Monday, July 28, 2014

Ketika Lebaran

Mungkin pengaruh usia, setidak hanya usia yang mungkin bisa dipersalahkan dalam hal ini, atau kedewasaan saya yang tidak ada nilai tambahannya.

Lebaran kali ini, saya datang kerumah keluarga, mungkin tidak sampai 5 menit, tersenyum melihat polah ponakan, saya pulang, tanpa banyak kata-kata. kenapa? saya tidak betah, selalu tidak betah dalam acara kumpul-kumpul keluarga. sangat tidak membuat saya nyaman, saya tidak mengkritik kepribadiaan saudara-saudara saya, saya tidak betah, rumah itu tidak bisa membuat saya betah dan bertahan.

Lapar dan pulang, saya kembali kerumah yang saya sebut 'rumah saya'

Ingat ketika saya berargumentasi dengan saudara saya, "lelaki" saya katakan, "saat dia sudah bisa mandiri, jangan berkumpul dibawah ketiak orang tuanya"

Oh orang tua saya sangat senang, akan sangat senang saya tinggal bersama dengan mereka. saudara-saudara saya juga. mereka diam dengan pilihan saya yang tinggal sendirian, tidak pernah minta kunjungi, singkat kata, saya tidak terlalu membuka kehidupan saya diluar sana. Cerita bohong lah saya katakan kemereka, kebenaran saya simpan sendiri. mereka diam, mungkin mereka punya opini dibelakang saya, tapi tidak ada yang pernah mengatakan pendapat mereka di depan saya.

Saat saya pertama kali keluar rumah, kuliah di Jawa. Saya sudah tidak pernah kembali, pada bagian itu saya sudah melakukan transformasi sepenuhnya.

Lapar, saya kembali ke rumah yang saya sebut tempat tinggal saya.

Enggan namu kerumah teman kerja atau apapun, enggan namu, toh saya sudah broadcast pesan.

Ego saya berkata, kalau keluarga, mereka akan selalu menerima saya, saat saya ingin kembali. selama ini saya tidak pernah menyakiti mereka, saya hanya menghindar. Ego saya berkata, saya akan selalu mengikuti cara yang menurut saya ingin saya lakukan tanpa ada paksaan. jika hari lebaran yang terbaik adalah tidur, maka saya akan tidur seharian.

Saya tidak pandai menghadapi keluarga, mungkin nantinya saya juga tidak pandai berkomitmen dalam keluarga. saya belum tahu.

Selesai menulis di blog ini, saya akan mandi, berjalan ke parkiran, dan berdoa, semoga warung coto makassar fatimah buka. saya akan bertamu disana.



Selengkapnya...

Wednesday, June 4, 2014

Just Go

Hey, If you think Africa can fix your heart, you should go there. If you think Mecca can bring you peace, you should go there. If you think you can find love in Kabul, you should go there. If you think home's your happiness, you should stay there...

Selengkapnya...

Monday, June 2, 2014

Vurnerable

Sepotong Angin bertemu dengan seorang pengembara di jalan ramai kota New York pada musim dingin. Sepotong Angin ini menjual potongan musim semi. "Halo pengembara tampan" katanya penuh dengan godaan. "Aku punya musim semi yang baru, aku yakin kamu pasti suka!" si Pengembara terpesona dengan lembutnya Sepotong Angin dan musim semi yang ditawarkannya. "Baiklah" katanya. "Bawalah potongan musim semi itu pada saat bintang bersinar di hamparan padang rumput dibelakang bukit tempat para dewi bersembunyi. Aku akan membelinya"

Bintang bersinar terang kala itu, Sepotong Angin datang ketempat perjanjian dengan mengendarai iring-iringan awan. si Pengembara sudah ada disana. Mereka bertukar musim semi dengan kepingan logam. "Kau tahu" ujar si sepotong angin, "aku melihatmu, tertawa. tapi kenapa kamu terlihat sedih? kau sudah memiliki musim semi" si penggambara diam. sepotong angin tidak bisa berhenti, "kenapa?"

