Saturday, July 25, 2015

Begin Again

Kisah hari ini,

Sudah berapa kali 'delete' kemudian 'recovery' kemudian 'delete' lagi. Tetapi kali ini, mudah-mudahan sudah terhapus tanpa ada recovery atau 'chance' atau mencari 'chance'

Tarik nafas dalam-dalam,

Apa dua atau tiga tahun, lupa persisnya. Sekarang sudah ada diberi peluang untuk memulai yang baru dan meninggalkan semua hal yang sangat pantas ditinggalkan.

Ini sebuah keharusan.


Selengkapnya...

Wednesday, December 31, 2014

2014

2014 : The lack of ability to close things down emotionally is just exhausting.
I wrote that on my FB today.

December 31st, 2014

Metode berjalan sukses, saat A bertanya saya kemana untuk merayakan tahun baru, saya jawab saya ke B. Saat B bertanya, singkat saya menjawab A

Sendirian dirumah, menonton TV atau film ada perayaan akhir tahun yang sempurna untuk saya saat ini, saya pikir begitu.

Ada beberapa hal yang berputar-putar dalam kepala saya. Pribadi saya adalah tipe ketika saya ingin sesuatu, sekalipun saya ingin stop, otak saya tidak akan berhenti mengejarnya.

Esok hari, saya harus memulai ini dan itu, saya pikir. Lucu ketika saya berhenti dan memikirkan Oxford, Edenburgh, Glasgow, hingga New York.

2014 dimulai kisah saya ke Jepang di musim semi, kemudian mengejar musim panas di Turkey dan berakhir di musim hujan di Bandung untuk interview beasiswa ke Inggris, dan ditutup result :

"Oh God, I couldnt find my name on the lists"

A failure

... Exhausting things

However, lessons learned. Sometimes things went wrong or go to another direction.

And let's try again in 2015



Selengkapnya...

Thursday, October 9, 2014

Rest

Malam sebelumnya, melalui media sosial online, saya memandangi foto kamu. lama sekali. antara kangen, merasa kalah dan menyerah. Mengingat kembali hari-hari dimana saya pikir, saya bisa memenangkanmu seutuhnya. Mengingat berapa banyak pintu tertutup karena kesalahan saya dalam menanggapi beberapa hal. dan malam sebelumnya, sambil memandangi wajah kamu di foto yang penuh senyuman. saya ikut tersenyum.

Malam ini, empat meter jaraknya, saya melihat kamu, saya menundukkan kepala, dan saya kita bertemu mata, saya tidak terlalu mendengar kamu mengatakan apa, saya hanya bisa bersapa pendek, "ah, halo" sambil berlalu.

Malam ini adalah malam, dimana saya menunggu kesempatan bertemu dengan kamu, merancang banyak drama, ketika bertemu, saya akan memandangimu dengan tatapan penuh makna, memberi senyuman terbaik yang menyampaikan cerita bahwa kamu masih selalu disana, selalu dihati saya, saya akan selalu jadi lelaki milikmu, pria yang selalu merindukanmu.

"Ah, halo"

Dalam email-email saya, ketika saya sulit menggapai kamu, penuh berisikan kata pengharapan, kata yang masih ingin dan selalu mempertahankan kamu.

Saya banyak membaca buku-buku romantis, menonton film-film drama romantis, tapi saya tidak dibesarkan dan menjadi tua dengan kata-kata romantis. Sesaat saya melihat kamu, saya teringat apa yang kamu inginkan, apa yang kamu sampaikan, semua hal rumit yang ada dalam kepala saya menjadi uraikan logis, dan hati melepaskan kepahitan, sehingga terasa lapang.

Di titik ini, saya tidak ada mengatakan apa-apa lagi, karena saya tidak ingin ada pembicaraan yang akan berakhir pada pengharapan dan penolakan. Kamu sudah memilih, saya sudah memilih untuk tidak memperlihatkan lagi permohonan dan pengharapan.

Mari kita berjuang untuk bisa bahagia dijalan kita masing-masing.

Tuhan yang baik, mengirimkan penggantimu berupa mimpi yang lain, mimpi yang lugu, yang selalu saya cita-citakan.

Selengkapnya...

Monday, July 28, 2014

Ketika Lebaran

Mungkin pengaruh usia, setidak hanya usia yang mungkin bisa dipersalahkan dalam hal ini, atau kedewasaan saya yang tidak ada nilai tambahannya.

Lebaran kali ini, saya datang kerumah keluarga, mungkin tidak sampai 5 menit, tersenyum melihat polah ponakan, saya pulang, tanpa banyak kata-kata. kenapa? saya tidak betah, selalu tidak betah dalam acara kumpul-kumpul keluarga. sangat tidak membuat saya nyaman, saya tidak mengkritik kepribadiaan saudara-saudara saya, saya tidak betah, rumah itu tidak bisa membuat saya betah dan bertahan.

Lapar dan pulang, saya kembali kerumah yang saya sebut 'rumah saya'

Ingat ketika saya berargumentasi dengan saudara saya, "lelaki" saya katakan, "saat dia sudah bisa mandiri, jangan berkumpul dibawah ketiak orang tuanya"

Oh orang tua saya sangat senang, akan sangat senang saya tinggal bersama dengan mereka. saudara-saudara saya juga. mereka diam dengan pilihan saya yang tinggal sendirian, tidak pernah minta kunjungi, singkat kata, saya tidak terlalu membuka kehidupan saya diluar sana. Cerita bohong lah saya katakan kemereka, kebenaran saya simpan sendiri. mereka diam, mungkin mereka punya opini dibelakang saya, tapi tidak ada yang pernah mengatakan pendapat mereka di depan saya.

Saat saya pertama kali keluar rumah, kuliah di Jawa. Saya sudah tidak pernah kembali, pada bagian itu saya sudah melakukan transformasi sepenuhnya.

Lapar, saya kembali ke rumah yang saya sebut tempat tinggal saya.

Enggan namu kerumah teman kerja atau apapun, enggan namu, toh saya sudah broadcast pesan.

Ego saya berkata, kalau keluarga, mereka akan selalu menerima saya, saat saya ingin kembali. selama ini saya tidak pernah menyakiti mereka, saya hanya menghindar. Ego saya berkata, saya akan selalu mengikuti cara yang menurut saya ingin saya lakukan tanpa ada paksaan. jika hari lebaran yang terbaik adalah tidur, maka saya akan tidur seharian.

Saya tidak pandai menghadapi keluarga, mungkin nantinya saya juga tidak pandai berkomitmen dalam keluarga. saya belum tahu.

Selesai menulis di blog ini, saya akan mandi, berjalan ke parkiran, dan berdoa, semoga warung coto makassar fatimah buka. saya akan bertamu disana.



Selengkapnya...

Wednesday, June 4, 2014

Just Go

Hey, If you think Africa can fix your heart, you should go there. If you think Mecca can bring you peace, you should go there. If you think you can find love in Kabul, you should go there. If you think home's your happiness, you should stay there...

Selengkapnya...