas kertas. sesuatu yang lucu, yang saya mulai ketika saya duduk dikelas 1 SMA. Saya belum tahu apakah saya akan mengubahnya nanti, karena akhirnya itu menjadi bagian dari diri saya.

Selengkapnya...

Monday, May 5, 2014

Deru

Ketika kita mendengar kabar buruk, ada dua kemungkinan, kita bersikap denial tidak perduli atau eksplosif. Saya mendengar kabar buruk, saya mengatakan kediri saya sendiri kalau saya tidak peduli. Saya tidak mau tahu, saya sudah cukup selama ini, dan kali ini saya tidak mau tahu. Saya marah. Saya menyalahkan Ibu, kenapa Ibu selalu sakit? Lagi dan lagi. Kenapa Ibu tidak menerapkan pola hidup sehat? Kenapa Ibu tidak belajar untuk menghargai diri sendiri dan mengesampingkan segala omong kosong dirumah tempat Ibu tinggal? Saya marah. Saya tidak peduli. Ada banyak saudara saya yang bisa mengurusnya. Kabar itu datang dimalam hari. Setelah saya mengirimkan pesan singkat ke saudara lelaki saya, saya mematikan handphone saya. Saya tidur.

Menjelang pagi, saya mendapat pesan singkat, Ibu saya dilarikan kerumah sakit. Saya kembali telpon Kakak saya, suara dia terdengar lelah tapi dia memberi kabar Ibu sudah mulai membaik. Saya tidak terlalu mendengarkan, saya mengikuti acara ceremonial kantor. Saya tertawa, saya tersenyum, saya bergaya, saya makan siang dengan teman saya. Hari saya normal dan biasa. Tidak ada apa-apa.

Pulang ke kantor, saya bercanda dengan teman-teman kerja saya. Saya tertawa, saya tersenyum, saya membicarakan rencana-rencana dan program. Bos saya mengingatkan kalau saya harus membuar Workplan Q2. Deadline-nya sore hari. Oke kata saya. Saya membuka matrikulasi workplan. Saya mengetik kalimat-kalimat, rangkaian program yang akan saya kerjakan dibulan-bulan berikutnya. Saya merasa haus, saya ke pantry, saya berulang-ulang kali membuat kopi. Dada saya terasa berat.

Saya tidak bisa melanjutkan apa yang saya ketik di komputer saya, saya tidak tahu rangkaian apa yang ingin saya tuliskan di workplan saya. Saya keluar ruangan, menelpon Kakak saya lagi, bertanya siapa yang dirumah sakit. Dia bilang kakak perempuan saya sedang bersama Ibu. Saya bertanya kemungkinan dia keluar dari rumah sakit, besok kata kakak saya. Saya teringat rencana liburan mama dengan saudara-saudari saya 4 hari dari sekarang. Saya bingung tentang tiket yang sudah saya beli. Dada saya terasa berat. Saya menanyakan ruangan tempat Ibu dirawat inap, Ruang Dahlia kata kakak saya.

Saya mencari nomor telp di kontak HP saya, saya menelpon teman saya, berharap dia lagi bertugas dirumah sakit tempat Ibu saya dirawat. Hampir setahun saya tidak menghubungi dia, kami sejarah panjang. Saya mengatakan saya butuh pertolongan dia untuk dapat menge-check kondisi Ibu saya. Saya selalu percaya padanya. Dia berkata dia sedang off tidak bertugas, dia akan masuk esok hari. Dia menanyakan nama Ibu saya. Kemudian beberapa menit kemudian, dia mengirimi saya pesan singkat mengenai penyakit Ibu saya yang ada gangguan lambung sehingga sel darah putih dia meningkat dan gula darahnya agak tinggi. Gangguan lambung katanya, penyebabnya diantaranya pola makan, infeksi virus, bisa juga tumor dilambung katanya. Mengingat usia Ibu kamu, katanya, juga perlu waspada ada penyakit jantung yang bermanifestasi dengan gangguan lambung. Pastinya, butuh pemeriksanaan lebih lanjut dan menyeluruh.

Tahap ini, ada yang terasa berat dan kosong dalam rongga dada saya. Saya tidak tahu, saya ingin menangis. Saya tidak tahu, saya merasa tidak memiliki tenaga apa-apa. Berulang-ulang saya katakan, bahwa saya tidak mau mengingatnya.

Berulang-ulang saya katakan, hari saya normal. Berulang-ulang saya katakan, bahwa saya tidak peduli. Dan saya tidak ingin kerumah sakit, bahwa saya tidak berani. Saya takut, saya tidak berani.

Memiliki 5 saudara laki-laki dan saya adalah yang terakhir, bungsu. Dulu saya beranggapan bahwa saya lah yang paling kuat, tough diantara semua semua saudara-saudara lelaki saya. Tetapi, saya hanyalah bungsu manja yang tidak tahu apa-apa. Saya selalu lari dan menghindar ketika harus berhadapan dengan hal keluarga. Saya penakut dan selalu bersembunyi. Saya tahu, keluargalah yang paling gampang mematahkan hati saya.

Saya sudah cukup tua, saya tahu kepedihan hidup, saya tahu bagaimana belajar untuk tegar dan menerima. Tetapi saya sangat tidak pintar dalam melepaskan sesuatu. Ibu saya adalah langit yang menaungi saya, bumi tempat saya berpijak. Jika terjadi apa-apa pada Ibu, saya takut saya belum siap, saya akan dihantui kehampaan yang mengambang.

Saya ingin bercerita banyak, saya ingin jujur.
Selengkapnya...