Si Pengembara memandangi iring-iringan awan yang dibawa sepotong angin, "akan ada badai" kata si Pengembara dalam hati. "Aku tidak tahu" menjawab sepotong angin, si pengembara menarik nafasnya sejenak, "mungkin saat aku berhenti membeli musim semi kita akan tahu."

Sepotong angin berkata bahwa dia akan pergi ke utara, dan si pengembara akan pergi ke selatan. si Pengembara ingin menahan Sepotong Angin yang berhembus lembut, tapi dia tahu, akan ada badai jika dia menahannya. badai yang dapat menghancurkannya kembali menyisakan lubang menganga karena hasrat yang tidak bijaksana.

Meninggalkan si Pengembara yang vurnerable, Sepotong Angin tersenyum. Ah aku punya 4 musim katanya dalam hati, aku tidak membutuhkan pengembara di musim-musimku.

Membenarkan letak tas di pundaknya, malam akan berakhir batin si Pengembara, dia menulis kertas kecil untuk dia selipkan sebagai catatan ;

"Kadang, ada hal manis yang tidak bisa bertahan, mungkin karena belum pernah teruji  atau memang tidak ada jalan untuk di uji dalam  dengan kepahitan..."

Selengkapnya...

When in Jakarta

"Why are all nicest things already taken?" I asked my self that. the answers may vary. I think maybe it's because, in my position, I, maybe, too late realize what I want. for example, I saw a T-shirt and then I looked away when I'm back to take it that shirt, too bad the T-shirt's already gone.

I'm still thinking about it and in the same night, someone's coming... knock my door and then broke my heart.

------------
 
Selengkapnya...

Saturday, May 17, 2014

Where Does the Good Go?

Menikah bukan sebuah momok yang berat dan membebani bagi saya. saya lelaki sederhana, yang tidak membayangkan sebuah pernikahan yang agung dengan pasangan yang luar biasa. Yang ada dalam pikiran saya adalah, jika saya menikah, katakan lah dalam waktu dekat, maka saya akan bahagia. Semua pertualangan saya sebagai lelaki bujang akan selesai dan memasuki kehidupan sebagai lelaki yang berkeluarga.

Hanya saja, ketika nanti hidup berkeluarga saya menghantam titik yang paling bawah, yang saya khawatirkan adalah, saya menyesali sesuatu yang tidak saya selesaikan, tidak saya perjuangan maksimal dibatas kemampuan saya.


Tapi bisa jadi, kalaupun itu terjadi, ada hal lain yang menutupi semua penyesalan saya, anak mungkin. kehidupan berkeluarga yang indah mungkin.

Diam-diam, saya khawatir, bahwa saya tidak akan bisa beristirahat dengan tenang, jika saya tidak mendapatkan apa yang saya perjuangkan 4 tahun lalu. Ketika saya menyusuri ruang mimpi saya, ketika saya berkeinginan untuk kuliah keluarga negeri.

Hey, apakah nanti kuliah diluar negeri saya akan memiliki kehidupan yang lebih baik? saya akan menjadi pribadi yang lebih baik? ah pintar sekali pertanyaan ini.

Tentu saya tidak tahu.

Saya percaya, apapun yang terjadi, itu sudah tertuliskan. Kita sebagai manusia, hanya bisa ngotot dalam berusaha. Ketika itu sudah maksimal, apapun hasilnya, itu sudah dituliskan. di tahap ini, saya adalah lelaki yang tidak suka memaksakan sesuatu. Saya tidak pernah memaksa mengejar jabatan, saya tidak pernah memaksa mengejar karir, saya tidak pernah memaksa untuk dicintai orang. saya adalah lelaki biasa, dengan mimpi yang semua tentang saya. tidak berambisi mengubah dunia atau lingkungan saya.

Kadang-kadang, ada sesuatu harapan dan mimpi kita yang bertahan selamanya, menjadi bagian dari kita. Saya suka tidak percaya dengan pola signature saya diatas kertas. sesuatu yang lucu, yang saya mulai ketika saya duduk dikelas 1 SMA. Saya belum tahu apakah saya akan mengubahnya nanti, karena akhirnya itu menjadi bagian dari diri saya.

Selengkapnya...